Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Terkadang Allah memperlihatkan akan engkau atas gaibnya alam malakut dan Allah mendinding engkau dari mengetahui rahasia-rahasia hamba-Nya.”
Hikmah ke-155 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, menurut sebagian ulama ada beberapa alam, yaitu pertama alam mulki wa as-syahadah yakni alam yang diketahui oleh kita dan malaikat, kedua alam malakut yakni alam yang diketahui oleh malaikat dan sebagian manusia yang dikehendaki oleh Allah, ketiga adalah alam jabarut yang hanya diketahui oleh Allah Swt.
Terkadang Allah memuliakan hamba-Nya dengan diperlihatkan alam malakut itu. Alam malakut itu seperti baitu al-izzah yang ada di langit pertama, yang mengetahui hanya Allah, para malaikat dan manusia yang dikehendaki oleh Allah.
Menurut riwayatnya Alquran Al-Karim diturunkan dari lauh al-mahfuz ke baitu al-izzah secara sempurna, namun diturunkan dari baitu al-izzah kepada Rasulullah Saw bertahap selama 23 tahun.
Ada yang disebut dengan baitu al-ma’mur di langit ke tujuh, ada lauh al-mahfuz ada di atas dari langit ke tujuh.
Lauh al-mahfuz adalah kumpulan seluruh data alam semesta ini. Di situ kumpulan segala yang ditakdirkan Allah tidak ada yang luput dari catatan yang ada di lauh al-mahfuz itu.
Banyak para wali Allah yang diberikan Allah kelebihan bisa melihat lauh al-mahfuz. Seperti perkataan Syekh Abdullah Al-Karani
“Aku telah diperlihatkan oleh Allah sesuatu di langit yang tujuh dan lauh al-mahfuz.”
Imam Asy-Sya’rani berkata, berkata Syekh Zakir: “Aku tidak mengambil baiat kepada seorang murid sehingga aku melihat dulu adakah namanya di lauh al-mahfuz bahwa dia murid atau bukan muridku.”
Imam Asy-Syadzili berkata: “Allah telah memperlihatkan al-lauhu al-mahfuz kepadaku. Seandainya bukan karena adabku terhadap kakekku, Rasulullah SAW, niscaya aku akan berkata: Orang ini ahli surga (beruntung) dan orang ini ahli neraka (celaka).”
Karena di dalam lauh al-mahfuz ada seluruhnya tentang keadaan kita baik itu masa lalu, sekarang dan yang akan datang, baik di dunia ataupun di akhirat kelak.
Lauh al-mahfuz adalah bagian dari alam malakut dan alam malakut tidak bisa dijangkau oleh orang biasa kecuali orang tertentu yang diberikan keistimewaan oleh Allah Swt.
Terkadang Allah memuliakan engkau dengan memperlihatkan alam malakut (surga, neraka dan lainnya). Tetapi keistimewaan itu tidak menjamin engkau bisa melihat apa yang ada di dalam hati seorang manusia.
Kenapa Allah tidak memperlihatkan rahasia-rahasia yang ada di dalam hati seorang hamba itu? Karena Allah sayang dengan hamba. Walaupun sudah bisa melihat lauh al-mahfuz, tetapi karena kasih sayang Allah, tidak bisa melihat rahasia yang ada di dalam hati orang lain.
Jika kita dibukakan oleh Allah hati seseorang dan di dalamnya banyak maksiat hati, maka kita bisa benci, menjauh dan menyebut kejahatannya. Maka itulah alasan Allah Swt mendinding seseorang untuk mengetahui isi hati orang lain karena dikhawatirkan demikian.
Sehingga banyak di antara wali Allah yang ditipu orang lain, apakah beliau tidak mengetahui? Ya, karena tidak hubungannya dengan tahu isi hati orang dengan kewalian.
Seperti cerita Rasulullah, ada satu kabilah yang datang kepada Rasul dan berniat jahat, mereka berpura-pura masuk Islam. Rasulullah dengan kebijaksanaan beliau memberikan tempat tinggal di ujung kota Madinah, tepatnya di peternakan Rasul. Ternyata berjalannya waktu, mereka mencuri ternak dengan membunuh penggembalanya.
Bisa saja seseorang mengetahui isi hati orang lain, namun hal itu tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang wali Allah. Kemampuan semacam ini dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki agama atau bahkan pada dukun dan tukang sihir. Karena itu, mengetahui isi hati seseorang bukanlah ukuran kewalian.
Lain halnya kalau kita diperlihatkan Allah alam malakut, itu tidak akan terjadi kecuali orang yang Allah kehendaki untuk memuliakannya.
Maka urusan alam malakut dukun dan penyihir ini tidak akan sampai ke sana, beda halnya soal menduga-duga isi hati orang lain, maka bisa saja. Bahkan ada ilmu dan bisa dipelajari jika gelagat seseorang seperti ini maka kesimpulannya seperti ini.
Jadi, oleh para ulama urusan mengetahui hati seseorang itu tidak bisa menjadi pedoman untuk ukuran kewalian dan menyatakan kedekatannya kepada Allah Swt, berbeda dengan orang yang diperlihatkan alam malakut maka ini adalah orang yang diistimewakan Allah untuk melihatnya. (*)
Editor : Arief