Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Maha suci Allah yang sengaja tidak mengadakan dalil (tanda) atas para wali-Nya, melainkan sekadar untuk mengenal kepada-Nya, dan Allah tidak menyampaikan (mempertemukan) hamba-hamba-Nya kepada para wali-Nya, kecuali orang yang Allah kehendaki akan disampaikan orang itu kepada-Nya.”
Hikmah ke-154 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, hikmah dimulai dengan tasbih, memberikan isyarat dengan besarnya perkara yang beliau sampaikan. Karena bila kita melihat atau mendengar sesuatu yang menakjubkan, disunahkan kita mengucap tasbih kepada Allah Swt.
Setelah mengucap selanjutnya Imam Ahmad menyampaikan, apabila Allah Swt menyampaikan seorang hamba-Nya kepada seorang wali, lalu Allah menetapkan di dalam hati hamba tadi bahwa orang yang di depan kita ini adalah wali-Nya, sesudah diperlihatkan kepadanya keistimewaan wali tadi.
Kemudian Allah memberikan taufik kepada hamba tadi, sehingga ia dapat mempercayainya dan membenarkannya serta berkhidmat dan beradab kepada wali, memancar cahaya kecintaan kepada wali itu, maka tidak diragukan lagi, hamba tersebut akan sampai kepada Allah Swt, sekalipun lama di kemudian hari.
Biasanya orang yang mencapai makam kewalian itu dengan berbagai macam amaliyah. Ada yang mencapainya dengan wirid-wirid yang banyak, mujahadah dan sebagainya maka sampailah ia ke makam waliyullah.
Tetapi dalam hikmah ini, seorang hamba bisa mendapatkan jalan lain untuk sampai kepada Allah Swt, yakni dengan dipertemukan dia pada seorang wali yang belum ia ketahui, lalu di hatinya mengatakan ini adalah seorang wali dan melihat keistimewaan wali itu dan ia cintai wali itu bukan karena lain hal, lalu ia berkhadam, beradab dan seterusnya, maka orang seperti ini suatu saat akan diberi Allah sampai ilmunya kepada Allah Swt.
Sehingga wali-wali Allah itu adalah pintu-pintu Allah dan mengenali para wali itu merupakan kunci pintu-pintu Allah. Dan gerigi kunci itu adalah dengan menjaga kehormatan wali, baik istri, anak dan keluarga serta jangan sampai kita sebagai orang yang dekat dengan wali itu melakukan hal-hal yang memalukan bagi wali itu. Baik adab kepadanya, berkhidmat dan benar cinta kepadanya.
Maka barang siapa yang bergaul dengan wali-wali Allah dengan demikian orang ini suatu saat dijadikan oleh Allah sebagai wali juga. Walaupun tanpa banyak amaliyah dan wirid, maka suatu saat dia akan diangkat oleh Allah Swt derajat di sisi-Nya.
Dalam kitab Al-Ibriz disebutkan, berkata Ahmad Ibnu Al-Mubarak: “Kecintaan seorang wali kepada kita itu tidak seberapa memberikan manfaat kepada kita, sama halnya kecintaan Rasul kepada umat itu tidak seberapa memberikan manfaat kepada kita. Yang lebih bermanfaat itu adalah kecintaan kita kepada wali dan Rasul itu, itu lebih bermanfaat.”
Nabi cinta kepada Abu Lahab dan Abu Jahal bahkan beliau sayang kepada orang-orang kafir, sehingga mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam agar mereka diberikan keselamatan. Tetapi mereka tidak cinta dan membenci Rasul, sehingga tidak datang hidayah kepada mereka.
Sama, wali-wali Allah itu sayang kepada kita, tetapi karena kita tidak cinta kepada mereka maka tertutuplah keberkahan daripada mereka itu.
Jadi, kecintaan seorang wali kepada kita ada manfaat cuman tidak banyak, tetapi kecintaan kita lah yang akan membawa manfaat yang sangat banyak kepada kita.
Kecintaan yang sangat dari seseorang kepada seorang wali itu juga bisa menarik ilmu yang ada di dalam hati mereka kepada dirinya. Kecintaan kita kepada seorang wali itu akan mendatangkan berkah ke dalam hati kita, walaupun wali itu tidak tahu (secara zahir) bahwa kita cinta kepada mereka.
Abu Hurairah Ra. adalah seorang sahabat yang sangat cinta kepada Rasulullah dan mengadu kepada beliau. ‘Wahai Rasul, saya ini tidak pintar dan mudah lupa’, Rasul berkata: ‘Buka sorbanmu’, maka Rasul mengambil sesuatu di dalam dada Abu Hurairah dan diletakan di dalam sorbannya maka setelah kejadian itu Abu Hurairah jadi seorang yang luar biasa, sekian ribu hadits hafal di kepala beliau.
Kenapa bisa demikian? Karena beliau punya kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah Saw. itulah maksud dari modal cinta yang benar yang dapat menarik dan menyalin ilmu yang ada di hati seorang wali itu agar ada pada di dalam hati kita.
Kemudian, Ahmad Ibnu Al-Mubarak ditanya apa tanda kecintaan yang benar kepada seorang wali itu? Beliau menjawab: Kecintaan yang benar kepada seorang wali yang dapat menarik ilmu wali itu kepada dirinya adalah, orang yang kelapangannya (gembira) itu saat dia dekat seorang wali, dia tidak berpikir kecuali untuk wali itu, dia tidak sedih kecuali karena sesuatu yang menyedihkan wali itu, dan geraknya, diamnya, hadir serta gaibnya tidak ada lain hanya memikirkan kemaslahatan dzat seorang wali itu melupakan kemaslahatan dirinya sendiri.”
Itulah yang disebut cinta yang benar kepada seorang wali, seperti halnya kecintaan Abu Hurairah kepada Rasulullah Saw.
Barang siapa bergaul dengan wali-wali Allah dengan cara demikian dan benar maka akan dibukakan pintu Allah kepadanya, jika tidak (bergaul tidak menjaga adab dan lain sebaginya) maka orang ini dalam sesuatu yang membahayakan dirinya.
Apabila seorang hamba itu dikenalkan kepada seorang wali Allah dan diperlihatkan keistimewaannya, tapi dia tidak percaya atau percaya tapi tidak beradab, maka ini orang setiap harinya akan semakin jauh (lupa) kepada Allah Swt.
Ada pula orang yang cinta wali, tetapi cintanya itu untuk tujuan duniawi, maka ini orang sekalipun tinggal dengan wali selama seribu tahun, tidak akan mendapat apa-apa dari seorang wali itu.
Cuma orang ini tidak kualat, karena dia percaya dan beradab serta cinta. Hanya cintanya saja yang salah karena untuk tujuan duniawi. Dia selamat akan tetapi tidak dapat keberkahan, ma’rifat khusus dari seorang wali tadi.
Oleh karena itu, masalah ini adalah masalah yang besar maka pengarang memulai hikmah ini dengan tasbih.
Jadi, apa yang bisa kita dapatkan dari seorang wali Allah itu? Itu sangat tergantung dengan kadar yang ada pada diri kita. Sekadar apa kecintaan, khidmat dan adab kita kepada mereka maka sekadar itulah yang bisa masuk ke dalam hati kita.
Seperti Abu Hurairah Ra. Karena cinta dan hidup mati diserahkan kepada Nabi sehingga saat masuk maka dampaknya sangat besar untuk diri beliau.
Jadi, sesuai kadar berapa yang kita berikan kepada mereka itu maka itulah yang akan masuk ke dalam hati kita. Inilah jalan lain untuk sampai kepada Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah itu sangat banyak sebagaimana nafas-nafas.
Ada yang sampai kepada Allah melalui jalan memperbanyak zikir, ada yang sampai kepada Allah melalui jalan memperbanyak selawat dan salah satu jalan bahwa kita akan sampai kepada Allah melalui bergaul dengan seorang wali dengan tata cara yang sudah disampaikan di atas tadi. (*)
Editor : Arief