RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Semangat melestarikan warisan budaya Banua terlihat dalam kegiatan Silaturahmi dan Komunikasi Pelestari Senjata Pusaka Kalimantan (PSPK) yang digelar di kediaman Julak Ancau Hairan, Jalan Datu Sanggul, Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, Minggu (12/7/2026) malam hingga dini hari.
Ratusan pelestari pusaka dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan tersebut. Selain menjadi ajang mempererat silaturahmi, acara juga diisi tausiah oleh Guru Ahmad Sibawaihi Siraj serta tradisi Maatur Dahar Pusaka atau jamasan pusaka yang sarat makna budaya.
Salah satu pendiri PSPK, Husnul Yakin, mengatakan kegiatan ini bertujuan menyatukan para pelestari pusaka Kalimantan agar terus menjaga nilai adat, sejarah, dan budaya yang diwariskan para leluhur.
"Tujuan utama kami adalah mempererat silaturahmi sekaligus saling berbagi pengetahuan tentang pusaka Kalimantan, baik sejarah, filosofi maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kami ingin seluruh pelestari pusaka bersatu menjaga marwah adat istiadat padatuan tanpa membedakan komunitas mana pun," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Senin (13/7/2026).
Menurut Yakin, tradisi Maatur Dahar Pusaka merupakan bagian dari budaya Banjar yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Banjar. Tradisi tersebut awalnya menjadi bentuk penghormatan kepada tamu melalui sajian aneka makanan.
"Tradisi ini sudah ada sejak zaman Sultan Suriansyah. Dahulu menyajikan puluhan jenis kue dan makanan. Kini pelaksanaannya diselaraskan dengan ajaran Islam melalui pembacaan salawat, doa bersama, dan tausyiah, sehingga nilai budayanya tetap terjaga," jelasnya.
Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Pelestari pusaka datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Timur. Jumlah peserta diperkirakan mencapai ratusan orang hingga memenuhi area kegiatan dan meluber ke badan jalan.
Tak hanya itu, sekitar 500 senjata pusaka turut dibawa para peserta. Beragam koleksi dipamerkan, mulai dari lais, lantik, karang rumput, mandau, keris, hingga pusaka peninggalan padatuan dan masa perjuangan yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun.
Menurut Yakin, setiap pusaka memiliki nilai sejarah dan filosofi yang menjadi bagian dari perjalanan peradaban masyarakat Kalimantan.
"Pusaka-pusaka ini bukan sekadar benda bersejarah, tetapi menjadi bukti perjalanan peradaban dan perjuangan masyarakat Kalimantan yang harus terus dijaga," katanya.
Ia berharap kegiatan silaturahmi ini dapat terus digelar setiap tahun sekaligus mengajak generasi muda untuk semakin mencintai warisan budaya Banua.
"Kami berharap semakin banyak generasi muda yang mencintai dan melestarikan pusaka Kalimantan. Yang terpenting, seluruh komunitas tetap bersatu, saling menghargai, dan bersama-sama menjaga warisan budaya Banua agar tetap hidup sepanjang masa," pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto