RADARBANHARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau - Di Desa Pematang Karangan Hilir, Kecamatan Tapin Tengah, tersimpan kisah seorang ulama yang hingga kini terus dikenang masyarakat. Sosok itu dikenal dengan gelar Datu Pamayungan.
Berbagai versi cerita berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya dituturkan oleh seorang tetua di Desa Pematang Karangan Hilir yang mewarisi kisah tersebut dari generasi sebelumnya, namanya Nani, kakek tua berumur 71 tahun.
Menurut penuturannya, Datu Pamayungan memiliki nama asli Sayed Umar bin Abu Ghani. Beliau diyakini berasal dari Pulau Jawa dan kemudian menetap di wilayah Tapin.
"Memang beliau orang yang berilmu. Awalnya dari Jawa. Waktu itu beliau dimusuhi Belanda sehingga memilih meninggalkan daerah asalnya bersama keluarga," ujarnya.
Ia menuturkan, sebenarnya Sayed Umar memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Namun, beliau memilih jalan damai dan menghindari pertumpahan darah.
Setelah tiba di Kalimantan, kehidupan Sayed Umar dikenal sederhana. Meski demikian, ilmu agama yang dimilikinya membuat masyarakat datang untuk belajar dan menimba pengetahuan darinya.
Menurut cerita yang berkembang, perjalanan hidup Sayed Umar berubah ketika mendapat kesempatan menghadiri undangan Sultan Suriansyah.
Kala itu, Sultan mengumpulkan banyak orang untuk menunjukkan kemampuan dan pengalaman masing-masing. Namun ketika giliran Sayed Umar tiba, waktu sudah menjelang senja sehingga kegiatan dilanjutkan keesokan harinya.
Pada malam hari, sebuah hanau atau aren kebesaran kerajaan dipindahkan dari tempat asalnya ke lingkungan istana.
Keesokan harinya, Sultan meminta siapa saja yang mampu mengembalikan benda tersebut ke posisi semula.
"Banyak yang mencoba, tetapi tidak ada yang bisa. Setelah tiba giliran beliau, baru bisa dikembalikan ke tempat asalnya," kata sang tetua.
Menurutnya, keberhasilan itu bukan tanpa alasan. Sayed Umar mengetahui posisi asal hanau tersebut karena dialah yang memindahkannya pada malam sebelumnya.
Peristiwa itu membuat Sultan Suriansyah terkesan. Sejak saat itu, Sayed Umar dipercaya menjadi pendamping Sultan dan bertugas memayungi sang raja dalam berbagai perjalanan.
"Semenjak itu beliau selalu mengikuti Sultan ke mana saja untuk memayungkan beliau. Karena itulah kemudian diberi gelar Datu Pamayungan," tuturnya.
Meski memperoleh kedudukan terhormat di lingkungan kerajaan, Sayed Umar tidak menetap di istana. Ia memilih kembali ke kampung untuk berdakwah dan membuka majelis bagi masyarakat.
Ia mengatakan, Datu Pamayungan juga dikenal sebagai sosok yang mengajarkan berbagai amalan keagamaan dan menjadi tempat masyarakat belajar agama pada masanya.
Hingga kini, kisah Datu Pamayungan tetap hidup dalam ingatan masyarakat Tapin. Cerita tersebut terus dituturkan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sejarah lokal yang sarat nilai keteladanan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada agama.
Editor : Arif Subekti