Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Bermula cahaya yang dititipkan Allah di dalam hati itu bertambahnya dari cahaya yang datang dari perbendaharaan gaib.”
Hikmah Ke-150 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, cahaya yang dititipkan Allah di dalam hati kita cahaya itu akan semakin terang dengan cahaya yang datang dari Allah Swt. Cahaya yang dititipkan dalam hati itu disebut dengan cahaya Islam. Awalnya cahaya itu lemah seperti cahaya bintang. Terhalang sedikit awan sudah hilang.
Kemudian cahaya Islam yang lemah tadi bertambah sinarnya dengan ketaatan yang zahir. Seperti memperbanyak zikir kepada Allah, berkawan dengan orang saleh, berselawat kepada Nabi Saw. Ketaatan inilah yang mengundang datangnya cahaya dari Allah, menambah cahaya Islam di hati kita seperti cahaya bulan.
Dari sekian banyak amal zahir, ada tiga yang sangat berpengaruh untuk mendatangkan cahaya Allah. Pertama memperbanyak zikir, paling afdhal adalah Laa ilaaha illallah.
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang banyak zikir kepada Allah maka Allah cinta kepadanya.”
Cinta Allah kepada kita ini sangat kita butuhkan. Jika Allah sudah cinta maka cahaya yang datang akan terus menerus masuk ke dalam hati kita.
Allah Swt. berfirman di dalam hadits qudsi: “Aku (Allah) berdampingan duduk di majelis dengan orang yang ingat kepada-Ku.” Bayangkan kita bersama dengan sumbernya cahaya, betapa banyak cahaya yang akan kita dapatkan.
Amalan kedua adalah selawat kepada Nabi. Bahkan, satu selawat saja akan mendatangkan 10 cahaya dari Allah kepada kita.
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah balas dengan sepuluh kali.”
Ketiga adalah berteman dengan orang saleh. Maka ini sangat mempengaruhi kuatnya cahaya Islam di dalam hati kita.
Rasulullah Saw. bersabda: “Seseorang itu atas agama teman dekatnya.” Kalau teman dekat kita orang saleh, kita pun suatu saat akan menjadi orang saleh. Jadi, kebersamaan mempunyai pengaruh yang besar dalam pertambahan cahaya yang ada di dalam hati kita.
Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad menyebutkan: “Barang siapa yang bersahabat dengan orang saleh maka Allah akan jadikan dia orang yang saleh, sekalipun dia dulunya jadi orang fasik.”
Bersahabat ini akan mempengaruhi kuatnya Islam kita, apabila tujuan kita bersahabat itu untuk mendapatkan kebaikan akhirat. Sebaliknya, apabila tujuan kita untuk tujuan kesuksesan duniawi saja, maka tidak ada hubungannya dengan apa yang kita bahas ini. Tercegah orang seperti ini dari keberkahan orang-orang saleh.
Jadi, cahaya Islam yang sedikit dan lemah akan menjadi kuat terang dan semakin bersinar dengan perbuatan taat yang zahir, banyak zikir dan shalawat, bergabung dan bermajelis dengan orang-orang yang saleh, semakin kuat cahaya Islam sehingga cahaya yang seperti bintang tadi akan menjadi seperti cahaya bulan. Ini sudah disebut dengan cahaya iman.
Didalam Al Quran yang banyak dipanggil oleh Allah adalah orang-orang yang beriman. Allah tidak memanggil, “Wahai orang-orang Islam”. Tetapi yang dipanggil adalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang di hatinya itu sudah terang cahaya imannya, yakni dari cahaya Islam yang menjadi terang dengan tambahan amalan-amalan zahir.
Selanjutnya cahaya iman yang seperti bulan tadi dalam diri kita, akan menjadi semakin kuat dengan amalan-amalan batin menjadi seperti cahaya matahari, inilah yang disebut cahaya ihsan.
Jadi cara menaikkan cahaya dalam diri kita, dengan memperbanyak dan memperbaiki amaliah batin. Seperti ikhlas, tawakal dan ridha.
Seperti jika sebelumnya kita ikhlas karena takut siksaan Allah, maka tingkatan ikhlas seperti ini mesti diperbaiki. Kemudian juga orang yang melakukan ibadah karena mengharapkan kenikmatan surga, ini ikhlas juga tapi belum sebenarnya ikhlas. Ikhlas adalah semata-mata beribadah dan meninggalkan larangan hanya karena Allah.
Tawakal juga diperbaiki, jika kita bertawakal kepada kekuatan dan kepandaian kita, bahkan harta benda serta makhluk lainnya, maka kita tinggalkan dan hanya tawakal kepada Allah Swt.
Tawakkal kepada Allah bukan menghilangkan sebab, tawakal itu artinya menggantungkan diri kepada Allah, bukan tidak berusaha, bukan tidak makan saat lapar, bukan tidak berobat jika sakit. Tawakal itu artinya menyerahkan dan menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, perkara bersebab bukan jadi masalah. Makan saja saat lapar tapi tetap yang mengenyangkan adalah Allah Swt. Sedangkan makanan hanya bagian dari sebab untuk kenyang. Saat itulah dia bisa musyahadah kepada Allah Swt.
Maka intropeksi dirilah kita ada di mana kedudukan kita apakah Islam, iman atau ihsan, atau tidak ada sama sekali di antara makam yang tiga ini?
Jika kita duduk di makam Islam kita akan nyaman dengan ibadah zahir. Jika kita duduk di makam Iman kita nyaman dengan ibadah batin, dan jika kita duduk di makam Ihsan kita nyaman musyahadah kepada Allah.
Jadi, jangan sampai lepas pada tiga kedudukan ini. Usahakan dengan sungguh-sungguh bagaimana jika bisa duduk dengan makam Islam, Iman dan Ihsan. (*)
Editor : Arief