Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Qabd dan Bast, Hikmah ke-148 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

admin • Jumat, 12 Juni 2026 | 12:25 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

 

Oleh: H. Muhammad Tambrin

Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

 

“Terkadang Allah memberikan kepada engkau manfaat pada waktu qabd (kesedihan) yang seumpama malam, sesuatu yang tidak engkau dapatkan faidah itu pada waktu bast (senang) yang seumpama seperti terangnya cahaya siang. Kalian tidak mengetahui manakah di antaranya yang lebih dekat bagi kamu manfaatnya.”

Hikmah ke-148 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, dalam hikmah ini Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari menyebutkan istilah tasawuf qabd dan bast, menggenggam dan membuka tangan. Dan beliau mengumpamakan qabd dengan malam sedangkan bast diumpamakan seperti siang terang benderang.

Qabd adalah kesedihan, kesempitan yang mendatangi hati. Apabila hati sempit dan sedih berarti hati kita dalam keadaan yang oleh sufi disebut qabd.

Kenapa kesedihan datang ke dalam hati? Adakalanya dengan sebab hilangnya sesuatu yang disukai. Baik perkara duniawi atau akhirat.

Orang yang hartanya berkurang maka hatinya bisa sedih. Orang yang menghendaki salat tahajud di malam hari ternyata bangun saat subuh dan hatinya sedih, inilah qabd.

Kesedihan akibat tidak berhasil mendapatkan yang diharap. Seperti cita-cita tidak tercapai, baik cita-cita duniawi ataupun akhirat.

Urusan dunia dia bertarget dalam berusaha dapat income 1 juta per hari, ternyata tidak tercapai dan dia sedih. Adapun urusan akhirat dia mempunyai target dalam seminggu mesti khatam Alquran, ternyata setelah seminggu tidak khatam bahkan setengah saja belum sampai, maka hatinya sedih, maka sedih ini dinamakan qabd.

Qabd juga bisa terjadi tanpa sebab yang diketahui. Tiba-tiba hati sedih tanpa alasan, padahal tidak ada kehilangan dan kegagalan apa-apa. Hati gelisah, tidak enak, tapi kenapa hati sedih tidak tahu. Oleh para ulama sufi, qabd ini adalah bekas atau tajalli kebesaran Allah.

Adapun bast itu kegembiraan, keterbukaan dan kelapangan yang datang ke dalam hati adakalanya dengan sebab berhasil yang dicari atau terhindar yang tidak diingini atau tanpa ada sebab yang diketahui.

Kenapa hati terasa enak dan lapang padahal tidak ada apa-apa, maka itulah yang dinamakan bast tanpa ada sebab yang diketahui.

Kalau kita berhasil mencapai sesuatu dan terhindar dari musibah hatinya senang, maka ini bast dengan sebab.

Selanjutnya, apabila kita berada dalam keadaan qabd, maka hendaklah tetap tenang, jangan gelisah dan kembali kepada Allah Swt. Caranya dengan memperbanyak zikir, seperti membaca tasbih Nabi Yunus. “La ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zalimin”. Artinya Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

Sebagaimana hati Nabi Yunus sedih dan sempit saat dalam perut ikan, tetapi beliau tetap tenang dan tenteram dengan Allah.

Kemudian yakinlah bahwa Allah tidak menghendaki kepada kita kecuali kebaikan dengan hati yang sedih tadi, serta jangan ingin mencari kesenangan pada saat seperti ini. Tetapi diam, tenang, renungkan, perbanyak zikir dan tasbih, yakini bahwa pasti ada kebaikan yang akan diberikan Allah kepada kita.

Jangan pula minta hilangkan kesedihan itu, mengapa? Karena di dalam kesedihan itu terkadang kita bisa mendapat suatu faidah yang tidak kita dapatkan saat senang. Tunggu saja sampai Allah yang memindahkan kita dari keadaan sedih kepada keadaan senang, karena kita yakin bahwa Allah akan memberikan kebaikan yang banyak kepada kita dan itu lebih baik daripada kita meminta dihilangkan kesedihan itu.

Perbanyak zikir kepada Allah, karena Nabi Saw. menyatakan bahwa orang yang sibuk membaca Alquran akan diberi oleh Allah lebih daripada orang yang minta kepada Allah.

Misalnya, kita dalam kesusahan maka berdoa meminta hilangkan kesusahan “Ya Allah hilangkanlah kesusahan hamba,” Maka ada saat dia tidak berdoa dalam keadaan susah, hanya memperbanyak membaca Alquran, maka Allah akan beri lebih daripada orang yang meminta.

Itu saat kita dalam keadaan qabd tadi. Oleh karena itu, qabd itu seumpama malam gelap gulita, maka saat malam harusnya diam saja di rumah. Maka saat qabd itu pun diam saja.

Selanjutnya, apabila seorang hamba dalam keadaan senang, mendapatkan apa yang diharapkan dan terhindar dari yang tidak diinginkan. Maka hendaknya kita menahan dari melakukan hal-hal yang tidak patut, seperti melakukan selebrasi dan bertepuk tangan, karena nafsu itu apabila dia suka, dia menjadi ringan dan rajin untuk berbuat demikian.

Terutama lisan saat gembira, bisa berkata dengan kata-kata yang tidak patut, hingga kita terjatuh pada jurang dan terputus dengan Allah Swt. Jagalah diri dalam keadaan seperti ini, dengan membelenggu diri dengan belenggu diam agar selamat dari tergelincir tadi. Karena lebih banyak orang tergelincir akibat terlalu senang dibanding orang yang tergelincir akibat dia sedih dan susah.

Boleh gembira apabila mendapat satu nikmat, baik nikmat agama atau dunia. Tapi jangan sampai kesenangan kita menyebabkan kita jatuh ke jurang dan terputus dengan Allah Swt.

Sedih dan senang adalah dua keadaan yang silih berganti atas manusia, seperti silih bergantinya malam dan siang. Sedangkan nafsu tidak memiliki bagian sedih, tidak suka sedih. Nafsu hanya suka dengan bersenang-senang. Padahal terkadang seorang hamba itu bisa mendapatkan sesuatu faidah dekat dengan Allah saat sedih, sesuatu faidah yang tidak bisa didapatnya saat senang.

Oleh karena itu, saat keadaan sedih, susah hati jangan meminta kepada Allah agar dipindah kepada gembira tapi cukup dengan memperbanyak zikir, selawat dan membaca Alquran, nantinya Allah akan memindahkan keadaan kita walau tanpa permintaan.

Manusiawi apabila kita senang dengan kelapangan dan tidak suka hati susah dan sempit. Tetapi ingatlah firman Allah Taala yang artinya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam hidup kita, susah senang senantiasa silih berganti. Terpenting adalah kita menyadari, ketika susah ada aturannya agar kondisi ini terus mendekatkan kita kepada Allah. Saat senang pun demikian, bagaimana agar nikmat tersebut tetap membuat diri kita mendekat kepada Allah Swt. Allahu a’lam. (*)

Editor : Muhammad Rizky
#Qabd dan Bast #Religi #Tarbiyah