Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Apabila engkau menghendaki bahwa Allah bukakan bagi engkau pintu takut maka perhatikan amal perbuatanmu pada Allah.”
Hikmah ke-147 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As SakAndari Rahimahullah
***
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, kita hendaknya memAndang bagaimana selama ini adab, perhatian, khidmat kita kepada Allah, jika demikian maka kita akan dibukakan Allah Swt pintu takut kepada-Nya.
Takut yang dimaksud menurut sebagian ulama adalah keadaan hati yang sakit sebab datangnya perkara yang tidak disenangi di masa yang akan datang.
Sedangkan takut terhadap Allah itu artinya dia takut bahwa Allah akan menyiksa, baik di dunia ini atau di akhirat. Perasaan inilah yang disebut dengan takut kepada Allah dan inilah takut diperintahkan kepada kita.
Suatu hari Sayyidah Aisyah ra mengingat neraka dan siksaannya, beliau menangis karenanya. Rasulullah yang melihat sang kekasih meneteskan air mata bertanya, “Apakah gerangan yang menjadikan engkau menangis wahai Aisyah ?”. “Aku ingat neraka, maka aku menangis. Apakah Anda akan mengingat keluarga Anda kelak di hari kiamat wahai Rasulullah ?” Sayyidah Aisyah meminta penjelasan.
Rasulullah Saw bersabda, “Adapun di tiga tempat, tidak ada seorang pun yang ingat kepada orang lain. Pertama, ketika di Mizan (Timbangan), sampai dia mengetahui apakah timbangannya ringan atau berat (timbangan kebaikannya).
Kedua, ketika lembaran catatan amal dibagikan, sampai dia mengetahui di manakah lembaran catatan itu diletakkan, di kanannya, kirinya ataukah di belakang punggungnya. Ketiga, dan ketika di atas jembatan Shirath yang dibentangkan di atas neraka Jahanam sampai dia benar-benar berhasil melewatinya” (HR. Abu Dawud).
Hikmah ini menerangkan bagaimana cara kita untuk mendapatkan sifat takut seperti Sayyidah Aisyah tadi. Karena bila kita ingat neraka, kubur, akhirat, belum tentu sedih dan menangis. Itu menunjukan bahwa kita belum memiliki rasa takut kepada Allah Swt.
Sementara dikatakan, “Barang siapa di dalam dunia tidak mempunyai rasa takut, maka di akhirat dia ketakutan. Dan barang siapa di dunia mempunyai rasa takut maka di akhirat dia dalam keadaan aman dan tentram.”
Imam Ahmad Ibnu Attha’illah menerangkan satu di antara sekian jalan untuk mendapatkan pintu takut. Yaitu, dengan cara mengingat dosa-dosa kita. Baik memperbuat dosa secara sembunyi ataupun terang-terangan. Maka ingatlah dosa-dosa itu, mulai mata sampai seluruh tubuh ingat dengan dosa-dosa, maka Allah akan membukakan pintu agar kita diberi takut kepada-Nya.
Selanjutnya, mengingat banyaknya orang yang kita gibah, fitnah, ambil hartanya secara tidak sah. Maka semua orang ini di akhirat kelak akan menuntut dan mengambil kebaikan yang ada pada diri kita.
Kedua, yang kita ingat adalah azab Allah yang tidak akan bisa dihitung dan dibayangkan. Seperti minuman yang bernama hamim, begitu kita minum maka akan hancur seluruh yang ada di dalam tubuh kita. Maka ingatlah azab itu.
Ketiga, mengingat lemahnya kita daripada menghadapi azab Allah itu. Sakit kecil saja kita sudah tidak karuan rasa, terlebih azab Allah. Maka kita bayangkan lemahnya diri kita yang akan menyandang dahsyatnya azab Allah itu. Keempat, kita ingat kuasanya Allah Yang Maha Kuasa dan Memaksa.
Takut terhadap Allah adalah satu sifat yang terpuji yang dengannya seseorang bisa lurus di jalan Sirath Al-Mustaqim.
Kalau orang tidak punya takut atau terkadang ada terkadang hilang maka akan tersesat dari jalan yang lurus. Takut inilah yang akan mencegah kita berbuat dosa, kalaupun berbuat dosa maka takut inilah yang akan mendorong kita cepat bertaubat. Kalau tidak punya takut atau sedikit saja akan mudah berbuat dosa dan malas bertaubat.
Imam Dzun Nun Al-Misri berkata: “Manusia itu berada atas satu jalan selama tidak hilang dari mereka takut itu, apabila takut itu hilang mereka sesat dari jalan itu.”
Kenapa kita mampu melakukan maksiat, menyakiti orang lain? Karena akibat tipis bahkan tidak ada rasa takut itu. Sulaiman Ad-Darani berkata: “Tidaklah berpisah takut itu akan hati, melainkan roboh hati itu.”
Takut ini adalah fondasi agar kita tetap di jalan Allah dan tetap menjunjung perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Maka wajib atas hamba bahwa dia takut kepada Allah sebenar-benar takut.
Sesungguhnya, semua kita ini ada mempunyai takut kepada Allah, akan tetapi takutnya itu belum sampai kepada sebenar-benar takut. Karena jikalau sampai kepada sebenarnya takut kita akan terhindar dari perbuatan dosa, kalaupun jatuh dalam dosa saat itu juga bertaubat kepada Allah Swt. kita wajib bahwa kita mempunyai takut ini yang sebenarnya takut kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman: “Takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 175)
Perintah Allah untuk takut ini bukan hanya kepada orang yang ahli dosa. Takut kepada Allah ini harus dimiliki oleh orang yang ahli taat maupun ahli maksiat.
Sebagian ulama berkata: “Orang yang berbuat kebaikan maka dia harus takut kepada empat perkara, bagaimana lagi dengan orang yang berbuat dosa.”
Empat perkara yang harus ditakutkan orang yang berbuat kebaikan adalah pertama takut apakah ibadah diterima atau tidak oleh Allah. Allah berfirman: “Allah hanya menerima amal ibadah orang-orang yang takwa.”
Maka introspeksi diri kita, apakah kita termasuk orang yang takwa? Kenapa Habil berkurban diterima Allah sementara Qabil tidak diterima Allah? Karena Habil takwa kepada Allah, sementara Qabil tidak. Tidak takwa seperti apa? Dengki dengan saudaranya yaitu Habil. Ini contoh dari Allah.
Kedua, yang ditakutkan orang ibadah adalah riya. Waspada bagi orang yang baribadah kalau riya, minta puji, cari nama. Karena riya bukan hanya haram, tapi mengugurkan ibadah.
Ketiga, yang ditakutkan oleh orang yang beribadah ini adalah apakah ibadah ini bisa dibawa ke hadirat Allah. Karena tidak sedikit ibadah yang sudah kita perbuat dan diterima saat meninggal dunia, ibadahnya dihapus karena di dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang menyebabkan ibadah kita habis sebelum meninggal dunia.
Keempat, yang ditakutkan oleh orang yang beribadah ini adalah rasa hari ini masih beriman, besok belum tentu beriman, hari ini dapat taufik hidayah besok belum tentu. Jadi, orang yang taat kepada Allah pun dituntut untuk kepada Allah SWT, apalagi yang tidak taat. Allahu a’lam. (*)
Editor : Arief