Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

At-Tawwabin, Jangan Tertipu Daya Syaitan

admin • Jumat, 22 Mei 2026 | 09:21 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Apabila jatuh daripada engkau satu dosa maka janganlah itu menyebabkan putus asa engkau dari hasilnya istiqamah beserta Tuhan engkau, maka mungkin itu dosa merupakan akhir dosa yang ditakdirkan atas engkau.”

Hikmah yang ke-145 dari Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah AsSakandari Rahimahullah

       ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet apabila bertaubat seorang hamba kepada Allah dan dia bercita-cita untuk istiqamah dalam taubatnya, dan dia bercita-cita berhenti dari segala dosa. Kemudian satu hari dia jatuh dalam dosa tanpa disengaja, maka hendaklah dia taubat lagi kepada Allah dan bercita-cita lagi untuk istiqamah. Walaupun untuk kesekian kali, karena barangkali dosa itu adalah dosa terakhir yang ditakdirkan Allah kepadanya.

Jadi, taubat kepada ini tidak ada batasnya berapapun sehari sebanyak-banyaknya, semakin banyak taubat maka Allah semakin suka kepada kita.

Pagi hari kita taubat, segala dosa kita hentikan, sesali dan bercita-cita untuk tidak mengulangnya lagi dan berjanji bahwa akan istiqamah dalam taubat ini.

Ternyata, jam 08.00 pagi jatuh dalam dosa. Entah melihat sesuatu yang dilarang Allah, mendengar atau mengucap sesuatu yang dilarang Allah dan jatuh dalam dosa, maka bertaubat lagi kepada Allah dan berjanji istiqamah dalam taubat itu. Tahu-tahu jam 10.00 pagi jatuh lagi di dalam dosa, maka taubat lagi dan bercita-cita lagi untuk istiqamah di dalam dosa. Ternyata, jam 12.00 jatuh lagi ke dalam dosa, berulang-ulang, maka taubat lagi kepada Allah dan bercita-citalah untuk meninggalkan segala dosa itu.

Mengapa demikian kita selalu disuruh untuk taubat? Karena siapa tahu itu adalah dosa terakhir untuk kita. Dosa jam 12.00 yang kita perbuat ini adalah dosa yang terakhir yang ditakdirkan Allah untuk kita.

Artinya, bahwa taubat itu jangan sampai menunggu. Berbuat dosa di pagi hari jangan sampai menunggu sore untuk bertaubat. Begitu jatuh dalam dosa segera taubat kepada Allah.

Syaitan terkadang memberikan was-was kepada kita. Kata syaitan: “Hai manusia, kalau demikian jam 08.00 taubat jam 09.00 dosa lagi, dst. Kalau begitu engkau tidak ada harapan lagi untuk istiqamah dalam taubat. Dan yakinlah engkau bahwa Allah tidak menerima taubatmu itu. Sebaiknya engkau kembali kepada maksiat tidak perlu taubat kepada Allah karena tidak menghendaki engkau jadi orang baik.”

Demikian bisikan syaitan kepada kita, karena kata syaitan kalau taubat yang diterima itu pasti akan menjauhkan dari dosa.

Inilah bagian dari tipu daya syaitan kepada kita atau bisa juga syaitan mewaswasi kepada kita untuk menunda taubat.

Kalau syaitan sudah mewaswasi hati kita seperti itu, maka jawab dengan ini, “Wahai syaitan! Aku mesti taubat. Siapa tahu ini adalah dosa yang terkahir yang ditakdirkan kepadaku (meninggal).”

“Wahai syaitan! Sesungguhnya bahwa Tuhanku itu Maha Pengampun dan Penyayang. Walaupun aku beribu kali berbuat dosa dan aku selalu taubat maka Allah mengampuni aku dan Allah akan tidak marah denganku dengan demikian.”

“Wahai syaitan! Allah cinta kepada orang yang taubat.”

Tiga perkara ini cukup untuk melupuhkan tipudaya syaitan yang menggoda kita untuk meninggalkan taubat atau menunda taubat tadi.

Allah Swt. berfirman: Katakanlah (Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (Az Zumar: 53)

Jangan beranggapan di dalam hati “Aku tidak mungkin jadi orang baik, tidak ada harapan menjadi orang saleh karena banyaknya dosa yang aku perbuat”, maka anggapan seperti ini dilarang oleh Allah.

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf: 7)

Karena “Sesungguhnya Allah cinta kepada At-tawwabin (orang-orang yang bertaubat) dan Allah cinta kepada orang-orang yang mensucikan dirinya.” (Al Baqarah: 222)

Inilah ayat-ayat Allah memberikan harapan kepada manusia-manusia yang selama ini melanggar hukum Allah, agar jangan ragu sedikit pun di dalam hati untuk bertaubat kepada Allah Swt.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, sebagaimana beliau riwayatkan dari Tuhannya 'Azza wa Jalla berfirman: "Ada seorang hamba yang melakukan suatu dosa, lalu dia berdoa: 'Ya Allah, ampunilah dosaku.'

Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa itu.'

Demikian berulang sampai tiga kali, Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku telah melakukan dosa, dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa itu. Perbuatlah sesukamu, karena Aku telah mengampunimu.'"

Ucapan 'Ya Allah, ampunilah dosaku.' bermanfaat dan diterima oleh Allah SWT, apabila hamba menyesali dosanya, melepaskan diri dari kemaksiatan, niat tidak akan mengulang lagi. Kalau tiga hal ini ada maka ucapan “Ya Allah ampuni dosaku” maka ucapan ini adalah ucapan yang bermanfaat yang diterima oleh Allah Swt.

Tetapi jika kita belum bisa berpisah dan menjauhkan diri dari dosa, masih berada di tempat-tempat maksiat, disitu kita minta ampun kepada Allah, maka itu adalah ucapan yang bohong, tidak ada manfaat.

Misalnya, seorang laki-laki yang memakai emas yang diharamkan oleh Allah laki-laki untuk memakainya. Di saat itu (masih dengan memakai emas) dia berucap “Ya Allah ampuni dosaku”, maka ungkapan ini akan ditolak oleh Allah. Mengapa? Karena di saat itu dia masih memakai suatu yang diharamkan oleh Allah.

Maka hendaknya baginya kalau ingin bertaubat seorang laki-laki ini melepaskan perhiasan emasnya tadi dulu, menyesali, menjauhkan dari memakai emas dan bercita-cita untuk tidak memakai emas lagi, baru meminta ampun kepada Allah. maka taubatnya akan diterima oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Setiap manusia itu berbuat salah dan sebaik-baik orang berbuat kesalahan itu adalah orang yang taubat kepada Allah Swt.”

Jadi kalau kita suka terjerumus kepada dosa, maka imbangi dengan suka bertaubat kepada Allah Swt. Berbuat dosa, taubat, berbuat dosa taubat lagi dan seterusnya. Allah tidak suka seorang yang suka berbuat dosa tapi tidak suka bertaubat kepada Allah. *

Editor : Arief
#Tarbiyah