Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Orang-orang yang zuhud (ahli ibadah) apabila dipuji maka sempit dadanya, karena melihat pujian itu daripada makhluk. Sedangkan orang-orang yang ma’rifat kepada Allah jika dipuji lapang hati karena menyaksikan pujian itu langsung dari Allah Swt.”
Hikmah Ke-143 dari Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, hikmah ini bagian terakhir yang menjelaskan tentang masalah pujian, sehingga ada empat hikmah terkait pujian ini.
Manusia dalam menyikapi pujian dan celaan terbagi empat golongan. Pertama, golongan orang awam yang jahil, kedua, golongan orang-orang ahil ibadah, ketiga, golongan orang-orang murid yang salik, keempat, golongan orang-orang yang ma’rifat sampai ilmunya kepada Allah Swt.
Bermula orang-orang awam yang jahil nafsunya masih menguasai, serta pandangannya hanya pada makhluk tidak sampai ke Allah. Maka apabila dipuji dia gembira. Ini manusiawi dan seperti inilah umumnya manusia.
Orang awam memang selalu ingin dipuji oleh makhluk Allah, baik itu ibadah, akhlak, pakaian dan perhiasan ingin dipuji. Itulah orang kebanyakan tujuannya hanya mencari pujian dari makhluk. Tanpa peduli apakah Allah suka atau tidak suka, yang penting dipuji oleh makhluk.
Kemudian jika orang awam tadi dicela, maka menjadi sempit dan sedih hatinya, karena tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Yakni pujian makhluk, sekalipun pujian itu bohong. Bahkan ada yang jika tidak dipuji mereka marah, apalagi dicela.
Maka orang seperti ini kalau kita puji maka kita akan berdosa. Kenapa? Karena menyebabkan dia semakin lalai kepada Allah bahkan menyebabkan dia semakin sombong dan ujub.
Ada orang yang dipuji bergairah dalam ibadah karena ada yang memuji, sebaliknya kalau dipuji mereka malas dan hambar ibadahnya. Maka kalau orang semacam ini kita puji maka kita berdosa.
Dikatakan: “Jika engkau memuji saudaramu di hadapannya, maka seolah-olah engkau telah menjalankan pisau cukur yang sangat tajam di lehernya.”
Artinya ketika memuji orang seperti ini, sama saja kita menjerumuskannya dalam kecelakaan. Golongan seperti inilah saat dipuji akan membahayakan yang memuji dan dipuji.
Adapun orang-orang ahli ibadah yang zuhud, mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah. Mereka takut terganggu wirid-wiridnya, amaliyahnya maka mereka lari dari makhluk dan mencari keridhaan Allah.
Kalau mereka dipuji mereka sempit hatinya dan takut bahwa menyibukkan pujian itu akan mereka dari keadaannya. Takut karena dipuji akhirnya banyak orang yang mencari dan terganggulah wiridnya yang selama ini sudah dirutinkan.
Kemudian jika dicela, justru mereka gembira karena kelapangan mereka dalam ibadah kepada Allah Swt. Ketika dicela, maka orang-orang menjauh dan itu yang diharapkannya, tidak terganggu kegiatan ibadahnya.
Golongan ketiga, orang-orang muridun as-salikun ini adalah orang-orang yang bekerja untuk menghidupkan hatinya untuk melawan nafsunya.
Orang ini belum tentu melakukan ibadah mahdhah saja kepada Allah, tapi orang ini melakukan perkara-perkara yang mengakibatkan hatinya hidup dan nafsunya kalah. Dia bisa saja berpura-pura jadi pengemis dan terlihat seperti orang jahat, untuk melatih dirinya. Inilah golongan orang-orang yang menjalani satu jalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah.
Mereka apabila dipuji, maka mereka takut hatinya mati dan nafsunya jadi kuat. Apabila mereka dicela, gembira karena itu melemahkan nafsunya dan hidup hati mereka.
Apapun hal-hal yang menyebabkan nafsunya lemah dan menyebabkan hatinya hidup mereka sukai. Maka orang-orang seperti ini seringkali melakukan hal-hal yang mengakibatkan dicela orang seperti pakaian compang camping, memulung sampah agar dihina dan dicaci orang, karena tujuan mereka untuk menghidupkan hati melemahkan nafsu, karena nafsu ini paling anti dicaci dan dicela.
Adapun orang-orang yang arif wasil mereka adalah orang-orang yang sudah bisa menguasai nafsu mereka (nafsu muthma’innah) dan sudah sampai mereka itu kepada menyaksikan Tuhannya, apabila mereka dipuji maka mereka senang karena mereka melihat pujian itu dari Allah Swt.
Ada orang yang memujinya, dia senang karena dia berpandangan bahwa orang itu tidak akan bisa memuji kalau Allah tidak menggerakan hatinya. Inilah orang sudah sampai menyaksikan Tuhan. Apabila mereka dicela maka mereka sedih tapi sedihnya karena beradab terhadap Allah Swt.
Si fulan mencela maka mereka melihat si fulan ini bisa mencela karena Allah menggerakkan hatinya, maka dia beranggapan di dalam hatinya bahwa ada yang tidak beres di dalam dirinya sehingga dapat memperbaiki diri, sedihnya mereka bukan karena nafsu tapi karena mereka menganggap celaan itu dari Allah berarti di dalam dirinya ada sesuatu masalah yang Allah tidak suka.
Jadi, orang yang ma’rifat ini zahirnya seperti awam suka dipuji dan sedih saat dicela, tapi kalau awam memandang yang memuji dan mencela adalah makhluk sedangkan orang ma’rifat yang dipandangnya adalah khalik. Maka yang membedakan antara orang awam dan ma’rifat adalah cara hatinya memandang segala sesuatu itu.
“Maka jadilah gembira dan sedihnya orang yang ma’rifat itu dengan Allah dan mereka tidak memandang sedikit pun kepada perantara (makhluk).”
Ada orang yang memujinya itu tidak akan menambah cintanya kepada orang yang memuji itu, tapi cintanya bertambah kepada Allah Swt. dan sebaliknya ada orang yang mencaci maki dia tidak marah kepada orang yang mencaci maki itu tetapi marah kepada dirinya sendiri yang mungkin ada kesalahan kepada Allah Swt.
Di dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, seorang telah melakukan amal baik, lalu orang-orang memujinya?” Rasulullah Saw menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk orang mukmin.”
Tentunya gembira dengan Allah Swt bukan gembira kepada orang yang memuji. Jadi, orang-orang yang sudah ma’rifat kepada Allah mereka dipuji dapat pahala dan yang memuji pun juga dapat pahala juga karena menjadi sebab dapat pahala.
Sebagaimana kita memuji Rasulullah, para sahabat-sahabat itu mendapatkan pahala kepada kita karena pujian kita kepada mereka itu akan menambah kegembiraan mereka itu dan kegembiraan mereka dengan Allah Swt. (*)
Editor : Arief