Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Seorang mukmin apabila dia dipuji maka dia malu terhadap Allah, karena dia dipuji dengan sifat yang tidak ia saksikan sifat itu daripada dirinya. Kemudian paling jahil manusia adalah orang yang meninggalkan yakinnya sesuatu di sisinya, karena sangkaan sesuatu di sisi manusia. Apabila diucapkan pujian padamu sedangkan engkau tidak berhak atas pujian itu, maka pujilah dengan sesuatu yang Dia ahlinya yaitu Allah Swt.”
Hikmah ke-140-142 Al Hikam Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari Rahimahullah
Disyarahkan oleh Al- Mukarram Al- Allamah Al- Arif Billah KH. Muhammad Bakhiet
*****
Orang memuji kita ini baik sedangkan kita tidak melihat ada kebaikan ada pada diri kita maka hendaknya kita malu kepada Allah. Kita dikatakan saleh dan adil padahal kita tidak melihat sifat itu ada pada diri kita, maka hendaknya kita malu kepada Allah Swt.
Kita mengetahui diri kita belum baik dan saleh, sedangkan orang-orang hanya menyangka diri kita saleh dan baik. Maka sangatlah bodoh kalau kita menerima sangkaan orang lain, bahwa kita saleh dan baik . Padahal kita yakin dan faktanya memang diri kita ini belum saleh dan baik.
Kita yakin bahwa di kantong kita ada uang sebanyak Rp5 ribu, kenapa yakin? Karena kita tahu duit kita. Tapi orang menyangka bahwa ada uang di kantong kita sebanyak Rp1 juta, hanya sangkaan saja. Kalau kita gembira dengan sangkaan orang dan percaya berarti kita bodoh, padahal kita tahu dan yakin di kantong kita ini hanya ada uang Rp5 ribu.
Kalau kita memegang sangkaan orang dan meninggalkan keyakinan kita berarti ini adalah satu kebodohan ada pada diri kita.
Kita dipuji dengan sesuatu padahal kita tidak punya sesuatu maka pujilah yang punya sesuatu yaitu Allah Swt. maka ucapkanlah “Alhamdulillah” segala puji itu bagi Allah, bukan bagi diriku.
Orang yang beriman, jika dia dipuji dan dia mendapati dirinya berlawanan dengan sangkaan orang yang memuji. Maka dia harus sangat malu kepada Allah Swt. Karena Allah tahu bahwa keadaanya berlawanan dengan pujian itu. Tetapi Allah memberikan anugerah atasnya dengan menutupi aibnya, maka tersembunyilah dari orang yang memuji hakikat perkaranya, yakni kekurangan dan keaiban-keaiban.
Kenapa orang bisa memuji kita? Karena Allah menutupi aib dan kekurangan sehingga bagi yang memuji kita tidak melihatnya. Kita pun meyakini Allah senantiasa mengintai dan mengetahui perkara-perkara kecil dan hakikat keadaan kita.
Seorang yang beriman juga harus menampakan ketidaksukaan atas orang yang memuji dengan membantahnya, tidak gembira dengan pujian tersebut, dan mengucapkan pujian kepada Allah yang telah menutupi aibnya.
Dalam urusan puji memuji ini Imam Ghazali menyebutkan: “Di dalam puji memuji terdapat enam bahaya, ada empat bahaya bagi orang yang memuji dan dua bahaya bagi yang dipuji.” Oleh karena itu Imam Ghazali menyebutkan perkara memuji ini termasuk (bahaya lisan).
Kalau kita ingin tahu mana yang lebih baik antara memuji dan tidak memuji? Maka lebih baik tidak memuji, tapi jangan mencela. Karena pada dasarnya banyak bahayanya, karena memuji itu bisa baik dan berpahala, dengan syarat dan ketentuannya.
Lain halnya kita memuji Allah, maka ini diperintahkan. Memuji Rasulullah disunnahkan, bahkan Allah pun memuji Rasulullah.
Adapun bahaya bagi orang yang memuji, pertama adalah terkadang kelewatan (memuji berlebihan) maka pada akhirnya akan menjadi dusta. Kedua, terkadang memuji itu bisa dimasuki riya, maka bahwasanya dengan pujian itu menampakan kecintaan tetapi terkadang ada yang terkandung di dalamnya (sebaliknya).
Riya bagi orang yang dipuji mungkin mudah difahami. Tapi riya bagi yang memuji adalah seolah-olah dia memuji dengan dasar mencintai, padahal di hatinya belum tentu memuji, sehingga di situ ada kemunafikan. Melakukan sesuatu karena manusia, seperti bawahan memuji atasan.
Ketiga bahaya memuji, terkadang juga orang yang memuji tidak tahu pasti, sedangkan jalan untuk mengetahuinya dengan pasti tidak ada.
Misalnya, memuji seseorang bersih hatinya, ikhlas orangnya. Mana kita tahu! Karena bersih hati dan ikhlas itu perkara hati, tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali Allah. Maka pujian ini tidak diperbolehkan, yang dipuji pun tidak boleh suka karena kita tidak tahu secara pasti.
Keempat, memuji seseorang dengan satu pujian, padahal orang yang dipuji ini adalah zalim dan fasik. Itu satu dosa yang berat bagi kita yang memuji.
Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Swt. itu marah kalau orang fasik dipuji-puji.”
Di dalam riwayat lain dikatakan, Allah marah apabila didoa’akan panjang umur. Kalau ingin mendo’akan juga maka do’akanlah agar dia dapat hidayah.
Sedangkan orang yang dipuji ada dua macam mudharatnya, salah satu dari keduanya adalah orang yang dipuji ini bisa saja dia sombong dan ujub (gara-gara dipuji), kedua bahaya orang yang dipuji ini adalah saat dia gembira dengannya dan menjadi lemah untuk memperbaiki dirinya serta dia ridha dengan nafsunya.
Orang-orang semuanya memuji dengannya, dia orang baik dan saleh maka pujian seperti ini bisa membuat kita lemah dengan nafsu yang menjadi tidak bisa memperbaiki diri lagi.
Apabila selamat puji-pujian dari ini bahaya, baik pada yang memuji atau yang dipuji, maka tidak ada sesuatu yang jahat dengan pujian bahkan terkadang hukum memuji itu sunah.
Jika kita yakin orang yang dipuji dan memuji ini selamat dari bahaya yang empat dan dua macam tadi maka memuji itu bisa jadi sunah dan berpahala.
Oleh karena itu terkadang Nabi Saw. memuji para sahabat. Karena Nabi memuji jelas beliau tidak akan mendapat bahaya yang empat tadi, dan Nabi tahu juga yang dipuji tidak akan mendapat bahaya yang dua macam itu, maka pujian ini menjadi satu kebaikan.
Diantara pujian Nabi kepada sahabat: “Andaikata ditimbang iman Abu bakar as-Sidiq dengan iman seluruh umat niscaya menang iman Abu bakar.”
Ini adalah pujian yang luar biasa, karena Nabi tahu pasti bahwa iman Abu bakar lebih hebat dari alam seluruhnya. Beliau diberi Allah pengetahuan untuk itu karena diberi wahyu sedangkan kita tidak ada oleh karenanya kita tidak bisa mengatakan iman seseorang hebat dan lemah.
Dan sikap Abu bakar saat dipuji Nabi lebih tawaduk dan rajin ibadah kepada Allah Swt. Bukan sombong, sehingga pujian ini menjadi ibadah di sisi Allah Swt.
Hal ini berlaku juga kepada kita, saat melihat ada orang yang saleh dan baik lalu kita puji, tidak riya dan tidak melampaui batas (karena faktanya yang dipuji memang baik) dan yang dipuji ini tidak membuat dia sombong dan malas beribadah, maka pujian ini menjadi pahala untuk kita.
Jadi, pada dasarnya puji-memuji itu tidak baik, bisa saja baik kalau selamat dari bahaya-bahaya di atas tadi. Oleh karena itu, lebih baik tidak memuji karena lebih selamat. Kalau kita tidak memuji tidak bakal makruh bahkan berdosa, tapi kalau ingin memuji dengan seseorang maka perhatikan bahaya yang enam macam tadi kalau aman dari bahaya itu silakan puji, maka pujian itu akan mendatangkan pahala. (*)
Editor : Arief