Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ketika Diri Dipuji: Pujian Dusta dan Pujian Fakta

admin • Jumat, 24 April 2026 | 08:39 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muassis

"Orang-orang memuji padamu disebabkan apa yang mereka sangka ada padamu, karena itu engkau harus mencela dirimu karena apa-apa yang benar-benar engkau ketahui pada dirimu".

Hikmah ke-139 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah AsSakandari Rahimahullah

            *****

Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa diri kita ini masih banyak aibnya, riya, dengki, dendam. Sedangkan orang lain hanya memuji kita dengan sangkanya kepada kita. Tapi kita yakin bahwa kita penuh kekurangan, tidak lepas dari cela, perbuatan dosa dan kejahatan, baik zahir maupun batin. Sehingga janganlah kita menyukai pujian itu, karena kita tahu dengan sebenarnya diri kita.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Setiap anak Adam itu berbuat salah”. (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi)

Kecuali para Rasul dan Nabi yang terpelihara daripada memperbuat maksiat. 

Tetapi dengan ketentuan Allah pada hamba-hambanya, sebagian besar aib yang ada pada diri itu tersembunyi, tidak tahu ada aib itu kecuali orangnya.

Sedangkan orang lain, sunnatullahnya paling hanya mengetahui sedikit tentang aib kita. Bahkan orang terdekat sekalipun seperti istri dan anak. Itu pun hanya aib yang zahir. Sedangkan aib yang ada pada hati, hanya kita yang tahu, dan mereka tidak mengetahuinya. 

Seandainya Allah tidak menutupi aib kita, tentu lah hilang dari mereka kasih sayang dan cinta. Seperti seorang yang memiliki 10 aib dan temannya mengetahui semua aib tersebut, tentu ia menjadi tidak suka, tidak lagi akan tolong menolong. Karena sudah tahu sepenuhnya aib yang ada pada temannya itu.

Lantas bagaimana kita menyikapi pujian? Keadaan pertama seseorang memuji kita dengan sesuatu yang disangkanya ada pada diri kita. Dikiranya kita setiap malam Salat Tahajud, padahal jarang-jarang. Maka jangan gembira dengan pujian itu. Bahkan hendaknya kita mencela diri dan tidak menampakkan kegembiraan dengan pujian tersebut, sehingga terpedaya. Karena dia yang memuji itu tidak tahu kecuali hanya yang zahir saja, dan kita tahu keadaan diri sebenarnya. "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan—jangan sekali-kali kamu mengira mereka terlepas dari siksa. Mereka akan mendapat azab yang pedih”. (Ali Imran: 188)

Sehingga jika kita suka dengan pujian, padahal pujian tersebut tidak benar adanya, maka kita akan diancam siksa oleh Allah Taala.

Keadaan kedua, manusia memuji dengan sesatu yang ada pada dirimu, memang fakta dan memang patut dipuji. Misal dipuji karena selalu salat berjemaah, dan memang demikian kenyataannya. Bagaimana kita menyikapi pujian seperti ini?

Tetap kita berhati-hati dengan pujian itu, meski sesuai dengan keadaan kita. Sikap yang benar adalah bergembira karena Allah memberikan nikmat besar tersebut.

Misalnya dipuji dengan fakta bahwa kita ahli ibadah. Maka boleh gembira, bahkan diperintahkan. Tapi bukan gembira dengan pujian, tapi gembira dengan yang memberikan nikmat dan taufik hidayah, sehingga kita dapat melaksanakan ibadah. Serta memohon ampun kepada Allah yang telah menutupi aib dan kekurangan kita.

Sebagaimana perkataan Sayidina Ali yang diketahui memiliki banyak sifat terpuji, beliau memohon: "Ya Allah ampunilah bagi sesuatu yang mereka tidak mengetahui tentang diriku, dan jangan Engkau siksa aku dengan apa yang mereka katakan terhadapku, dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan kepadaku”.

Ringkasnya, pujian yang ditujukan kepada kita ada dua. Pertama, pujian dusta. Memuji yang tidak benar atas diri kita. Maka terhadap demikian kita hendaknya tidak suka atas pujian tersebut, dan tunjukan ketidaksukaan kita terhadap itu, jangan terperdaya atas demikian itu.

Kedua, pujian fakta. Terhadap ini kita boleh gembira dan suka, tapi sukanya dengan Allah yang memberikan nikmat kepada kita dan menutupi kekurangan dan aib kita.

Bilamana demikian insya Allah kita akan selamat daripada bahaya pujian seperti sombong, ujub dan lemah daripada beribadah.

Kalau orang memuji kita, jika kurang tepat menyikapi akan menimbulkan bahaya atas diri. Tapi jika kita tepat menyikapi pujian, kita akan selamat daripada bahaya pujian-pujian itu.(*)

Editor : Arief
#Tarbiyah