Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Alam semesta tetap dengan ditetapkan oleh Allah dan alam semesta lenyap dengan ke-Esa-an zat Allah Swt.”
Hikmah Ke-138 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
***
Hikmah ini menurut syarah Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, sangat erat dengan hikmah sebelumnya. Ada yang mengatakan hikmah ini adalah buahnya. Bahwa seorang manusia apabila terhenti pandangannya pada benda dan bentuk alam ini, maka alam itu menjadi dinding yang tebal dan menghalangi pandangan pada sesuatu yang ada di balik alam itu, yakni pencipta-Nya.
Sebab sesungguhnya segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah, sebenarnya bertutur dengan suatu kata yang menunjukan kepada pencipta-Nya.
Allah Swt. berfirman: Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. (Al Isra: 44)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tasbih mereka itu adalah kalimat, Laa ilaaha illallahul khaaliq, Tidak ada Tuhan selain Allah yang menciptakan sesuatu.”
Tetapi kita tidak mengerti dengan tutur mereka itu, karena terdinding daripada memandang sesuatu yang ada di balik benda itu. Kita mendengar kicauan burung hanya mendengar kicauan yang indah, padahal maksud dari kicauan itu adalah tasbih.
Anak-anak yang lahir sampai berusia 2 bulan tangisannya bermakna Laa ilaaha illallah. Umur 2 sampai 4 bulan tangisan mereka itu bermakna Ast tsiqatu billah, percaya hanya pada Allah.
Jadi, apabila kita mampu melewati bentuk benda, pandangan kita dapat melihat lebih jauh sampai ke dalam maka kita akan mengerti tasbih-tasbih makhluk Allah itu. Apabila sudah demikian maka mata hati kita akan bisa menyaksikan wujud-Nya Allah Swt.
Maka orang seperti ini adalah orang-orang yang berzikir tapi maknanya adalah (tidak ada yang bersifat wujud kecuali Allah). Ucapannya sama dengan kita yang awam ini, tetapi maknanya berbeda.
Alam semesta ini diadakan oleh Allah Swt, alam semesta ini bukan ada dengan berdiri sendiri, yang ada berdiri sendiri itu hanya Allah Yang Maha Esa.
Kata ahad dengan wahid itu ada perbedaan, walaupun artinya sama-sama esa (satu). Ahad itu tidak boleh dipakai selain Allah, tidak dikatakan laki-laki ‘ahad’ (satu) tetapi dikatakan laki-laki ‘wahid’. Maka wahid itu boleh digunakan untuk Allah dan selain Allah.
Apabila dikatakan tidak ada di rumah itu seseorang (wahid), itu boleh jadi ada dua atau lebih. Tapi, jika dikatakan ‘ahad’ maka, tidak boleh dikatakan dua, tiga atau lebih.
Oleh karenanya Allah Swt berfirman: “Katakan (wahai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa.” (Al Ikhlas: 1)
Kalau bahasa Indonesia sama saja, satu ya satu, tapi beda dengan bahasa arab antara makna ahad dan wahid. Selain Allah tidak ada, kalau ada berarti asalnya tidak ada dan diciptakan oleh Allah sehingga menjadi ada.
Adanya kita dan siapapun karena diadakan oleh Allah, sebenarnya kita ini tidak ada. Jadi, kalau ada yang mengatakan merasa diri ini ada maka kafir, maka benar perkataan orang tersebut, karena merasa ada berarti merebut sifat Allah, sebab yang wujud hanya Allah.
Muncul pertanyaan, lantas adanya kita ini apa? Maka jawabnya adalah, ‘kita ini diadakan oleh Allah Swt.’ ‘Ada’ dengan ‘diadakan’ itu berbeda.
Jadi, segala yang ada di alam baik kecil dan besar, tampak atau tidak, semuanya tidak ada, kemudian baru diadakan oleh Allah Swt.
Mengetahui dan yakin bahwa alam semesta ini tidak ada, jika tidak diadakan oleh Allah. Meyakini tidak ada daya jika tidak diberi oleh Allah, tidak ada kekuatan jika tidak dikuatkan oleh Allah, alam semesta ini tidak bisa memberi manfaat atau mudarat, kalau tidak diberi manfaat atau mudarah oleh Allah. Keyakinan seperti ini akan membuahkan banyak sifat-sifat terpuji di dalam diri kita.
Kalau kita sudah ma’rifat seperti demikian, maka akan timbul sifat-sifat yang mulia di dalam diri kita ini. Diantaranya, sifat Ikhlas.
Kita tidak akan bisa ikhlas kalau masih berkeyakinan bahwa alam ini ada, bisa memberi manfaat, bisa memberi mudarat, bisa diharapkan maka seumur hidup tidak akan bisa ikhlas beribadah kepada Allah.
Hilangkan pengakuan kita terhadap alam ini bahwa ia ada, yang ada ini hanya diadakan saja, kalau Allah mengehendaki esok pun juga bisa tidak ada lagi.
Maka dia tidak beramal kecuali karena Allah Yang Esa sebenarnya, sehingga tampaklah pengakuan hamba, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku karena Allah.”
Mari intropeksi diri apakah pengakuan ini benar? Seperti apa salat, ibadah, hidup dan matiku karena Allah ini? Itulah hidup orang-orang menggunakan nikmat apapun yang diberikan oleh Allah untuk jalan yang diridhai-Nya. Mati karena Allah adalah matinya dalam keadaan beribadah, menuntut ilmu, mencari rezeki karena menafkahi keluarga.
Allah Swt. berfirman: "Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia menyekutukan dengan apa pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (Al Kahfi: 110)
Sifat kedua yang muncul adalah tawakal. Seorang yang bertawakal tidak bergantung lagi hatinya kecuali dengan Allah Swt. Bergantung dengan alam semesta ini sama saja tidak punya apa-apa, sebab asalnya memang tidak ada. Kalau mau bergantung maka bergantunglah kepada zat yang Maha Ada, Maha Hidup dan Maha Segala-galanya.
Sifat tawakal ini akan muncul kalau keyakinan kita sudah benar, bahwa alam ini tidak ada, jika tidak diadakan oleh Allah Taala.