MARTAPURA - Persiapan haul ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampayan tak hanya diwarnai kesibukan para relawan. Di tengah proses pemotongan daging untuk konsumsi ribuan jemaah, muncul sebuah temuan yang menyita perhatian. Yakni, ada sebuah pola pada sepotong daging sapi yang oleh sebagian orang menyerupai lafaz Allah.
Momen itu terjadi pada Selasa (24/3) malam. Saat para relawan membelah dan merapikan potongan daging sapi yang akan dimasak untuk ribuan jemaah haul ke-220 Datu Kelampayan, satu potongan mendadak menyita perhatian.
Ahmad Muzakir, relawan Juleha (Juru Sembelih Halal) Kabupaten Banjar, masih mengingat betul momen tersebut. Saat itu ia bersama relawan lain tengah memotong daging menjadi bagian kecil untuk konsumsi jemaah. “Waktu mengiris daging kecil-kecil buat dimasak, ketemu itu,” ujarnya.
Potongan yang dimaksud berasal dari bagian paha kaki depan sapi. Sekilas tampak seperti guratan biasa. Namun ketika diperhatikan lebih dekat, pola serat dan lemak pada daging itu membentuk lekukan yang oleh sebagian orang menyerupai lafaz Allah.
Temuan itu pertama kali disadari oleh Guru Fadlullah, putra Tuan Guru Tarhib. Momen tersebut kemudian diabadikan oleh Abdul Bari akrab disapa Paman Bari, yang segera memotret potongan daging tersebut. “Yang pertama kali menemukan Guru Fadlullah, lalu difoto oleh Paman Bari,” kata Muzakir.
Dari total 13 ekor sapi yang disiapkan untuk puncak haul, Muzakir memastikan hanya satu potongan itu saja yang memiliki pola serupa. “Itu saja, tidak ada di potongan lain,” imbuhnya.
Ia juga memastikan kondisi sapi dalam keadaan sehat saat disembelih. Proses pemotongan pun dilakukan sesuai standar halal oleh para relawan Juleha. Meski demikian, soal makna di balik temuan tersebut, Muzakir memilih tidak bersikap mutlak.
Ia membuka ruang tafsir, sebagaimana respons beragam yang berkembang di masyarakat. “Bisa dikatakan kebetulan. Bisa juga ada makna tertentu, karena daging itu untuk acara haul Datu Kelampayan,” tukasnya.
Ia bahkan menyebut, sebagian orang memandangnya sebagai isyarat spiritual. “Boleh dikatakan Allah menunjukkan bukti karomah Datu Kelampayan lewat perantara daging sapi tersebut,” imbuhnya.
Di sisi lain, fenomena semacam ini juga kerap dikaitkan dengan persepsi visual manusia yang bisa menangkap pola tertentu dari bentuk acak. Namun bagi para relawan di lokasi, momen tersebut tetap menjadi pengalaman yang membekas di tengah kesibukan mereka melayani jemaah.
Di balik tafsir yang beragam, Muzakir menegaskan bahwa semangat kebersamaan dan pengabdian para relawan tetap menjadi hal utama. Sebab bagi mereka, yang terpenting adalah memastikan setiap jemaah haul dapat menikmati hidangan dengan layak. “Karena bagi kami ini bagian dari penghormatan kepada ulama besar yang telah meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam di Kalimantan Selatan,” pungkasnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief