BARABAI - Selain aktif berdakwah, H Ahmad Nawawi Abdurrauf juga menjadi pengasuh sekaligus pendiri pondok pesantren At-Taubah Lapas Amuntai. Selain memegang beberapa majelis taklim di berbagai tempat, sosoknya juga dikenal sebagai seorang penulis.
Ustaz Nawawi lahir pada 12 Oktober 1971. Lulusan di IAIN Antasari (Sekarang UIN Antasari) Fakultas Tarbiyah jurusan PAI. Ia juga lulusan pasca sarjana di UNINUS Bandung, Jawa Barat.
Sejak kuliah ia dikenal aktif mengikuti program kader dakwah di Lembaga Pendidikan Kader Dakwah Praktis (LPKDP). Sehingga mengantarkannya pada Pembibitan Calon Dai Muda Indonesia (PCDMI) Departemen Agama tahun 1995.
Ada beberapa karya buku yang telah dihasilkan Ustaz Nawawi. Namun, salah satu yang paling menarik adalah buku yang berjudul Retorika Dakwah. Buku ini tentang tata cara penyampaian bahasa materi dalam berdakwah, sehingga objek yang disasar bisa mudah menerima apa yang disampaikan.
Kemudian hasil dari pesan yang disampaikan pada ujungnya yakni membuat pendengar atau murid memiliki akhlak mulia. “Sebagai penulis, ingin punya keinginan kuat membagikan pengalaman kepada generasi sekarang. Bahwa berdakwah bukan sekadar keterampilan tapi ada tujuan yakni menggapai rida Allah,” ujarnya Selasa (17/3).
Ia membagi pendakwah menjadi dua. Yakni lahir karena alami, ada juga melalui proses yang tersturktur. Keduanya sama bagus, karena yang terpenting adalah pesan-pesan yang disampaikan sampai kepada jemaah.
Bagi para dai baru, buku ini cukup penting sebagai pedoman. Agar memiliki metode yang runut dan terarah dalam menjadi pendakwah. “Dalam dakwah ada tiga komponen penting yang harus diperhatikan yaitu subjek, materi dan objek,” terangnya.
Dengan mempelajari Retorika Dakwah, materi yang akan disampaikan sesuai dengan siapa yang akan dihadapi. Objek ini terbagi beberapa bagian. Ada objek umum, khusus, sekolah dan lain-lain.
Sebagai pendakwah, tiga komponen ini harus selalu menjadi pedoman. Karena persiapan menjadi pendakwah, kemudian materi yang berbobot dan juga objek harus dikenal. “Ada satu ungkapan dalam Retorika Dakwah, yakni naik panggung tanpa persiapan. Maka akan turun panggung tanpa penghormatan,” jelasnya.
Ustaz Nawawi menegaskan, menjadi seorang pendakwah tak selalu luput dari sebuah kesalahan. Karena sejatinya mereka juga manusia biasa. Namun dengan persiapan yang matang. Pendakwah bisa memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa buku ini Retorika Dakwah itu ada.
“Metode itu lebih penting dari materi. Karena saat kita menguasai materi tapi tidak paham metode penyampaian, maka objek atau jemaah bisa tidak paham,” katanya.
Begitu juga sebaliknya, metode dan materi dakwah sudah baik, namun akhlak pendakwah tidak sesuai dengan kaidah. Oleh sebab itu seorang dai harus memiliki teladan, dan memperbanyak mendalami ilmu.
Retorika dakwah menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan seorang penceramah dalam menyampaikan pesan kepada jamaah. Penyampaian yang penuh semangat, ekspresif, dan menyentuh emosi terbukti mampu mempengaruhi suasana hati pendengar, bahkan mendorong mereka untuk mengamalkan isi ceramah.
Dalam materi yang disampaikan, disebutkan bahwa gaya penyampaian penceramah sangat berpengaruh terhadap respons audiens. “Ketika penceramah membawakan isi ceramahnya dengan bersemangat, kita ikut bersemangat, terdorong hati untuk melaksanakan apa yang disampaikan,” ucapnya.
Tak hanya itu, variasi nada dan ekspresi juga menjadi kekuatan tersendiri. Saat penceramah menyampaikan pesan dengan nuansa sedih, pendengar bisa ikut terharu. Sebaliknya, jika disampaikan dengan humor, suasana menjadi cair dan mengundang tawa.
“Ketika menyampaikan dengan nada yang sedih kembali kita ikut sedih, bahkan menitikkan air mata, atau ketika ceramahnya gembira obyek (pendengar) akan terpingkal-pingkal tertawa,” ujarnya.
Keahlian seorang penceramah seringkali membuat pendengar terkesima dan bertanya-tanya mengenai kemampuan tersebut. Penampilan, gaya bicara, hingga penguasaan materi yang sistematis menjadi faktor yang dinilai penting.
Selain itu, pendidikan dan wawasan yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif juga berperan dalam membentuk kualitas penceramah. Di samping itu, jiwa dakwah yang tinggi, integritas, serta karakter amar makruf nahi munkar menjadi landasan utama dalam menyampaikan pesan keagamaan.
Maka, retorika dakwah bukan hanya soal kemampuan berbicara, tetapi juga perpaduan antara bakat, latihan, pengetahuan, serta niat yang tulus dalam berdakwah.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief