MARTAPURA - Di sebuah ruangan sederhana di Gedung NU Martapura, sekelompok kiai duduk melingkar. Di tangan mereka bukan kitab kuning yang lazim dikenal luas di pesantren-pesantren Nusantara.
Kitab yang dibaca malam itu lahir dari tanah Banjar. Judulnya Mir’atthulab fi Ilmil Adab. Kitab tersebut merupakan karya Syekh Abdul Qadir Hasan, ulama sepuh Martapura yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Tuha.
Selama puluhan tahun, tulisan itu hanya berupa catatan tangan yang tersimpan rapi di rumah keluarganya. Kini, catatan tersebut kembali hidup setelah dicetak ulang oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Banjar.
Bagi kalangan Nahdliyin di Banua, kitab itu bukan sekadar buku. Ia adalah jejak pemikiran seorang ulama yang pernah membawa Nahdlatul Ulama ke Kalimantan. “Kitab ini cerminan seorang santri dalam berperilaku. Disusun dari catatan-catatan Guru Tuha yang diwariskan kepada ahli warisnya,” ujar Mustasyar PCNU Banjar, M Zaini.
Penerbitan ulang kitab tersebut sekaligus membuka kembali kisah perjalanan panjang seorang ulama Banjar yang pengaruhnya melampaui zamannya.
Syekh Abdul Qadir Hasan lahir pada 1881 di Desa Tunggul Irang, Martapura. Ia tumbuh dalam keluarga ulama. Ayahnya, KH Hasan, adalah pimpinan kedua Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Pada masa itu, pendidikan di Darussalam masih menggunakan sistem halaqah, yakni pengajian melingkar di sekitar guru. Tradisi keilmuan seperti inilah yang membentuk karakter intelektual Guru Tuha sejak kecil.
Ia belajar kepada sejumlah ulama Banjar, seperti Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar, Tuan Guru Abdurrahman (Guru Adu), serta KH Husen Qadri dalam bidang ilmu nahwu dan sharaf.
Namun perjalanan intelektualnya tidak berhenti di tanah Banjar. Ketika kabar berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang sampai ke Martapura, Kasyful Anwar mengirim murid terbaiknya itu ke Jawa. Tujuannya menyambung sanad keilmuan kepada pendiri pesantren tersebut, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Madura untuk berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Madrasah Salathiyah di Makkah. Jejak pendidikan itu memperlihatkan bagaimana jaringan ulama Nusantara pada masa itu terhubung erat dari Banjar hingga Hijaz.
Sepulang dari pengembaraan ilmu, Guru Tuha kembali ke Martapura dan mengabdikan diri di Pondok Pesantren Darussalam. Ia menjadi tangan kanan gurunya, Kasyful Anwar. Setelah sang guru wafat, Guru Tuha melanjutkan kepemimpinan pesantren tersebut pada periode 1940–1959.
Selain mengajar dan berdakwah, Guru Tuha juga dikenal sebagai sosok yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satu buyut beliau, Guru Zayadi, menyebutkan bahwa Abdul Qadir Hasan pernah menjadi bagian dari pasukan gerilya di Tanah Banjar. “Ini dibuktikan oleh para khadamnya di Darussalam. Sebelum kemerdekaan, beliau termasuk pasukan perang gerilya,” ungkapnya.
Di lingkungan pesantren, Guru Tuha dikenal sebagai penggerak pendidikan yang progresif. Ia mengirim banyak guru Darussalam ke berbagai daerah, bahkan hingga luar Kalimantan Selatan, untuk mengajar dan mendirikan madrasah. Langkah ini kemudian melahirkan jaringan luas pendidikan Darussalam yang dikenal hingga sekarang.
Ketika Jepang menduduki Indonesia dan banyak lembaga pendidikan terhenti, Guru Tuha tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan cara membagi kelas ke rumah-rumah para guru. Upaya itu terus berlangsung hingga Jepang meninggalkan Martapura pada 1945.
Tradisi intelektual yang dibangun Guru Tuha tidak berhenti pada pendidikan formal. Saat memimpin Darussalam, ia sering mengadakan forum perkumpulan ulama untuk membahas persoalan umat. Hasil diskusi kemudian disampaikan kepada masyarakat sebagai panduan keagamaan.
Forum inilah yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal bahtsul masail di Kalimantan Selatan. Tradisi tersebut masih hidup hingga kini dalam berbagai forum keilmuan NU di Banua.
Sisi lain, di tengah kesibukannya mengajar dan berdakwah, Guru Tuha juga menulis. Namun sebagian tulisannya itu tidak pernah diterbitkan semasa hidupnya. Catatan-catatan tersebut hanya tersimpan dalam bentuk buku saku berhuruf Arab Melayu.
Tulisan itu diwariskan secara turun-temurun, dari putranya Ustadz Abdul Hakim, kemudian ke cucunya Ustadz Muhammad Mursyidi, hingga akhirnya disimpan oleh buyutnya, Guru Muhammad Jayadi.
Beberapa tahun lalu, salah satu dzuriyahnya, KH Muhammad Zaki, menemukan kembali catatan tersebut. “Saya pinjam untuk dicopy dan ditata ulang agar lebih baik. Dari sanalah kitab Mir’atthulab fi Ilmil Adab diterbitkan ulang,” ujar Guru Zaki.
Penerbitan ulang kitab ini kemudian difasilitasi oleh LTN PCNU Kabupaten Banjar. Ketua LTN PCNU Banjar, Muhammad Fahrie, mengatakan bahwa awalnya kitab ini hanya diajarkan di lingkungan keluarga Guru Tuha. “Kitab ini adalah kumpulan catatan Guru Tuha selama menuntut ilmu yang disimpan oleh salah satu buyut beliau,” ujarnya.
Namun pengurus NU Banjar kemudian sepakat untuk menghidupkan kembali karya ulama lokal sebagai bahan kajian. “Dalam Lailatul Ijtima, kami ingin memakai kitab karya ulama NU, khususnya tokoh Martapura yang menjadi penggerak NU di Tanah Banjar,” kata Fahrie.
Kini sekitar 150 eksemplar kitab telah dicetak dan digunakan sebagai bahan kajian dalam Lailatul Ijtima, forum rutin PCNU Banjar yang digelar setiap bulan. Isi kitab Mir’atthulab fi Ilmil Adab berfokus pada satu hal utama. Yaitu adab.
Di dalamnya dibahas berbagai etika kehidupan, mulai dari adab seorang santri kepada guru, adab anak kepada orang tua, hingga etika seorang pemimpin. Pada bagian awal kitab, Guru Tuha bahkan menjelaskan hubungan adab antara anak dan orang tua melalui perumpamaan sederhana.
Pada bagian lain, Guru Tuha menulis bahwa adab adalah ilmu untuk membersihkan perangai dan membedakan antara kebaikan dan keburukan. “Dengan adab, seseorang mampu mengobati diri dari sifat tercela hingga perangainya menjadi terpuji,” tulisnya.
Syekh Abdul Qadir Hasan wafat pada 17 Juni 1978 dan dimakamkan di kawasan Masjid Agung Al-Karomah Martapura. Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan menjadi nama sebuah masjid di Desa Kiram.
Namun warisan terbesarnya bukan hanya bangunan atau jabatan. Ia hidup dalam jaringan pendidikan Darussalam, tradisi bahtsul masail, serta karya-karya yang kini kembali ditemukan. “Saya sangat senang sekali. Kitab ulama kita dicetak ulang dan dikaji lagi,” ujar Fahrie.
Baca berita terkini tentang Kalsel di RADAR BANJARMASIN. Klik di sini
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief