Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Goresan Pena Mursalin: Memburu Arsip Kolonial Belanda, Ungkap Spiritualitas Pejuang

M Dirga • Selasa, 17 Maret 2026 | 11:41 WIB

Photo
Photo

BANJARMASIN - Aktivitas akademis di ruang kuliah Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin hanyalah satu sisi dari keseharian Mursalin. Di luar jam mengajar sebagai dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), ia menghabiskan waktu dengan bergelut di antara tumpukan manuskrip kuno dan arsip kolonial.

Bagi pria yang fokus pada Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ini, sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan benteng identitas yang harus terus diperkuat melalui tulisan.

Minat besar Mursalin terhadap dunia sejarah sudah berakar sejak ia duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Ketertarikan itu dipicu oleh koleksi majalah Gatra dan Tempo edisi tahun 1970-an milik almarhum kakeknya, serta modul-modul sejarah milik orang tuanya yang juga seorang guru. Pengalaman masa kecil inilah yang kemudian membawanya menempuh studi pendidikan sejarah di FKIP ULM hingga kini menjadi peneliti produktif.

Baginya, Islam di Banjar adalah sebuah fenomena unik yang pengaruhnya menembus batas negara. Keberadaan ulama-ulama besar seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari yang karyanya diakui di Timur Tengah hingga semenanjung Malaya, menjadi bukti betapa kuatnya tradisi intelektual Banua di masa lalu.

“Islam Banjar itu unik karena pemikir-pemikirnya sangat berpengaruh secara internasional. Nama-nama Al-Banjari banyak ditemukan di Mekah, Malaysia, hingga Sumatera,” kata Mursalin.

Karya tulis dan pemikiran para ulama Banjar juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat dan budaya di Banua. Saat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari kembali ke banua setelah menuntut ilmu di Mekkah, beliau membawa reformasi ilmu dan hukum.

Dibuktikan dengan banyaknya berdiri lembaga pendidikan keagamaan di Banua, sehingga membentuk cara berfikir dan kebudayaan masyarakat banjar. “Pengaruh keilmuan seperti fiqih dan tafsir yang mereka bawa pulang membentuk cara berpikir dan kebudayaan kita, termasuk lahirnya tradisi Batamat dan berbagai tradisi lain,” tambahnya.

Dalam membedah sejarah, Mursalin sangat mengandalkan sumber primer yang valid. Ia kerap memburu arsip kolonial Belanda seperti memorie van overgave (memori serah jabatan) serta catatan perjalanan kuno. Tak jarang, ia juga menelusuri sumber sekunder sezaman berupa koran dan jurnal yang ditulis langsung oleh saksi sejarah.

Ketekunannya dalam riset membawa Mursalin terlibat dalam proyek besar, seperti penelitian naskah Hikayat Banjar bersama peneliti internasional dari Singapura. Ia juga telah melahirkan sejumlah karya, mulai dari buku Perempuan Banjar dalam Arus Sejarah Gender, hingga keterlibatannya dalam menyusun Profil Gubernur Kalimantan Selatan dari era P.M. Noor sampai Sahbirin Noor.

Namun, di antara sekian banyak riset, penelitian tentang tokoh pejuang Banjar memberikan kesan mendalam baginya. Saat meneliti Penghulu Rasyid pada 2021, Mursalin menemukan data-data kuat tentang bagaimana identitas haji pada masa perang Banjar begitu diwaspadai oleh pemerintah Belanda karena dianggap sebagai motor perlawanan.

Kesan mendalam itu pula yang melahirkan buku Demang Lehman, sebuah karya kolaborasi bersama akademisi ULM, Mansyur. Proyek ini bermula dari kedatangan jurnalis radio Belanda pada 2019 yang menginvestigasi sang panglima. Ia menyebut buku ini sebagai karyanya yang paling serius dan membutuhkan usaha ekstra panjang.

Lewat buku tersebut, Mursalin mengungkap sisi spiritualitas Demang Lehman yang selama ini jarang diketahui publik. Ia menemukan fakta bahwa sang panglima tetap tegar meski dijatuhi hukuman mati, karena memiliki landasan tauhid yang kokoh.

“Beliau sangat kuat secara spiritual. Saat ditangkap dan menunggu eksekusi mati, beliau tidak sedikit pun gentar. Beliau tetap berpuasa dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Di tangannya selalu ada Alquran dan tasbih. Inilah sisi spiritualitas yang ingin saya tonjolkan,” ungkapnya.

Kegelisahan utamanya saat ini adalah keterbukaan masyarakat Banjar yang berisiko membuat mereka kehilangan identitas. Ia melihat banyak hasil riset sejarah Banjar yang kurang mendapat apresiasi dari pembaca, sehingga informasi berharga hanya berhenti di kalangan terbatas.

“Masyarakat kita terbentuk dari berbagai budaya sehingga sangat terbuka, tapi ada kemungkinan kehilangan identitas. Pesan saya, mulailah membaca sejarah kita supaya tidak kehilangan jati diri. Literasi harus membaik agar nilai positif dari generasi terdahulu tidak hilang dan tidak terjadi disinformasi,” tegasnya.

Ia berharap tradisi literasi tulisan yang kuat di masa lalu, seperti penggunaan aksara Arab Melayu, bisa dihidupkan kembali oleh generasi muda peneliti. Baginya, semakin banyak peneliti dan penulis yang lahir, maka semakin terjaga pula warisan intelektual Islam di Banua. “Melalui tulisan, kita menjaga agar nilai-nilai luhur dan sejarah perjuangan kita tetap terbaca dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Baca kumpulan berita terkini RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #uin antasari banjarmasin #kota banjarmasin #Ulama Kalsel #Literasi Kalsel