BANJARBARU - Dibalik aktivitas mengajar, berdakwah dan berceramah, ada satu hal yang terawat dalam pikiran Ustaz Abrar Masrawi hingga sekarang. Bagaimana caranya, agar manakib tokoh-tokoh Islam dan ilmu tentang akhlak, khususnya dalam berumah tangga bisa disampaikan dengan mudah dan cepat diserap oleh para jemaah.
Itu pula yang mendorongnya hingga kini masih aktif menulis kitab. Ditekuninya berawal dari kebiasaan berdakwah dan memenuhi permintaan masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan. Sejak 2010, ia mulai aktif menulis ketika sering diminta memimpin pembacaan yasinan, maulid, isra miraj hingga manakib di berbagai majelis agama di Banjarbaru dan sekitaran Martapura.
Menurutnya, saat itu termasuk dorongan istri, masyarakat kerap meminta pembacaan manakib tokoh-tokoh ulama tertentu. Namun, kitab yang diperlukan sering kali harus dicari atau dibeli terlebih dahulu.
Dari situ, ia kemudian berinisiatif mengumpulkan dan merangkum berbagai manakib yang sering dibaca masyarakat Banjar dalam satu kitab agar lebih mudah digunakan.
Beberapa tokoh yang kerap dibacakan manakibnya antara lain, Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Samman Al-Madani, serta Siti Khadijah. “Dengan begitu ketika ada orang yang memiliki hajat dan ingin membacakan manakib, tidak perlu lagi mencari kitab yang berbeda-beda,” tuturnya.
Selain merangkum manakib, ia juga menulisnya dengan gaya penyederhanaan dari sumber-sumber klasik. Menurutnya, kitab-kitab berbahasa Arab terkadang cukup sulit dipahami oleh masyarakat awam.
Maka, ia mencoba meringkas serta menerjemahkan sebagian isi kitab agar lebih mudah dipahami dan diamalkan oleh jemaah pengajian. “Paling banyak ditulis dengan Arab Melayu atau aksara Jawi. Kemudian latin Indonesia dan beberapa bahasa Arab murni,” ujarnya.
Ia mengaku, sebenarnya sudah mulai menulis sejak 2003 silam. Saat masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Ilmi. Pada awalnya, tulisan tersebut masih dibuat secara manual dengan tulisan tangan.
Tulisan itu kemudian dibaca dalam majelis-majelis pengajian hingga terus berkembang mengikuti fasilitas zaman, sampai akhirnya menyebar di kalangan santri dan para guru agama. Hingga kini, Ustaz Abrar telah menulis sekitar 60 judul kitab, yang sebagian besar membahas tasawuf dan pembinaan akhlak.
Tema tersebut dipilih karena persoalan akhlak menjadi hal penting dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun dalam kehidupan rumah tangga.
Ia juga banyak menulis kitab yang membahas nasihat kehidupan keluarga, pernikahan, serta pembinaan akhlak perempuan, karena mayoritas jemaah pengajiannya merupakan kalangan ibu-ibu. “Tujuannya supaya masyarakat bisa memperbaiki akhlak, baik kepada guru, orang tua, pasangan, maupun sesama,” terangnya.
Kitab-kitab tersebut umumnya dicetak dalam jumlah terbatas sesuai kebutuhan, terutama untuk kalangan santri di Pondok Pesantren Darul Ilmi maupun majelis taklim yang memerlukan bahan pengajian. “Bagi mereka yang perlu, kita berikan. Kalau memungkinkan, tidak mengkomersilkan kepada masyarakat umum,” tegasnya.
Ustaz Abrar lahir di Amuntai, 9 Juli 1982, tepatnya di Desa Sungai Turak. Ia menempuh pendidikan di Pemangkih, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Ilmi pada 2000–2004. Setelah itu, ia sempat menimba ilmu di Bogor bersama Syekh Nuruddin Marbu Al-Banjari, yang menurutnya menjadi salah satu tokoh yang memotivasi dirinya untuk menulis kitab, karena Syekh Nuruddin juga seorang penulis kitab.
Sepulang dari sana, ia mulai aktif mengajar di Pondok Pesantren Darul Ilmi, tepat yang sama di mana ia tumbuh dan dididik untuk berdakwah di berbagai majelis. Menurutnya, menulis kitab merupakan salah satu cara meninggalkan amal jariah yang terus bermanfaat bagi masyarakat.
“Tulisan masih ada dan dibaca orang, meski umur kita habis. Mudah-mudahan pahalanya terus mengalir. Mudah-mudahan semakin banyak para ulama menulis, karena ilmu mereka sangat luas untuk dipelajari,” tutupnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief