BANJARBARU – Sosok KH Ahmad Fahmi Zamzam atau akrab disapa Abuya masih terus dikenang oleh para santri dan pengajar di Pondok Pesantren Yayasan Islam Nurul Hidayah Yasin. Bagi mereka, Abuya bukan hanya seorang ulama, tetapi juga guru sekaligus figur ayah yang membimbing kehidupan para muridnya. Baik dalam ilmu agama maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pengajar sekaligus pengurus pesantren, Ustaz Muhammad Imran dan Ustaz Fahrian, mengenang Abuya sebagai pribadi yang memiliki banyak sisi keteladanan. Pengaruhnya tidak hanya terasa di ruang kelas atau majelis ilmu, tetapi juga tertanam kuat di hati para santri yang pernah belajar di bawah bimbingannya. “Bagi kami, Abuya adalah seorang yang luhur sekaligus seperti ayah,” ujar Ustaz Imran.
Di lingkungan pesantren, Abuya dikenal tidak hanya mengajarkan kitab-kitab agama. Ia juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada para santri melalui sikap, nasihat, serta teladan dalam keseharian.
Selain sebagai pengajar, Abuya juga dikenal sebagai penulis produktif. Sepanjang hidupnya, ia menghasilkan lebih dari 40 karya tulis yang membahas berbagai tema keislaman, mulai dari akhlak, tasawuf, hadis, hingga sejarah tokoh Islam.
Beberapa karya yang cukup dikenal di kalangan masyarakat, antara lain 40 Hadis Penawar Hati, Ilmu dan Akhlak, Kiamat Hampir Tiba, serta Terjemahan Bidayatul Hidayah yang ditulis dalam versi Arab Melayu maupun Latin. Ada pula kitab Wahai Anakku Yang Tercinta yang memuat nasihat para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Ibnu Wardi.
Dalam bidang tasawuf, Abuya juga menerjemahkan sejumlah karya penting seperti Terjemahan Bustanul Arifin dan Terjemahan Qasidah Burdah. Salah satu karyanya yang paling tebal adalah kitab Sairus-Salikin yang diterbitkan dalam beberapa jilid dan membahas perjalanan spiritual serta ilmu tasawuf secara mendalam.
Selain itu, terdapat pula karya lain seperti Bekal Akhirat, Tiga Hadis Musalsal, Adab Jadi Imam dan Ma’mum, Rahasia Puasa dan Adab Membaca Al-Qur’an, serta Syamail Rasulullah SAW yang mengulas tentang akhlak dan sifat Nabi Muhammad SAW.
Karya Abuya tidak hanya dipelajari di Indonesia. Kitab-kitabnya juga digunakan di berbagai majelis ilmu di Asia Tenggara, khususnya di Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan sebagian besar karyanya dicetak dan dipublikasikan di Malaysia.
Selain menulis, Abuya juga dikenal melakukan tahqiq atau penyuntingan terhadap sejumlah kitab klasik agar lebih mudah dipahami oleh generasi masa kini. Di antaranya adalah kitab Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin. “Guru-guru merasa sangat terbantu dengan tahqiq Abuya. Kitab yang dulunya sulit dibaca menjadi lebih mudah dipahami,” tambah Ustaz Imran.
Di luar aktivitas menulis, kehidupan Abuya juga dipenuhi dengan kegiatan dakwah. Ia rutin mengisi majelis ilmu di berbagai daerah seperti Banjarbaru, Balikpapan, hingga Samarinda. Dakwahnya bahkan menjangkau Kuala Lumpur di Malaysia, serta beberapa majelis di Singapura dan Thailand.
Perjalanan dakwah tersebut menjadi bagian dari kesehariannya. Dari Banjarbaru, ia kerap terbang menuju Balikpapan untuk mengisi pengajian, lalu melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Setelah itu, ia juga sering melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur untuk mengisi majelis ilmu selama beberapa hari. “Perjalanan itu bukan sekadar traveling, tapi untuk berdakwah,” kenang Ustaz Fahrian.
Abuya KH Ahmad Fahmi Zamzam lahir di Kampung Harus atau Harusan, sebuah desa di pinggiran Sungai Tabalong, wilayah Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ia lahir pada 9 Juni 1959 atau bertepatan dengan 2 Dzulhijjah 1378 Hijriah.
Abuya merupakan anak kedua dari 12 bersaudara dari pasangan Haji Zamzam bin Haji Hasan dan Hajjah Kamsiah binti Abdurrahman. Dalam perjalanan intelektualnya, pemikiran ulama besar Maulana Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi memberikan pengaruh besar terhadap pandangan Abuya. Dari pemikiran tersebut, ia kemudian memilih menempuh jalan dakwah melalui dunia pendidikan.
Melalui pesantren, majelis ilmu, dan karya tulisnya, Abuya berupaya menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda. Perjuangan itu juga terlihat saat awal berdirinya Pondok Pesantren Yasin di Banjarbaru pada 2004.
Saat itu kondisi lingkungan masih sangat sederhana, bahkan listrik belum tersedia. Jumlah santri angkatan pertama hanya sekitar 30 orang dan seluruhnya belajar secara gratis. “Beliau bukan hanya mengajari kami, tetapi juga mencarikan sumbangan untuk makan kami. Semua dimulai dari nol,” ujar Ustaz Fahrian.
Abuya KH Ahmad Fahmi Zamzam wafat pada 30 Oktober 2021 atau bertepatan dengan 23 Rabiul Awal. Meski telah tiada, warisan ilmu, karya tulis, serta semangat dakwahnya tetap hidup melalui para murid, majelis ilmu, dan pesantren yang ia dirikan.
Editor : Arief