Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cahaya Keyakinan, Memancarkan Ke dalam Hati

admin • Jumat, 13 Maret 2026 | 10:06 WIB

 

H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

            Oleh: H. Muhammad Tambrin
            Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Jikalau memancar bagi engkau oleh cahaya keyakinan niscaya engkau melihat akhirat itu lebih dekat kepada engkau dari bahwa engkau berangkat kepadanya dan niscaya engkau melihat keindahan-keindahan dunia ini sungguh tampak gerhana kebinasaan atasnya.”

Hikmah ke-133 Al-Hikam Al-Atha’iyyah, Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

         ****

Disyarahkan oleh Al- Mukarram Al- Allamah Al- Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, yakin itu adalah ilmu yang tidak bercampur dengan keragu-raguan. Kita mengetahui manusia pasti mati, kita yakin karena sedikit pun di dalam hati kita tidak ada keraguan bahwa manusia pasti mati.

Semua itu seandainya kita mempunyai yakin yang memancar dan bisa menerangi hati kita, niscaya kita dapat melihat akhirat sangat dekat dan kita melihat bahwa keindahan dunia ini adalah kegelapan, banyak susahnya dan sedikit kelapangan.

Namun, masalahnya kita yakin bahwa akhirat itu lebih baik dari dunia yang ditunjukan Alquran dan hadits Nabi, tapi sangat disayangkan keyakinan kita ini belum memancarkan cahayanya seperti senter yang tidak bisa menyala.

Kita sangat yakin, bahkan siapapun menggoda dan merayu bahwa dunia lebih baik dari akhirat tentu kita tidak mau mengikuti pendapatnya. Tapi sayangnya, yakin itu belum memancarkan cahayanya ke dalam hati, jika seandainya cahaya itu sudah memancar ke dalam hati kita, maka kita akan melihat ternyata akhirat memang lebih baik dan dunia patut untuk ditinggalkan.

Masalahnya, bagaimana caranya agar keyakinan yang sudah yakin ini memancarkan cahayanya?

Para ulama menjelaskan untuk memancarkan keyakinan yang sudah ada itu. Kalau kita mengikuti petunjuk ini, maka cahaya itu akan memancar dan dapat membedakan yang mana batu dan yang mana intan. Karena selama ini tidak memancarkan cahaya dan gelap maka kita ambil melulu.

Caranya itu adalah memperbanyak zikir Laa ilaaha Illallah. Pengertian banyak itu menurut pendapat sebagian ulama paling sedikit 700 kali. Karena sebanyak zikir tidak terhingga karena ada wali Allah berzikir sebanyak hitungan nafas yang keluar masuk. Maka ukuran banyak paling sedikit 700 kali.

Maka 700 kali zikir Laa ilaaha Illallah kalau kita ucapkan dengan keadaan yang bagus dan hati menghayati maka ada pengaruh yang luar biasa. Kenapa zikir yang kita baca tidak berpengaruh? Karena hati kita tidak berzikir sekalipun banyak, selama ini hanya lisan oleh karena itu tidak memberi bekas.

Cukup 700 kali saja sehari semalaman dengan kualitas zikir yang bagus dengan sesuai aturan dan hati yang sesuai maka ini adalah usaha yang bisa memancarkan cahaya ke dalam hati.

Kedua, memperbanyak selawat atas Nabi Saw. Sama dengan jumlah yang tadi paling sedikit 700 kali, dengan tata cara dan hati yang benar. Bagi orang yang pernah bermimpi dan melihat wajah Rasulullah Saw, maka hadirkan di saat membaca selawat itu beliau duduk di depan kita. Bagi yang belum pernah bermimpi tapi pernah ziarah ke makam beliau, maka ingatkan saat membaca selawat itu kita duduk di depan makam beliau. Dan bagi orang yang belum pernah bermimpi dan belum pernah ziarah ke makam beliau maka diingat-ingat saja foto atau gambar makam beliau dan bayangkan kita ada di sana dan membaca selawat paling sedikit 700 kali maka pengaruhnya terhadap menerangi keyakinan itu agar dapat menimbulkan cahaya.

Ketiga, memperbanyak berpikir pada fananya dunia dan ahlinya. Dunia antara dua saja, kalau tidak kita yang meninggalkan kita atau dunia yang meninggalkan kita.

Ada orang yang kaya bangkrut dan setelahnya meninggal, maka kita, dia lebih dahulu ditinggalkan dunia daripada dirinya. Dan ada juga orang kaya raya tiba-tiba saja meninggal dunia maka dia yang meninggalkan dunia terlebih dahulu, dst.

Maka banyak berpikir tentang fananya dunia beserta isinya ini bisa membantu memancarkan cahaya ke dalam hati.

Keempat, bergaul dengan orang shaleh dan beradab dengannya. Bergaul dengan orang saleh harus beradab, jika tidak maka pertemanan itu tidak akan memberi pengaruh dengan cahaya pada keyakinan kita. Kalau sudah bergaul dengan mereka dengan adab maka cahaya yang ada pada mereka akan menular kepada kita sehingga memancarkan cahaya keyakinan kita akan berfungsi.

Jadi empat hal ini yang akan memancarkan keyakinan yang sudah ada pada diri kita dan bagaimana caranya agar keyakinan itu memancarkan cahayanya dengan memperbanyak zikir Laa ilaaha Illallah, perbanyak selawat, berpikir dengan fananya dunia dan isinya serta bergaul dengan orang saleh beserta adab dengan mereka.

Maka kalau empat ini jalan maka keyainan kita ini akan memancarkan cahaya bahwa akhirat itu memang lebih baik dari dunia.

Hanya yang mengagungkan dan senang akan dunia orang yang lemah imannya sedikit cahaya keyakinannya, andaikata kuat imannya memancar cahaya yakinnya niscaya dia akan zuhud pada dunia dan gemar pada akhirat.

Kalau kita sudah tahu ada batu bata dan emas, perumpamaan dunia dan akhirat, kita tahu keduanya tentu kita memilih emas. Kenapa kita memilih batu bata mati-matian? Karena kita tidak tahu dengan emas. Maka kebanyakan orang gemar mengumpulkan batu bata sebanyak-banyaknya padahal harganya sangat murah dibandingkan emas.

Diriwayatkan dalam hadits, “Jikalau seorang pejabat ini mengetahui pahala yang diberikan Allah kepada zikir, niscaya dia akan tinggalkan jabatannya itu, jikalau pedagang melihat pahala zikir niscaya dia akan tinggalkan perdagangannya dan jikalau pahala satu tasbih dapat ganjaran di akhirat, jikalau ganjaran itu dibagi kepada penduduk bumi niscaya masing-masing dapat 10 kali lipat dunia.

Terhadap hadits-hadits seperti ini, kita yakin 100 persen karena Nabi yang menyampaikan, yang menjadi masalah adalah keyakinan kita tidak memancarkan cahaya pada hati kita lalu kita mati-matian mengejar dunia ini.

Orang yang banyak meluangkan waktu untuk memikirkan akhirat, tandanya orang ini yakinnya hidup. Orang dengan duit berani membangun masjid dengan biaya sendiri karena Allah maka orang ini keyakinan yang memancarkan cahaya, kalau tidak demikian tidak akan berani.

Kenapa ada orang yang mampu menyumbang untuk membangun masjid/madrasah miliaran Rupiah ikhlas karena Allah bukan karena siapa-siapa karena cahaya keyakinannya memancarkan cahaya ke dalam hatinya. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya cahaya itu kalau sudah masuk ke dalam hati terbuka hati.”

Kalau hati sudah bercahaya yang jadi pejabat pun akan mundur, tidak sampai mencalon ini dan itu. Namun, Allah dengan hikmah-Nya sudah mengatur dunia ini akan binasa dalam rentang waktu sekian tahun. Kalau tidak ada pejabat dan pedagang dunia akan hancur maka Allah jadikan pejabat dan pedagang itu dari orang yang hina.

Kalau orang itu mulia dia tidak akan berdiam di posisi tersebut. Maka Allah pilih orang hina untuk mengurus dunia yang hina ini dan Allah tidak akan membiarkan orang yang mulia mengurus dunia yang hina ini.

Adakah tandanya orang yang hatinya terbuka dan cahaya yakinnya memancar ke dalam hatinya? Nabi bersabda: Ada, merenggang (mengurangi kesibukan duniawi) daripada negeri tipu daya ini dan kembali ke negeri akhirat (waktu, pikiran, perhatian banyak diarahkan ke akhirat) dan mempersiapkan diri untuk kematian sebelum kedatangannya”.

Ini bukan diartikkan sedia kain kafan dan liang lahat. Yang dimaksud adalah taubat kepada Allah, hutang dilunasi, kezaliman minta halal dengan manusia yang dizalimi.

Anas bin Malik meriwayatkan hadits saat Rasulullah Saw. berjalan tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan ansar. Nabi berkata: bagaimana keadaan kamu pagi ini wahai haritsah? Haritsah menjawab: di pagi ini saya Rasulullah beriman kepada Allah sebenar-benar beriman.

Nabi berkata: pikirkan apa yang engkau katakan wahai Haritsah! Karena setiap perkataan itu ada hakikatnya, apa hakikat iman engkau? Haritsah menjawab: menjauh diriku dari dunia, malam bergadang untuk beribadah dan siang puasa. Saya jauhkan dari pikiran duniawi dan kepentingannya dan saya bangun malam dan puasa siang hari. Seolah-olah saya berada di hadapan arsy Allah, seolah-olah memandang dengan ahli surga saling bersilaturrahim, dan seolah memandang dengan ahli neraka saling minta tolong satu dan lainnya. Nabi berkata: engkau sudah benar, kekali itu. Engkau adalah hamba yang Allah terangi hatimu dengan iman.

Hartisah menjawab: Wahai Rasulullah, do’akan saya mati syahid. Maka Rasulullah mendoakan mati syahid, maka dia terbunuh pada perang badar sebagai mati syahid. Artinya, orang yang bergadang di malam hari untuk beribadah itu orang yang tidak cinta dunia. Mustahil orang yang cinta dunia bisa bergadang untuk beribadah. Wallahu a’lam. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah