AMUNTAI - Di antara lorong sunyi perpustakaan Tanah Suci, lembar-lembar manuskrip ulama Nusantara seakan berbisik tentang jejak intelektual Banua yang pernah menyinari dunia Islam. Dari tanah kelahirannya di Kalimantan Selatan, seorang penulis muda, Nur Hidayatullah, menapaki rihlah keilmuan itu, merawat warisan literasi ulama agar tetap hidup, terutama dalam denyut spiritual Ramadan.
Bagi Beit Turath Al-Islami Kalimantan, manuskrip bukan sekadar naskah tua, melainkan denyut pengetahuan ulama Banjar dan Kalimantan yang terus dijaga lintas generasi. Gerakan itu diperkenalkan hingga ke pusat-pusat manuskrip dunia oleh Nur Hidayatullah, penasihat lembaga tersebut sekaligus penulis buku asal Kalimantan Selatan.
Dalam kunjungannya ke Perpustakaan Masjid Nabawi dan Perpustakaan Makkah Al-Mukarramah, ia membawa pesan sederhana. Literasi ulama Nusantara adalah warisan keilmuan Islam yang harus dirawat bersama.
Di ruang penyimpanan manuskrip Masjid Nabawi, para pakar memperlihatkan koleksi karya ulama Nusantara, termasuk tulisan Syekh Nawawi al-Bantani. Bagi Nur, pertemuan itu bukan sekadar kunjungan ilmiah, melainkan pengingat bahwa ulama Banua dan Nusantara pernah berdiri sejajar dalam percakapan intelektual dunia Islam. “Manuskrip adalah jejak otoritas keilmuan ulama kita. Jika tidak dirawat, generasi mendatang akan kehilangan rujukan asli tradisi keilmuan Islam Nusantara,” ujar Ustaz Nur.
Ia menambahkan bahwa literasi ulama tidak hanya berbentuk buku, tetapi juga jaringan keilmuan yang diwariskan melalui sanad dan karya. “Ramadan adalah bulan membaca, bulan ilmu. Karena itu, menjaga manuskrip ulama berarti menjaga ingatan peradaban Islam kita,” katanya.
Kunjungan berlanjut ke Makkah. Di sana, diskusi tentang konservasi, digitalisasi, dan tahqiq manuskrip berlangsung hangat. Pakar manuskrip Syekh Yusuf Muhammad bahkan menuturkan kisah rihlah ulama Nusantara, dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari hingga Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, nama-nama yang karya dan sanad keilmuannya masih hidup hingga kini.
“Ulama Nusantara memiliki kontribusi penting dalam sejarah intelektual Islam. Banyak karya mereka tersimpan di perpustakaan Timur Tengah dan terus menjadi rujukan hingga sekarang,” ungkap Syekh Yusuf Muhammad disampaikan Ustaz Nur.
Lahir di Banjarmasin pada 30 Agustus 1990, Ustaz Nur tumbuh dalam tradisi pesantren Banjar sebelum menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral di UIN Walisongo Semarang.
Selain mengajar, ia menulis dan meneliti manuskrip serta sejarah intelektual ulama Nusantara, menjadikannya salah satu penulis muda Kalimantan yang konsisten mengangkat literasi ulama Banua ke ruang akademik dan publik.
Jejaring literasi yang ia bangun juga meluas ke Brunei Darussalam melalui komunikasi dengan Prof. Dr. Syekh Adel M. Abdul Aziz Algeriani dari Markaz Makhtutat Al-Islamiyyah Universitas Islam Sultan Syarif Ali.
Kerja sama riset dan tahqiq manuskrip menjadi langkah konkret memperkuat pelestarian literasi ulama Nusantara di tingkat internasional. “Kolaborasi lintas negara penting agar manuskrip ulama Nusantara tidak hanya tersimpan, tetapi juga diteliti, diterbitkan, dan dikenal generasi baru,” jelas Nur.
Melalui rangkaian silaturahmi ilmiah itu, Beit Turath Al-Islami Kalimantan menegaskan komitmennya menelusuri, merawat, dan mengkaji manuskrip ulama Banjar dan Kalimantan. Di tengah arus modernitas, Nur Hidayatullah memilih jalan sunyi literasi, menjaga warisan ulama dari lembar manuskrip hingga buku-buku yang ia tulis sendiri.
Dari Banua ke Tanah Suci, ia merawat ingatan kolektif bahwa ulama Kalimantan pernah menorehkan cahaya ilmu bagi dunia dan jejak itu tak boleh padam. Sebagian karya Nur Hidayatullah mencakup berbagai bidang kajian, terutama terkait ilmu falak, pemikiran ulama, dan budaya Nusantara.
Pada 2010 ia menerbitkan Pemikiran Hisab Rukyah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Kemudian disusul Sistem Penanggalan Bangsa-Bangsa (Terjemah at-Taqawim Muhammad Fayyad) serta Ensiklopedia Asal-Usul dalam Ilmu Falak pada 2012.
Tahun 2013 muncul beberapa karya seperti 99 Menit Pintar Mengurus Jenazah, Asal-Usul Jumlah Rakaat Shalat, dan Penemu Ilmu Falak. Pandangan Kitab Suci dan Peradaban Dunia. Pada periode 2014 hingga 2016, ia turut menulis Konsep Hilal dalam Perspektif Tafsir Alquran dan Astronomi Modern. Integrasi dalam Konteks Keindonesiaan (sebagai kontributor) serta Dimensi Spiritual Kyai Haji Idham Chalid.
Pada 2017 hingga 2022, ia menerbitkan karya seperti Secercah Kiprah Seorang Penumpang Kafilah Dakwah: 70 Tahun Tuan Guru Haji Husin Naparin, Perjuangan Idham Chalid di Nahdlatul Ulama, dan sejumlah karya lainnya.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief