Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tradisi Malam 21 Ramadan Kembali, Dari Ember hingga Kentongan, Kreativitas Ramaikan Bagarakan Sahur di HSU

M Akbar Radar Banjarmasin • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:25 WIB

MERIAH: Malam 21 Ramadan di Kabupaten HSU diisi dengan event Bagarakan Sahur yang berlangsung di Bundaran Tugu Salawat Kota Amuntai. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)
MERIAH: Malam 21 Ramadan di Kabupaten HSU diisi dengan event Bagarakan Sahur yang berlangsung di Bundaran Tugu Salawat Kota Amuntai. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)

AMUNTAI – Malam di Kota Amuntai biasanya tenang menjelang waktu sahur. Namun pada Selasa malam (10/3/2026), suasana berbeda terasa di kawasan Tugu Bundaran Salawat.

Dentuman ritmis dari ember, kentongan, dan jerigen berpadu dengan sorak sorai warga yang memadati lokasi.

Ribuan masyarakat berkumpul menyaksikan babak final Lomba Bagarakan Sahur Ramadan 1447 Hijriah, tradisi khas yang terus hidup di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Di tengah cahaya lampu jalan dan semarak Ramadan, sepuluh grup peserta dari berbagai kecamatan tampil bergantian. Mereka membawa beragam peralatan rumah tangga yang disulap menjadi alat musik sederhana.

Dentingan logam, ketukan ember plastik, hingga bunyi kentongan kayu menciptakan irama khas yang menggema di udara malam.

Tradisi bagarakan sahur memang sederhana, tetapi sarat makna. Sejak lama, masyarakat HSU menggunakan bunyi-bunyian untuk membangunkan warga agar bersiap menyantap sahur.

Kini, kebiasaan tersebut berkembang menjadi pertunjukan seni yang penuh kreativitas sekaligus menjadi ajang perlombaan tahunan.

Setiap kelompok menampilkan komposisi musik ritmis yang berbeda. Ada yang memadukan alat tradisional dengan koreografi gerakan, ada pula yang menambahkan yel-yel khas untuk membakar semangat penonton.

Kreativitas itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang datang dari berbagai penjuru kecamatan.

Suasana semakin meriah ketika panitia mengumumkan para pemenang lomba. Kecamatan Danau Panggang berhasil meraih juara pertama setelah memukau dewan juri dengan kekompakan tim dan aransemen musik yang dinilai paling harmonis.

Posisi kedua diraih Kecamatan Amuntai Selatan, disusul Kecamatan Amuntai Tengah di peringkat ketiga.

Sementara itu, Kecamatan Haur Gading menempati posisi keempat, Kecamatan Sungai Tabukan di peringkat kelima, dan Kecamatan Banjang berada di posisi keenam.

Bupati HSU H. Sahrujani menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, bagarakan sahur bukan sekadar hiburan malam Ramadan, melainkan juga sarana mempererat silaturahmi sekaligus menjaga tradisi lokal agar tetap hidup di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini bukan hanya membangunkan orang untuk sahur, tetapi juga membangunkan semangat kebersamaan masyarakat kita, terlebih malam 21 Ramadan,” ujarnya.

Ketua panitia, Sugeng Riyadi, mengatakan lomba tahun ini dirancang lebih menarik agar generasi muda semakin tertarik mengikuti tradisi tersebut.

“Saya berharap bagarakan sahur dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat HSU setiap Ramadan,” sampainya.

Sementara itu, Iyun warga Kelurahan Sungai Malang, mengaku sengaja datang bersama anggota keluarganya sejak selesai salat tarawih.

"Ini kami tunggu-tunggu acara ini. Ini jadi momen kumpul sekaligus nostalgia bagarakan sahur keliling kampung," tuturnya

Hal senada disampaikan Midibpemuda asal Kecamatan Babirik, menyampaikan, setelah lama vakum akhirnya tradisi malam 21 Ramadan kembali dengan event bagarakan sahur.

“Kreativitasnya luar biasa. Ada yang pakai drum bekas, panci, bahkan paralon dibuat alat musik. Ini bukti kalau tradisi kita tetap keren dan nggak ketinggalan zaman," ujarnya.

Editor : Arif Subekti
#sahur #HSU #Amuntai #ramadan #tradisi