Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ustaz Ahmad Mahfuji: Menebar Ilmu Lewat Tiga Buku Ibadah, Perpanjangan dari Kegemaran Membaca

Rasidi Fadli • Senin, 9 Maret 2026 | 12:01 WIB

Photo
Photo

RANTAU – Di tengah kesibukannya mengajar di Pondok Tahfidz Qur’an Az-Zahra Lumbu Raya, Ustaz Ahmad Mahfuji tetap menyempatkan waktu untuk membaca dan menulis. Bagi pria kelahiran Rantau, 29 Juni 1984 ini, membaca kitab berbahasa Arab bukan sekadar rutinitas, tetapi kebutuhan harian untuk mengasah ilmu serta menjaga tradisi keilmuan pesantren.

Alumni Pondok Pesantren Darussalam Martapura ini dikenal sebagai sosok yang tekun menggali persoalan fiqih hingga benar-benar tuntas. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Lumbu Raya, kemudian dilanjutkan ke MTsN 2 Malingkung. Pada 1998 ia masuk ke Darussalam Martapura dan menyelesaikan pendidikannya pada 2007.

Kini, selain mengajar di Pondok Tahfidz Qur’an Az-Zahra Lumbu Raya, ia juga punya Majelis Taklim, namanya Darul Khairat. Lokasinya tepat di samping rumahnya.'

Kecintaannya pada dunia literasi melahirkan tiga buku berbahasa Indonesia yang fokus pada kebutuhan ibadah masyarakat. Buku pertama, ditulis pada 2010, membahas secara rinci tentang salat jenazah. Mulai dari dalil hingga tata cara pelaksanaannya.

Menurutnya, praktik salat jenazah memang sudah sering dilakukan masyarakat. Namun, tidak sedikit yang belum memahami secara mendalam landasan dan kiat-kiat pelaksanaannya. “Kadang kita diundang untuk memimpin salat jenazah, tapi belum semua memahami dalil dan tata caranya secara benar. Dari situlah saya terdorong menyusunnya dalam bentuk buku,” ujarnya.

Buku kedua berjudul Fidyah Menurut Madzhab Hanafi dan Tata Cara Pelaksanaannya. Dijelaskannya, fidyah merupakan tebusan bagi kewajiban ibadah seperti salat, puasa Ramadan, hingga zakat fitrah yang tidak sempat ditunaikan karena terputus ajal.

Dalam praktiknya, terdapat perbedaan pandangan mazhab. Dalam Madzhab Syafi’i, fidyah untuk salat dipandang sebagai qaul dhaif dan harus dibayarkan dengan satu mud bahan makanan pokok, seperti beras untuk setiap satu waktu salat fardu, serta tidak boleh diganti uang.

Namun, menurut Madzhab Hanafi, fidyah dapat dibayarkan dengan uang atau emas senilai bahan makanan yang wajib dikeluarkan. Pendekatan inilah yang ia tawarkan sebagai solusi kemudahan bagi masyarakat yang menghadapi kewajiban fidyah dalam jumlah besar.

“Mengingat hajat masyarakat ketika ada keluarga yang meninggal dunia, seringkali mereka meminta dibayarkan salat dan puasa almarhum. Banyak yang belum paham tata caranya. Di situ saya mencoba membantu mencarikan solusi agar lebih mudah dilaksanakan,” jelasnya.

Buku ketiga adalah panduan manasik umrah yang disusun dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami jamaah. 

Materi yang ia tulis sebelumnya telah diajarkan di majelis taklim, bahkan banyak permintaan dari rekan-rekan di media sosial maupun yang datang langsung ke rumah. “Buku-buku tersebut saya kasihkan secara gratis,” katanya.

Bagi suami Rahmaniah dan ayah dari Muhammad Naufal, Ahmad Rofiq, serta Khadijah Zulfa Za-Zahra ini, menulis adalah perpanjangan dari kegemarannya membaca. Setiap hari, ia berusaha menyempatkan diri membaca kitab berbahasa Arab. “Kalau membaca kitab Arab, perlu ilmu alat. Itu melatih dan mengasah otak. Kalau belum paham, saya akan gali terus sampai benar-benar mengerti,” katanya.

Ia menyadari, setiap karya manusia tidak luput dari kekhilafan. Karena itu, ia membuka diri terhadap kritik dan saran pembaca. “Kalau ada kekeliruan atau kekhilafan syariah dalam ketiga buku tersebut mohon diinfokan. Insya Allah akan direvisi,” janjinya.

Harapannya sederhana. Di sisa umur yang ada, ia ingin terus memanfaatkannya untuk ibadah dan berbagi ilmu. Ke depan, ia juga berencana kembali menulis buku-buku berbahasa Indonesia agar semakin banyak masyarakat yang memahami tata cara ibadah dengan benar.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Kota Rantau #Tapin #Ulama Kalsel #buku #Literasi Kalsel