PELAIHARI - Di tengah kesibukannya mengisi pengajian dan mengelola Pondok Pesantren Sirajul Huda, KH Abdurrahman Husein tetap meluangkan waktu untuk menulis. Bagi pimpinan pesantren tersebut, menulis bukan sekadar aktivitas pribadi, melainkan ikhtiar menjaga warisan amaliyah para guru, agar terus hidup dan diamalkan.
Ustaz Abdurrahman sapaan akrabnya, menyusun sebuah buku bertajuk Wirid Sirajul Huda. Saat ini, buku tersebut masih digunakan secara internal oleh keluarga besar pondok pesantren. Ia menceritakan, wirid itu berawal dari pesan dan titipan para gurunya.
“Guru kita kadang berpesan, amalkan ini, khasiat atau fadilahnya begini. Dari situ saya ingin amaliyah guru-guru itu tetap eksis dan terus berjalan, sehingga menjadi amal jariah yang tak terputus. Berawal dari hal itu saya berinisiatif menulis dan membukukannya,” ujarnya, (19/2).
Baca Juga: Lagi-Lagi Polemik Iuran, Pedagang Pasar di Banjarmasin Protes, Perumda: Kami Cuma Jalankan Perwali
Menurutnya, susunan wirid tersebut sederhana, berisi amaliyah dan zikir yang diwariskan para guru. Meski secara umum mirip dengan wirid lain, terdapat sejumlah tambahan yang menjadi ciri khas, seperti tata cara doa tertentu, pilihan salat tarawih versi panjang maupun pendek, serta doa-doa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar, termasuk pembacaan Burdah.
Di kediamannya di kawasan Ponpes Sirajul Huda, Jalan Bukit Sabit, Pelaihari, pria kelahiran Kandangan Lama itu mengungkapkan bahwa naskah wirid tersebut sebenarnya telah ia susun jauh sebelum pondok pesantren berdiri.
Atas saran dan masukan para guru, tulisan tersebut akhirnya dibukukan agar lebih rapi dan mudah diamalkan. “Ponpes ini mulai beroperasi pada 2015. Sebelum itu tulisan sudah saya susun karena merupakan warisan dari guru-guru, hanya saja belum dibukukan,” tuturnya.
Ia mengaku tidak menghadapi kendala berarti dalam proses penulisan. Tantangan terbesar justru pada pembagian waktu di tengah padatnya aktivitas mengajar dan mengelola pondok. Ia bahkan mengaku dari sisi teknis, perkembangan teknologi justru memudahkannya dalam menulis dan menyusun naskah. “Tantangannya hanya membagi waktu untuk menyusun tulisan itu di sela-sela kesibukan,” katanya.
Tak berhenti pada buku wirid, Ustaz Abdurrahman kini tengah menyiapkan karya berikutnya berupa kumpulan kata-kata hikmah dan motivasi. Kutipan tersebut diambil dari tokoh-tokoh besar Islam seperti Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, serta hadis Nabi dan nasihat para ulama.
Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut memberi inspirasi dan meninggalkan jejak besar dalam peradaban Islam. “Tujuannya untuk memberikan motivasi bagi yang membaca dan melihat, agar semangat meneladani nilai-nilai kebaikan,” ujarnya.
Ia berpesan kepada generasi muda agar kembali gemar membaca dan bijak memanfaatkan teknologi. “Kalau tidak bijak, teknologi bisa berdampak negatif. Salah satunya kita rugi waktu karena terlalu larut dalam kesenangan,” pesannya.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Sutrisno
Editor : Arief