BARABAI - Guru Ahmad Syuhada Al-Alabi, semasa kecilnya tinggal di Pinang Habang, Hulu Sungai Utara (HSU). Setelah lulus Madrasah pada tahun 1998 ia melanjutkan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Muhibbin di Hulu Sungai Tengah (HST).
Sampai sekarang ia mendedikasikan dirinya mengajar di Ponpes Nurul Muhibbin Putri dan Putera. Disela kesibukannya itu, Guru Syuhada masih menyempatkan diri menulis kitab. Total yang beliau tulis mencapai 10 kitab.
Semua ditulis dengan bahasa Arab Melayu. Beberapa di antaranya diajarkan di pondok tempatnya mengajar, hal itu atas perintah pengasuh pondok, yaitu tuan guru Syekh Muhammad Bakheit. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan lewat kitab-kitab tersebut? Salah satu kitab pertama yang ditulis Guru Syuhada adalah Ad-Durrun Nafis.
Semangatnya mulai menulis tak jauh dari dorongan para ulama. Waktu itu muncul kegelisahan pribadi dari sosok Syuhada muda. Ini dilatarbelakangi adanya pro dan kontra di kalangan ulama di Amuntai mengenai kitap Ad-Durrun Nafis.
Pada saat itu, banyak perbedaan pendapat yang berujung ketidakharmonisan di antara kalangan ulama sepuh. Tak hanya itu bahkan sampai kepada murid-murid ulama tersebut. Guru Syuhada diminta menyampaikan pendapatnya dengan cara menulis kitab. “Bahkan di kalangan keluarga pribadi menunjukkan perbedaan itu. Ada yang ke masjid sini ada ke masjid situ, ada bubuhan sini bubuhan situ,” ceritanya, Rabu (25/2).
Penelitian buku Ad-Durun Nafis karya Guru Syuhada dimulai pada tahun 2003. Kemudian cetakan pertama terbit pada tahun 2011. “Prosesnya memang panjang. Tahun 2003, waktu awal menulis zamannya berbeda dengan saat ini. Mencari referensi tidak semudah sekarang,” tuturnya.
Bahkan dalam mencari referensi, Guru Syuhada sempat meminta salah seorang santri di Mesir untuk mengirimkan sebagian rujukan untuk melengkapi buku tersebut.
Kitab Ad-Durrun Nafis karya Guru Syuhada berisi ajaran tentang pembelajaran Tauhid. Ada Tauhid Sifat, Tauhid Zat. Di dalamnya bagaimana manusia meng-Esa-kan Allah. Ia menegaskan, kalau orang belajar Tauhid malah mengaku Tuhan, ini bukan yang sebenarnya. Yang sebenarnya adalah ketika kita melihat sesuatu, kita selalu ingat Tuhan, dan itu yang menguasai kita.
Jika kita ingat tuhan, hati akan menjadi tenang. Jadi jika orang mengkaji kitab Ad-Durrun Nafis merasa jadi lebih pintar, jemawa, lebih tinggi, ini pasti ada yang keliru dalam dirinya.
Namun, ada hal yang perlu dipahami bagi para pembaca. Munurut Guru Syuhada, buku atau kitab karyanya adalah hasil mentaklik tulisan ulama-ulama terdahulu. Jadi bukan hasil tulisan sendiri. “Ditambahkan keterangan-keterangan, atau catatan kaki. Seperti karya tulis saya tentang ceramah Muhammad Bakhiet (Guru Bakhiet) atas permintaan beliau,” terangnya.
Dari awal Guru Syuhada Al-Alabi meniatkan menulis buku untuk dirinya sendiri. Agar terus terdorong dan termotivasi untuk terus membaca dan mengembangkan diri. Dari situ akan terbuka pintu-pintu pengetahuan, karena jika tidak menulis maka tidak akan membaca buku-buku yang lain.
Jika dari karya buku atau kitabnya ada orang yang mendapat manfaatnya, bagi Guru Syuhada itu hanya manfaat lebih dari apa yang ingin dituju.
Hal manusiawi dialami oleh Guru Syuhada saat menulis, yakni kejenuhan. Namun, ia punya cara tersendiri untuk melawan rasa jenuh tersebut. “Biasanya kita duduk merenung mengingat kembali tujuan menulis. Dibawa refresing sambil meminum kopi,” celetuknya.
Meski Guru Syuhada memiliki karya 10 kitab, ada komitmen yang sampai saat ini akan terus dirinya pegang. Yakni tidak berniat melakukan digitalisasi terhadap kitab-kitabnya. Ia punya alasan tersendiri terkait itu.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief