Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

KH Sulaiman Nain: Sang Murabbi dari Pesisir Kotabaru yang Tak Kenal Lelah Berdakwah

Jumain Radar Banjarmasin • Selasa, 3 Maret 2026 | 11:16 WIB

 

Photo
Photo

KOTABARU - Di Desa Sembilang, Kelumpang Tengah, pada Agustus 1939 mungkin tak pernah menyangka, bahwa tangis bayi dari sebuah keluarga sederhana di pelosok itu kelak akan menjadi gema dakwah yang menggetarkan Bumi Saijaan. 

Di sana, KH Sulaiman Nain memulai langkah pertamanya. Sebuah langkah panjang dari madrasah kampung menuju serambi ilmu di Martapura, hingga akhirnya pulang sebagai "pelita" bagi umat di Kotabaru.

Guru Sulaiman Nain akrab disapa, makamnya berada di kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Darul Ulum Kotabaru.

 

Lahir di Desa Sembilang, sebuah pelosok di Kecamatan Kelumpang Tengah pada 15 Agustus 1939, Sulaiman kecil tumbuh dalam kesederhanaan. Namun, kemiskinan harta tak menghalangi kekayaan semangat keluarganya untuk mendulang ilmu agama. “Ayah sejak kecil sudah ditempa orang tua untuk mencintai Alquran. Pagi beliau sekolah umum (SR), sorenya lanjut sekolah agama,” kenang Siti Fatimah anak ketiga KH Alm Sulaiman Naim. 

Titik balik kehidupan Guru Sulaiman terjadi di akhir tahun 1957. Bermodal restu orang tua, ia mengarungi lautan menuju Kota Serambi Mekkah Martapura. Di Pondok Pesantren Darussalam, ia mereguk ilmu dari deretan ulama di sana.

Sebut saja KH Abdul Qadir Hasan, KH Anang Sya’rani, hingga KH Salman Jalil. Tak hanya itu, ia juga sempat menimba ilmu langsung kepada KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul). “Ayah itu tipe orang yang haus ilmu. Selain mengaji formal di Darussalam, beliau aktif mendatangi pengajian duduk di kampung-kampung,” tambahnya.

Ia juga mengenang ayahnya sebagai sosok yang tidak pernah mengeluh. “Bagi beliau, dakwah adalah tugas luhur yang tidak boleh berhenti hanya karena kelelahan fisik," terangnya.

Kiprah luar biasa sang ulama kini diabadikan dalam sebuah buku biografi berjudul "Berdakwah Tak Kenal Lelah". Buku setebal 242 halaman yang terbagi dalam 9 bab ini memotret perjalanan hidup beliau dari lahir hingga tutup usia pada tahun 2006.

Salman Basri, sang menantu, menjadi motor penggerak di balik penulisan buku ini. Bersama Hatman, ia menyusun kepingan demi kepingan ingatan tentang mertuanya tersebut. “Kami ingin semangat beliau tidak hilang ditelan zaman. Beliau adalah ulama yang komplit, berdakwah di majelis, membangun pesantren, hingga berjuang melalui jalur organisasi dan politik," ujar Salman.

Jika melihat kokohnya Yayasan Pendidikan Islam Al-Muawwanah Nahdlatul Ulama saat ini, maka itulah prasasti nyata perjuangan Guru Sulaiman. Sejak tahun 1984, ia membangun fondasi pendidikan dari jenjang Raudhatul Athfal hingga Perguruan Tinggi.

Bahkan, pada tahun 1979, ia menjadi motor penggerak berdirinya Pondok Pesantren Darul Ulum Kotabaru. Baginya, pendidikan adalah kunci mengangkat martabat umat di tanah kelahirannya.

Kini, meski raga sang Guru telah tiada, gema dakwahnya masih terasa di seantero Bumi Saijaan. Buku biografi yang disusun sang menantu menjadi pengingat bahwa di Kotabaru, pernah lahir seorang pejuang yang langkah kakinya tak pernah gentar oleh jarak, dan suaranya tak pernah serak oleh waktu.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Kotabaru #Ulama Kalsel #Literasi Kalsel