Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

KH Abdul Muis: Diterima Lintas Golongan, Ulama Banua yang Hidup Diantara Buku

Endang Syarifuddin • Senin, 2 Maret 2026 | 10:57 WIB

Photo
Photo

BANJARMASIN – Hidup KH Abdul Muis tak pernah lepas dari buku. Ulama Muhammadiyah Banua itu menjadikan buku yang sudah dibacanya sebagai jalan dakwah, sekaligus  sarana menempa pikiran dan memperhalus nurani.

Dia tinggal di rumah sederhananya di kawasan Kampung Melayu, dekat Masjid Ar-Rahman. Deretan dan tumpukan buku-buku sudah menjadi “penghuni tetap”, memenuhi isi kamar hingga di atas tempat tidurnya. Putra beliau, Gusti Yasni, mengenang sang ayah sebagai kutu buku sejati. 

Potret keseharian itu menjadi pemandangan biasa di matanya. Ia menceritakan sejak usai salat subuh, Abdul Muis sudah tenggelam dalam bacaan. Bukan hanya buku penulis terkenal yang dilahapnya, tetapi juga koran dan majalah pun tak luput dibacanya. “Pagi-pagi Abah sudah baca koran atau majalah. Buku-buku di kamar tidak boleh ditutup kalau masih terbuka,” ujarnya. 

Bagi keluarga, buku yang terbuka menandakan proses bacaan ayahnya yang belum selesai. “Kecuali kalau Abah memerintahkan untuk merapikan buku-buku yang ada di kasur, baru anak-anaknya berani menutupnya,” kenangnya.

 

Kebiasaan membaca itulah yang melahirkan banyak karya tulis. Di antara kitab dan buku karya KH Abdul Muis, banyak membahas tasawuf dan pemurnian akidah. Beberapa di antaranya berjudul Mengenal Tasawuf, Tauhid dan Ma’rifat, Iman dan Bahagia, Insan, Asy-Syifaah, serta Tawassul wal Wasilah. 

Sebagian koleksi bukunya pernah ditempatkan di perpustakaan Masjid ar-Rahman yang kala itu dikelola para mubalig. Buku-buku tersebut menjadi sumber bacaan bersama. Ini menandakan bahwa literasi baginya adalah milik umat, bukan sekadar koleksi pribadi.

Menulis, bagi Abdul Muis, bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari ibadah. Meski sibuk menulis dan mengajar, Abdul Muis tetap dikenal sebagai kepala keluarga yang hangat. Ia rendah hati, sederhana, gemar bersedekah, tegas, tapi tak suka marah-marah. Dalam keseharian, ia mendidik sembilan anaknya dengan keteladanan dan cinta kasih.

Bahkan, sikap tolerannya membuat ceramah Abdul Muis diterima lintas golongan. “Abah itu kalau diundang ceramah mau terus, baik dari NU maupun Muhammadiyah,” tutur Yasni. 

Menurutnya, pesan utama yang selalu disampaikan ayahnya adalah persatuan umat Islam. Karena itu pula, jemaah dari berbagai latar belakang senang mendengar ceramahnya.

Selepas salat di Masjid ar-Rahman, Kampung Melayu, Abdul Muis kerap dikelilingi jemaah. Ia menjadi rujukan, tempat bertanya dan berbagi kabar.  “Sidin itu kaya sentral informasi. Ada cerita lokal, sampai nasional,” sebutnya.

Sejak pukul sembilan pagi hingga sore hari, tamu silih berganti mendatangi rumahnya. Yang dibicarakan banyak hal, mulai dari soal agama, politik sampai permasalahan negara. “Bahkan sering juga soal usaha, di antaranya ketika beliau dimintai saran pembangunan rumah sakit yang sekarang menjadi Rumah Sakit Islam, kemudian Universitas Islam,” terangnya.

Lahir di Samarinda pada 1919, Abdul Muis tumbuh dalam keluarga religius yang sangat mementingkan pendidikan. Ia menempuh sekolah rakyat, madrasah di Samarinda dan Martapura, hingga merantau ke Jawa untuk belajar di Kulliyatul Muallimin Gontor dan Pondok Jamsaren Solo. Ia juga sempat menempuh pendidikan tinggi di Akademi Ilmu Politik UGM Yogyakarta pada 1947–1948. Meski tak selesai, masa studi itu mengasah daya tangkap dan keluasan wawasannya. “Abah itu bukan hanya menempuh pendidikan agama saja, tetapi pendidikan politik di Jogja,” paparnya.

Di Kalimantan, Haji Gusti Abdul Muis dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang turut membesarkan dakwah persyarikatan sejak era 1930-an. Ia berdakwah dari masjid ke masjid, mengajar di sekolah dan kampus, serta aktif dalam dunia pendidikan.

Ia juga pernah menjadi Dekan IKIP Muhammadiyah Banjarmasin, dosen luar biasa IAIN Antasari, pengasuh Akademi Kulliyatul al-Muballighin, hingga rektor pertama Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Selain ulama dan pendidik, Abdul Muis juga tercatat sebagai pejuang dan tokoh nasional. Ia pernah menjadi anggota KNIP, pimpinan laskar perjuangan Kalimantan, legislator DPRS, serta aktif dalam berbagai organisasi pada masa awal republik. Namun, selepas masa politik itu, ia lebih banyak mencurahkan waktu untuk Muhammadiyah, pendidikan, dan dunia literasi.

KH Abdul Muis wafat pada 27 September 1992 di Banjarmasin dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan di Kuburan Muslimin Banjarmasin. Warisan yang ditinggalkannya bukan hanya jabatan dan gelar, tetapi jejak pemikiran, keteladanan, serta kecintaan pada buku.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #banjarmasin #Ulama #buku #Literasi Kalsel #Muhammadiyah