Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Muhammad Ali Syahbana: Dengan Pikiran Jernih, Aktif Berdakwah di Kalangan Pemuda

M Fadlan Zakiri • Sabtu, 28 Februari 2026 | 22:26 WIB

 

Muhammad Ali Syahbana
Muhammad Ali Syahbana

MARTAPURA - Di tengah dakwah yang kerap hadir dalam format ceramah satu arah, Muhammad Ali Syahbana memilih jalur yang tak banyak dilalui. Yaitu diskusi, percakapan, dan buku. Bagi kaula muda, dakwah bukan soal siapa paling lantang, melainkan siapa mampu mengajak berpikir.

Pemuda kelahiran Martapura, 24 Februari 1988 itu melihat satu kegelisahan yang sama di kalangan anak muda. Banyak yang ingin memahami agama dan kehidupan secara lebih dalam, namun tak menemukan ruang yang aman untuk bertanya. 

Dari kegelisahan itulah dakwah intelektualnya berangkat. “Anak muda hari ini kritis. Kalau hanya disuruh menerima, pesan itu cepat hilang,” ujarnya.

Ali bukan sosok asing di lingkungan pemuda Banjar. Selain dikenal sebagai pendakwah muda, ia juga menjabat Ketua Yayasan Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. 

Di sana, ia mengabdikan diri membangun pendidikan keagamaan yang berpijak pada adab, keluasan ilmu, dan keseimbangan berpikir. Ketertarikan Ali pada dunia ilmu tumbuh sejak kecil. Masa kanak-kanaknya banyak dihabiskan bersama Habib Muhsin bin Husein Al Haddad di Solo, ulama yang membimbingnya sejak usia taman kanak-kanak hingga sekitar 10 tahun. 

Dari lingkungan itulah, ia mengenal pentingnya adab dan pengelolaan hati. Meski tak pernah menempuh pendidikan formal di pesantren secara penuh, Ali mengakui atmosfer pesantren telah membentuk dirinya. 

Rasa ingin tahu yang besar membawanya menimba ilmu melalui banyak jalur, salah satunya dengan ‘mengaji baduduk’ bersama pamannya, pimpinan Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim.Dari kegelisahan intelektual itulah lahir buku pertamanya, Awal Perjalanan. Buku Saku tentang Kehidupan, yang terbit pada 22 Oktober 2015. 

Buku setebal 132 halaman itu tampil sederhana. Setiap halaman hanya berisi satu kutipan. Bahkan sekilas, buku itu tampak seperti kumpulan halaman kosong. Namun ketika dibuka, pembaca disuguhkan rangkaian kata yang menyentuh sisi terdalam kehidupan. Yaitu tentang ketuhanan, perilaku manusia, adab, hingga relasi batin dengan Tuhan. “Setiap orang akan menangkap makna yang berbeda, tergantung suasana hati dan latar belakangnya,” ujarnya.

Menurutnya, buku itu perlu dibaca dengan ruang dan waktu khusus agar maknanya benar-benar terasa. Bagi sebagian pembaca yang dekat dengan kajian teologis, buku itu dibaca sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Bagi yang lain, terutama mereka yang bergelut di dunia bisnis, kutipan-kutipannya justru menjadi motivasi hidup. Salah satu kutipan yang kerap diingat pembaca berbunyi “Hidup ini seperti cermin, kita melihat apa pun yang kita lakukan”. 

Bagi Ali, maknanya sederhana seperti pepatah tentang manusia akan menuai apa yang ditanam. Proses penulisan Awal Perjalanan ini tidak singkat, ia mulai menulis sejak 2014. Setiap kata lahir dari perenungan panjang dan rasa ingin tahu yang sedang menggebu. Buku itu, sejak awal, ia niatkan sebagai jalan dakwah, bukan komoditas.

Sebanyak 150 eksemplar buku dicetak dengan biaya pribadi dan dibagikan kepada kolega serta orang-orang terdekat. Buku itu bahkan menarik perhatian almarhum Nadjmi Adhani, Wali Kota Banjarbaru periode 2016–2020, yang meminta agar dicetak ulang untuk dijadikan buah tangan tamu. Hal serupa disampaikan almarhum KH Khalilurrahman, Bupati Banjar periode 2016–2021, yang menilai buku tersebut memiliki kedalaman makna batin seperti ajaran Imam Ghazali.

Sisi lain, Ali dikenal aktif berdakwah di kalangan pemuda dan mahasiswa melalui Komunitas Teduh Pikir, ruang diskusi yang ia dirikan sebagai alternatif dakwah konvensional. Di komunitas ini, agama tidak diposisikan sebagai dogma yang diturunkan dari atas, melainkan nilai yang dipahami bersama lewat dialog.

Metode yang ia gunakan merujuk pada dialog Socrates, yakni menggunakan serangkaian pertanyaan yang mendorong peserta menemukan kebenaran dengan pikirannya sendiri. Diskusi digelar rutin setiap bulan dan dihadiri pemuda dari Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, hingga Balangan. “Tujuan kami bukan menjawab semua pertanyaan. Tapi melatih cara berpikir yang jernih dan beretika,” ungkapnya.

Pendekatan ini membuat jalan dakwah Ali mudah diterima kalangan muda. Banyak mahasiswa menyebutnya sebagai guru spiritual, bukan karena ia memberi jawaban pasti, tetapi karena membuka ruang refleksi. “Di komunitas Teduh Pikir, berbeda pandangan bukan ancaman, melainkan pintu dialog,” ujarnya 

Baginya, dakwah intelektual itu harus membumi. Karena itu, selain aktif menulis dan berdiskusi, ia mengemban amanah sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim. Di sana, ia berupaya membangun pendidikan agama yang tak tercerabut dari realitas sosial dan kebangsaan.

Dakwah intelektual itu kembali ia lanjutkan lewat buku Teduh Pikir, karya kolektif komunitas yang ditujukan sebagai teman mental bagi masyarakat. Buku ini lahir dari kegelisahan melihat banyak orang hidup dalam kesibukan tanpa ruang merenung. “Pikiran, hati, dan perasaan perlu waktu untuk dipahami,” katanya.

Penjualan buku tersebut bersifat non-profit. Seluruh hasilnya untuk pendidikan anak yatim dan dhuafa di bawah yayasan yang ia pimpin. “Karena dakwah tidak berhenti pada gagasan, tetapi harus berujung pada kebermanfaatan sosial,” ujarnya.

Buku Teduh Pikir ini bukan jawaban atas semua tanya. Buku ini adalah jendela kecil untuk mengingat bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan dibangun-pelan-pelan, dari dalam diri.

Ia berpesan kepada para pembacanya. “Jika ada satu hal yang ingin saya titipkan kepada para pembaca, itu adalah harapan agar setiap renungan dalam buku ini dapat menjadi pelita kecil,” imbuhnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Banjar #Ulama #Literasi