Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

5 Jurus Mahir Membaca Kitab Gundul Bersama Ustaz Wahyudi Ibnu Yusuf

Maulana Radar Banjarmasin • Jumat, 27 Februari 2026 | 11:29 WIB

Photo
Photo

MARABAHAN - Sore itu, suasana Pondok Pesantren Darul Ma'arif di Desa Berangas Barat, Kecamatan Alalak, tampak lengang dari biasanya, beberapa orang santri terlihat dengan aktivitas sorenya. Ada yang bermain Badminton, sepak bola, duduk santai dan berjaga di pos pondok.

Di ruang tamu sederhana, seorang ustaz bersongkok hitam dengan sorban melingkar di leher sudah menunggu. Waktunya tak banyak. Lima belas menit lagi harus balik ke rumah untuk persiapan kegiatan di rumah, untuk bertolak ke Tanah Suci menunaikan umrah.

Dia adalah Wahyudi Ibnu Yusuf. Pendakwah sekaligus pimpinan Yayasan Darul Ma'arif. Ia baru saja merampungkan satu ikhtiar pentingnya di dunia pendidikan Islam. Buku 5 Jurus Mahir Membaca Kitab Gundul.

Tebalnya 183 halaman. Namun isinya dirancang untuk membongkar "ketakutan" banyak orang terhadap kitab tanpa harakat. “Banyak yang ingin bisa baca kitab, tapi merasa berat duluan,” ujarnya.

Menurutnya, ada alasan mendasar mengapa buku itu lahir. Secara filosofi, belajar bahasa Arab bukan sekadar pilihan. Untuk memahami bacaan salat, hukumnya fardhu 'ain. Sementara pendalaman ilmunya termasuk fardhu kifayah. “Kalau ingin benar-benar memahami Alquran dan hadis, kita harus punya alatnya. Dan alat itu adalah bahasa Arab,” sebutnya.

Secara empiris, ia melihat umat Islam hari ini makin jauh dari bahasa Arab. Padahal, khazanah keilmuan Islam tersimpan dalam kitab-kitab klasik (turats). Tanpa penguasaan dasar, kitab gundul hanya akan tampak seperti rangkaian huruf tanpa makna.

Ia pun teringat masa-masa awal belajar. Prosesnya tidak mudah. Butuh perjuangan panjang hingga kaidah nahwu dan sharaf benar-benar dipahami. Dari pengalaman itulah ia mencoba merumuskan yang lebih sederhana.

Sejak 2011 hingga 2021, Ustaz Wahyudi mengajar berbagai kalangan. Mahasiswa, guru, karyawan, hingga santri. Dari situ ia menemukan pola yang sama. “Biasanya orang langsung masuk detail. Padahal kerangka dasarnya belum kuat,” terangnya.

Belajar kitab gundul, menurutnya, seperti menyusun puzzle. Kalau tidak tahu gambaran besarnya, potongan-potongan kecil itu sulit dirangkai. Metode ini sebenarnya merangkum dua ilmu utama, sharaf dan nahwu. Bedanya, dalam pendekatan konvensional keduanya sering dipisah. 

Diungkapkannyam jurus pertama, yaitu Sharaf-memahami perubahan bentuk kata. Jurus kedua, mengenal jenis kata (isim, fi’il, huruf). Jurus berikutnya memahami kedudukan kata dalam kalimat. Selanjutnya memahami pengaruh kedudukan terhadap i'rab. Jurus terakhir menentukan harakat akhir kata. “Sharaf didahulukan.Karena dia ibunya, mengibaratkan. Nahwu kemudian melengkapi di bagian akhir kata,” terangnya ustaz kelahiran Kandangan itu.

Buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami pemula. Istilah Arab tetap ada, tetapi dijelaskan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Seperti subjek, predikat, atau noun sentence.

Awalnya, materi ini hanyalah modul pembelajaran internal. Direvisi berkali-kali sejak 2011. Disempurnakan sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya dibukukan. Dia mengatakan, tantangan terberat justru pada teknis pengetikan teks Arab. “Hurufnya berbeda, penempatannya harus tepat,” selorohnya.

Kini, buku tersebut menjadi buku muqarrar bagi santri tahun pertama di Pesantren Darul Ma’arif. Bahkan dilengkapi video pelatihan yang bisa diakses secara daring. Menurutnya, kebingungan di awal belajar adalah hal wajar. Itu tanda sedang berproses dan yang terpenting adalah motivasi. “Bahasa Arab itu bahasa Alquran. Bahasa Nabi. Bahasa kebangkitan,” katanya.

Ia berharap generasi muda tidak lagi alergi terhadap kitab gundul. Sebab di sanalah pintu memahami agama terbuka lebih luas. “Kalau ingin merasakan nikmatnya membaca Alquran dan salat, pahami maknanya. Dan itu dimulai dari bahasa Arab,” tandasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kitab #barito kuala #Ulama #Literasi