Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
Barang siapa yang memuliakan engkau, sebenarnya dia menghormat akan keindahan tutupan Allah kepadamu, oleh karena itu seharusnya pujian ditujukan pada yang menutupi engkau, bukan pujian itu untuk orang yang memuliakan dan berterimakasih kepadamu.
Hikmah ke-131 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.
***
Maksudnya dijelaskan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, ketika seorang hamba bertemu manusia lainnya, kemudian orang-orang mengagungkan, memuliakan, mencintai, memberi dan memuji. Maka mereka lakukan itu karena tertutupnya aib hamba tersebut dari mereka. Jikalau Allah buka bagi mereka aibnya, niscaya mereka akan lari, menganggap kotor dan tidak menghormatinya.
Allah Swt. berfirman:
"Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An Nur: 21)
Berkata Syeikh Ahmad Zarruq
“Jikalau tidak ada tutupan Allah daripada maksiat, niscaya engkau tidak berbuat taat, jikalau tidak ada tutupan Allah pada maksiat itu, niscaya engkau terhina di tengah-tengah makhluk.”
Aib artinya cela, di dalam tubuh kita ini ada dua macam jenis aib. Ada aib hissi (dilihat) seperti darah, kotoran yang ada di dalam tubuh. Kenapa seseorang itu dikatakan tampan dan cantik, karena kotoran itu tertutup dengan kulit yang mulus sehingga seseorang dikatakan indah.
Coba saja sebaliknya ada seseorang yang keluar darah di telinga, mulut, hidung bahkan keluar kotoran tentu kita tidak akan mencintainya. Maka Allah menutupi aib itu degan kulit sehingga seseorang bias melihat orang itu bersih. Inilah contoh aib yang bisa dilihat.
Kedua, aib maknawi (tidak bisa dilihat) seperti aib-aib yang ada di dalam hati, iri, riya, dengki, khianat, sangka buruk dan semua ada pada diri kita dan ini aib. Andai kata orang-orang dapat melihat aib tersebut tentunya kita tidak disukai orang. Kenapa ada orang yang suka dan memuliakan kita? Karena Allah menutupi aib-aib tersebut.
Sehingga ketika Allah menutupi aib kita, sehingga kita dipuji dan dicintai, maka pujilah Allah dan syukurilah Allah yang menutupi aib kita. Jadi, sebenarnya yang kita puji itu adalah Allah, bukan yang memuji dan mencintai kita.
Lalu andai kata kita dipuji orang, dihormati, maka jangan melihat pada diri kita itu sifat terpuji yang berhak untuk dimuliakan orang, kalau merasa demikian, berarti kita masih jahil dengan diri.
Misalnya, kita dipuji dan dicintai orang, lalu kita beranggapan “wajar saja karena saya alim”, Maka orang yang beranggapan seperti adalah orang jahil.
Hal ini juga bisa menjadikan seseorang kufur terhadap nikmat Tuhan yang telah menutupi aibnya. Sehingga di sini ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, apabila kita dimuliakan, dihormati dan dicintai orang maka puji lah Allah karena Allah yang menutupi aib kita sehingga kita dapat demikian.
Kedua, Jangan pandang diri ada punya sifat yang bagus dipuji kalau seperti itu kita jahil dengan diri kita. Ketiga, jangan engkau memandang kepada orang yang memuliakan, memberi hormat dengan memuji dan ‘bersyukur’ kepadanya. Sebab itu akan menjadikan kufur nikmat. Tetapi bersyukurlah dengan cara mendoakan kebaikan kepadanya. Karena sesungguhnya dia hanyalah wasilah, perantara dari pujian tersebut.
Rasulullah Saw. bersabda: "Barang siapa yang diperbuat kepadanya kebaikan (diberi, dimuliakan, dst) maka dia berkata kepada orang yang melakukan itu, 'Jazaakallahu khairan' (Semoga Allah membalas kebaikan engkau), maka dia sungguh sudah sangat memuji." (HR. Tirmidzi)
Jangan sampai kita memuji-muji manusia karena dia menghormati kita, sama dengan pujian kepada Allah. Tidak perlu. Cukup dengan doa seperti tadi. Rasulullah Saw. juga pernah mengingatkan, memuji di hadapan seseorang yang berbuat baik, sama halnya dengan menyembelihnya dengan pisau yang tajam.
Sebab pujian bisa menjadi sangat berbahaya baginya. Dengan pujian itu dia bisa sombong dan ujub yang artinya sama saja kita mencelakakan dan menjerumuskannya. Walhasil, hikmah ini mengingatkan kita untuk memurnikan tauhid, jangan sampai memuji orang yang tidak patut dipuji, sebab pujian itu hanya milik Allah.
Terkadang kita terhadap orang yang berbuat baik kepada kita, membalasnya dengan seolah menghamba dan menyembah kepadanya. Jangan sampai ada syirik tersembunyi pada hati kita dengan menyekutukan pujian.
Di dalam surah Al-Fatihah sudah ditegaskan, “Segala puji milik Allah.” Minimal sehari 17 kali kita baca, tapi pada kenyataannya kita banyak memuji selain Allah.
Selanjutnya, harus disadari pula, orang-orang yang berbuat kepada kita itu adalah perantara kebaikan kepada kita. Pujilah, bersyukurlah kepada mereka dengan mendoakan, maka itu adalah pujian yang terhormat baginya.
Karena itu pula harus disadari, ketika berbuat baik kepada orang, jangan kecewa apalagi marah kalau tidak dipuji atau tidak dibalas dengan kebaikan oleh orang yang menerima kebaikan itu, kenapa? Karena dia hanya perantara. Kalau marah dan kecewa maka akan menggugurkan pahala kebaikan itu sendiri.
Siti Aisyah Ra. setiap kali memberi seseorang dan yang diberi mendoakan, beliau pun menjawab hal yang sama. Maka khadam beliau bertanya, kenapa engkau mendoakan dengan orang yang menerima ini? Maka Siti Aisyah menjawab: kalau aku beri dia dan dia mendoakan aku, maka impas sama-sama memberikan kebaikan. Maka aku ingin lebih dan ku doakan lagi dia kebaikan.
Para orang saleh dahulu apabila mengantar dan memberi sesuatu kepada orang fakir dan miskin, maka orang saleh ini menyerahkan kepada khadamnya dan beliau berpesan untuk mencatat doa apa yang fakir miskin tersebut ucapkan. Untuk apa? Untuk membalas doa-doa mereka dengan doa yang sama. Maka pemberian itu tetap lebih baik daripada yang menerima. Inilah di antara sifat orang-orang terdahulu, sangat memperhatikan hal-hal seperti itu, agar tetap tangan yang memberi lebih baik dari tangan yang menerima. (*)
Editor : Arief