Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Guru Ahmad Sirojuddin: Terinspirasi Buya Hamka, Menulis Sebagai Jalan Dakwah dan Amal Jariah

Rasidi Fadli • Kamis, 26 Februari 2026 | 09:44 WIB

Photo
Photo

RANTAU – Di sela kesibukannya mengajar di Ponpes Assuniyah Tambarangan dan menjalankan tugas di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tapin Selatan, Guru Ahmad Sirojuddin tetap setia menekuni dunia kepenulisan.

Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan dakwah sekaligus amal jariah yang pahalanya terus mengalir. Guru Ahmad Sirojuddin lahir di Tambarangan pada 5 Jumadil Awwal 1400 Hijriah. Putra pasangan Sulaiman bin h. Ismail bin tuan guru h. Ali Husin bin h. Jamaluddin dan ibu Fatimah binti Hadar.

Ia dikenal sebagai pendidik, penulis produktif, sekaligus pengisi majelis ilmu yang aktif disiarkan melalui berbagai platform digital.

Bersama sang istri pertama yang sudah cerai dan istri kedua sekarang, Yulia Rahmida, Guru Sirojuddin dikaruniai lima orang anak, yakni Siti Hidayatul Adkiya (20), Muhammad Fathullah (16), Muhammad Munir Afifuddin (11), M Subki Nuruddin (7), dan Muhammad Ali Zainal Abidin (6).

Aktivitas dakwahnya kini juga menjangkau ruang digital. Majelis yang diasuhnya rutin disiarkan melalui kanal YouTube Yasirul Majelis Media dan Sabilul Khidmah Official, serta media sosial seperti TikTok “Jalan Menuju Bahagia”. Siaran langsung tersebut kemudian diarsipkan menjadi dokumentasi dakwah yang bisa diakses masyarakat luas.

Kecintaan Guru Sirojuddin pada dunia tulis-menulis, tumbuh sejak masa sekolah dasar (SD) di Tambarangan 1. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, karangan-karangannya kerap mendapat apresiasi.

Bakat itu semakin terasah saat menempuh pendidikan di tingkat MTs Assuniyah. Sejumlah cerpen bernuansa islami bahkan ditulisnya, dan kumpulan cerpen Cerita Cinta Nuansa Islami tersebut dijadikan buku, judulnya Bayang-Bayang Tragedi. “Menulis itu memang hobi dari kecil,” ungkapnya.

Ketika mondok di Pondok Pesantren Darussalam sekitar 1996–1997, arah tulisannya mulai bergeser. Dari cerpen dan novel, ia beralih menulis karya-karya keilmuan, seperti tauhid, fiqih, tasawuf, hingga kajian-kajian yang dibutuhkan masyarakat.

 

Terinspirasi oleh tokoh besar seperti Buya Hamka dan Habiburrahman El Shirazy, Guru Sirojuddin terus menulis tanpa henti. Hingga kini, tak kurang dari 50 judul buku telah ia tulis. Sebagian besar berupa biografi ulama, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, serta kitab-kitab taklik tentang tajwid, tafsir, hadis, sanad keilmuan, hingga tasawuf karya para ulama.

Buku-buku tersebut tidak hanya dicetak, tetapi juga diajarkan di majelis-majelis. Bahkan, sebagian dicetak khusus untuk dibagikan.

Dalam dunia pendidikan, Guru Sirojuddin mulai mengajar di Pondok Pesantren Assuniyah sejak 2005. Ia juga pernah mengabdi di Pondok Pesantren KH Ahmad Barmawi atau Guru Kulur. Sosok-sosok guru yang paling membentuk karakter dan keilmuannya adalah almarhum Abuya KH Muhammad Sukri Unus, KH Munawar Gajali dari Martapura dan almarhum KH Imansyah Amir, pengasuh Ponpes Assuniyah Tambarangan.

“Pesan guru-guru kami jelas, belajar dari buaian sampai ke liang lahat. Selama masih hidup, jangan berhenti belajar,” ujarnya.

Pesan lain terangnya, selain menuntut ilmu, hendaknya juga menelusuri dan menjaga sanad serta ijazah keilmuan yang bersambung dari para ulama, dari generasi ke generasi, hingga sampai kepada Rasulullah.

Ditambahkannya, para ulama menegaskan Al-‘ilmu al-mu‘tabar m? ittashala sanaduhu bisayyidil basyar. "Artinya, ilmu yang layak dipegang dan diamalkan adalah ilmu yang memiliki mata rantai sanad yang bersambung hingga kepada Baginda Nabi Muhammad," tuturnya.

Di balik produktivitasnya, Guru Sirojuddin mengakui ada tantangan besar, terutama soal waktu dan istirahat. Sepulang mengajar di pesantren dan bekerja di KUA, ia memanfaatkan waktu malam selepas salat Isya, usai subuh, serta sebelum berangkat ke kantor untuk menulis.

Ia berharap, apa yang ditulisnya menjadi amal jariah, pahalanya mengalir untuk kedua orang tua dan para guru, serta menjadi bekal ilmu bagi generasi penerus. “Selama masih diberi umur dan kesehatan, menulis akan terus dijalani,” tutupnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Tapin #kua #Ulama #Literasi