BANJARMASIN - Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki segudang tokoh sekaligus ulama yang aktif berdakwah meyiarkan agama Islam. Tak sedikit di antara mereka dikenal karena jasa, pengetahuan luas dan akhlak yang menjadi contoh dalam kehidupan umat muslim di Banua.
Dari sekian banyak yang wafat dan masih hidup, terdapat satu ulama yang mungkin masih jarang terdengar. Namanya lebih dikenal karena gaya dakwahnya yang dituangkan ke dalam lembaran tulisan.
Dia adalah KH Ahmad Barjie, seorang ustaz, penulis dan pendakwah. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk menulis dan merangkum semua jejak peninggalan pemikiran para ulama dan tokoh yang telah tiada.
Luasnya ilmu agama dalam berbagai aspek bidang, tauhid, syariat, fikih, ibadah hingga tasawuf, Barjie mengaku lebih tertarik khusus pada akidah dan tasawuf. Bukan karena merasa lebih dominan menguasai, tapi ia menyakini bahwa akidah adalah fondasi kehidupan beragama. “Dalam hidup ini berakhidah yang benar sangat penting. Jika akidah benar, insya Allah yang lain akan mengikuti,” ujarnya, Rabu (11/2).
Di tasawuf, Barjie lebih cenderung mendalami tasawuf akhlak, ilmu yang menekankan pembentukan karakter, penyucian jiwa dan pembiasaan perilaku mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya ajaran mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah memang banyak cabangnya. Namun, tasawuf akhlak lebih terasa dekat baginya, karena lebih dekat dengan kehidupan umat.
Ia mengatakan, ilmu agama yang dipelajari mungkin belum sempurna. Namun, cukup untuk diamalkan dan dibagikan sesuai kemampuan. Prinsip inilah yang membuatnya selain berdakwah di mimbar, namun juga melangkah melalui tulisan. “Ilmu agama yang dipelajari cukup dan terdorong untuk mengamalkan dan sesuai kemampuan,” tuturnya.
Jalan dakwah Barjie tempuh, hingga kini masih mengisi khutbah, pengajian, ceramah subuh hingga memenuhi undangan ibu-ibu majelis taklim. Namun, ia rasa itu belum cukup dan masih sangat terbatas.
Ia ingin dakwah terjangkau lebih luas dengan cara memilih pena sebagai perpanjangan lisan. Baginya, membaca adalah proses mengisi diri. Sementara menulis adalah cara untuk membagikan isi tersebut kepada orang lain.
Dakwah dipahami sebagai jalan untuk saling menasihati, memberi informasi, melakukan koreksi dan membimbing satu sama lain. Dakwah melalui tulisan bukan untuk menggantikan mimbar. Melainkan cara memperkaya metode penyampaian. Tentu tema agama yang berkaitan dengan sejarah dipilih, sebab menunangkannya bisa lebih luas.
Sejak 1984, Barjie telah banyak menulis tentang ulama, baik nasional maupun lokal. Sosok-sosok yang hidup maupun telah wafat.
Salah satu karyanya yang dikenal adalah buku yang berjudul “Ulama dan Tokoh Banjar” yang memuat sekitar 137 nama, lengkap dengan informasi, motivasi, dan inspirasi dari perjalanan hidup mereka.
Buku ini dikatakan telah mengalami pembaruan dan penambahan sebanyak enam kali. Dan edisi terkininya terbit baru sekitar dua bulan tadi.
Ia meyakini, ulama patut dikenang. Jika tidak ditulis, lambat laun masyarakat akan melupakan jasa dan perjuangan mereka. Padahal tidak semua ulama sempat meninggalkan kitab atau buku. Ada yang ilmunya sangat dalam dan luas, tetapi tak terdokumentasi secara memadai.
Ia berharap para ulama juga terdorong untuk menulis. Ilmu yang tidak dibukukan berisiko hilang bersama waktu.
Setiap kali seorang ulama wafat, Barjie berusaha semaksimal mungkin untuk membukukannya. Menambah daftar tulisan yang akan selalu hadir sebagai pengingat, bahwa warisan ilmu bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan. “Saya sangat mengharapkan ulama-ulama menulis kitab atau buku meski hanya sedikit. Karena ilmu mereka sangat dalam dan luas untuk ditulis ulang,” ujarnya.
Selain buku Ulama dan Tokoh Banjar, Barjie menulis tentang Sultan Suriansyah: Pioner Dakwah Islam di Tanah Banjar. Kemudian, Perang Banjar Barito 1859-1906 dan masih banyak lagi buku yang ditulis mengandung tema tentang dakwah-dakwah Islam.
Ahmad Barjie lahir di Kelua, Kabupaten Tabalong pada 6 Desember 1964. Ia bersekolah di SDN Bahungin Pasintik Kelua, SMPN Kelua dan MAN Kelua Jurusan IPA.
Sebelum masuk kuliah, Barjie muda sudah dipercaya menjadi mengisi khutbah pada Salat Jumat. Ketertarikan dalam memperdalam ilmu agama dilanjutkan ke kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin pada tahun 1985. Setelah lulus pada 1988, ia kemudian melanjutkan Pascasarjana Studi Ahlak dan Tasawuf di IAIN Antasari Banjarmasin 2014.
Dari karya dan dedikasinya, ia mendapatkan anugerah Astaprana Bidang Kajian Sejarah Banjar dari Sultan Banjar, 2013 dan Penghargaan Asywadie Award dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Antasari Banjarmasin 2014 atas pengabdian dakwah melalui tulisan.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief