BANJARBARU – Bagi Abdul Hafiz Romain Arif, atau Abdul Hafiz, menulis bukan sekadar aktivitas literasi. Ia menjadikannya sebagai sarana menguatkan pemahaman ilmu sekaligus menjawab kebutuhan keagamaan masyarakat. Ulama kelahiran 1984 itu kini dikenal sebagai penulis produktif di bidang fikih dengan puluhan karya yang telah diterbitkan.
Dalam setiap karya tulisnya, Abdul Hafiz memiliki ciri khas tersendiri. Ia kerap menggunakan nama pena yang merupakan gabungan nama orang tuanya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, ia tetapi dikenal dengan nama Abdul Hafiz.
Perjalanan literasinya tidak berangkat dari tradisi keluarga penulis. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang keluarga yang menekuni dunia kepenulisan. Ketertarikannya justru tumbuh dari kebiasaan membaca sejak usia dini. “Sejak madrasah sudah suka membaca. Kalau mulai serius menulis itu ketika mondok di Pondok Pesantren Darussalam,” ujarnya.
Pada awalnya, tulisan yang dibuat hanya berupa catatan dan latihan pribadi. Namun, ia meyakini bahwa menulis merupakan cara efektif untuk memperkuat pemahaman terhadap ilmu yang dipelajari. Dari kebiasaan sederhana itu lahir konsistensi yang terus ia jaga hingga sekarang.
Perjalanan intelektualnya juga dipengaruhi oleh gurunya, Abuya KH Muhammad Sukri Yunus. Dari sosok tersebut, ia melihat teladan ulama yang tidak hanya mengajar, tetapi juga produktif menulis dan menerjemahkan kitab sebagai bagian dari dakwah keilmuan.
Perjalanan pendidikan Abdul Hafiz dimulai dari kampung halamannya di Pontianak. Ia kemudian menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Khairiyah selama sekitar delapan tahun, sebelum melanjutkan ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura selama enam tahun.
Setelah itu, ia memperdalam ilmu melalui program takhassus di bawah bimbingan Abuya KH Muhammad Sukri Yunus di Majelis Ta'lim Sabilal Anwar Al-Mubarak selama tiga tahun.
Bidang ilmu yang disenangi adalah fikih. Menurutnya, fikih memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan sehari-hari karena berkaitan dengan hukum syariat atas perbuatan manusia. “Fikih itu menyangkut keseharian. Bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” katanya.
Menariknya, pada masa awal menulis ia justru lebih tertarik pada tema-tema remaja seperti pergaulan dan motivasi. Namun, setelah terjun ke masyarakat, ia menyadari kebutuhan utama umat adalah pemahaman hukum-hukum ibadah dan kehidupan sehari-hari. “Ketika pulang kampung, tidak ada yang bertanya soal motivasi. Yang ditanyakan semuanya soal hukum fikih. Dari situlah saya fokus ke fikih,” terangnya.
Sejak mulai menulis sekitar 2003, Abdul Hafiz telah menghasilkan lebih dari 30 buku. Sekitar 15 buku membahas amalan-amalan, zikir, dan panduan ibadah. Sementara 15 hingga 16 buku lainnya mengangkat tema keagamaan, terutama fikih.
Salah satu karya yang lahir dari kebutuhan jamaah adalah buku tentang fikih puasa. Awalnya, materi tersebut hanya berupa rangkuman dari kitab yang dipelajari untuk bahan pengajian. Namun kemudian disusun menjadi buku agar lebih mudah dipelajari masyarakat.
Ia juga membukukan forum tanya jawab fikih bersama santri yang rutin digelar setiap pekan. Seri tersebut diberi judul Suka Bertanya Selamat di Jalan dan telah terbit dalam tiga jilid, masing-masing berisi sekitar 100 pertanyaan.
Di tengah perkembangan teknologi, Abdul Hafiz melihat kemudahan akses referensi sebagai peluang besar bagi dunia literasi. Jika dahulu harus mencari sumber di perpustakaan, kini bahan rujukan dapat ditemukan lebih cepat melalui pencarian digital. “Tantangannya sekarang tinggal memastikan referensinya benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia pun mendorong para santri untuk mulai menulis tanpa harus menunggu karya yang sempurna. Menurutnya, kebiasaan menulis jauh lebih penting daripada memikirkan hasil sejak awal. Namun, ia menegaskan bahwa menulis harus diiringi dengan kegemaran membaca.
Saat ini Abdul Hafiz aktif sebagai pengasuh Pesantren Al-Qur’an Darul Inqilabi di Karang Intan, Martapura. Ia juga mengajar di Pondok Pesantren Nurul Ma’ad dan Ma’had Ar Rahman di Banjarbaru.
Selain itu, ia rutin mengisi berbagai majelis taklim di Banjarmasin dan Banjarbaru, serta membagikan materi kepada santri melalui buku maupun file digital. Menjelang Ramadan, ia juga menggelar kajian daring bersama wali santri.
Di tengah aktivitas dakwah dan pendidikan, ia tetap menjadikan menulis sebagai bagian dari pengabdian. “Menulis itu bagian dari menyebarkan ilmu. Selama masih bisa menulis, insyaallah akan terus menulis,” ujarnya.
Abdul Hafiz menikah pada 2007 dengan Hj Raihanah binti KH Ahmad Kusasi dan dikaruniai tiga orang anak. Melalui karya, pengajaran, dan dakwahnya, ia berharap dapat mendorong masyarakat untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara lebih utuh dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief