Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Amuntai yang Mengajar di Masjidi Haram, Begini Keteladanan Tuan Guru Haji Muhammad Khalid

M Akbar Radar Banjarmasin • Jumat, 20 Februari 2026 | 10:43 WIB
Photo
Photo

AMUNTAI - Ramadan selalu hadir sebagai bulan perenungan, saat umat Islam diajak menengok kembali jejak para pendahulu yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan dakwah.

Di antara sosok ulama yang layak dikenang pada bulan penuh berkah ini adalah Tuan Guru Haji Muhammad Khalid bin Abdurrahman (1843–1963). Seorang alim yang menorehkan pengaruh mendalam bagi perkembangan pendidikan Islam di Nusantara.

Tuan Guru Khalid berasal dari Desa Tangga Ulin, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ustaz Nur Hidayatullah, dosen pengajar UIN Walisongo Semarang sekaligus alumni Pondok Pesantren Rakha Amuntai, menyebut, Guru Khalid adalah contoh ulama yang menghidupkan ilmu dengan amal. “Keteladanan seperti inilah yang relevan direnungkan di bulan Ramadan,” ujarnya.

Dikatakanna, semangat menuntut ilmu yang ditunjukkan Tuan Guru Haji Muhammad Khalid sejalan dengan nilai Ramadan. Kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan.

Nur menceritakan, setelah menimba ilmu di tanah air, beliau melanjutkan rihlah keilmuan ke Makkah (Arab Saudi, red) dan menetap selama 26 tahun. Di Tanah Suci, beliau berguru kepada ulama besar, di antaranya Syekh Umar Syatha, Syekh Bakri Syatha, serta Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Al Maliki.

Kedalaman ilmunya mengantarkan beliau dipercaya mengajar selama 12 tahun di Babussalam Masjidil Haram. Di tempat suci itu, beliau tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi juga menanamkan nilai kesungguhan ibadah dan akhlak, nilai-nilai yang menjadi inti Ramadan.

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1909, Tuan Guru Haji Muhammad Khalid mengabdikan diri sepenuhnya untuk umat. Ia membangun pusat pengajaran agama di kawasan Tangga Ulin, yang menjadi tempat para santri menimba ilmu. Di ruang sederhana itulah lahir generasi pencari ilmu yang kelak meneruskan dakwah Islam.

Ramadan, yang mengajarkan kepedulian dan pengabdian sosial, tercermin dalam kiprahnya. Selain mengajar, ia kerap diminta memberikan fatwa keagamaan oleh masyarakat dari berbagai daerah, menunjukkan kepercayaan umat terhadap keluasan ilmu dan kebijaksanaannya.

Semangat dakwah Tuan Guru Haji Muhammad Khalid tidak terikat oleh wilayah. Pada tahun 1932–1936, ia merantau ke Batu Pahat dan Pulau Pinang, mengajarkan Islam melalui pengajian dan pendidikan. Bahkan, ia pernah mengajar di Istana Raja Perak di Tanah Melayu Malaysia, sebuah amanah yang menunjukkan kewibawaan ilmunya.

Begitu juga atas undangan Raja Kutai ke-19 Aji Muhammad Parikesit Kutai Kartanegara, Tuan Guru Haji Muhammad Khalid juga berdakwah hingga ke pedalaman Samarinda, membina madrasah dan pesantren. Langkah-langkah ini mencerminkan nilai Ramadan tentang menyebarkan kebaikan tanpa mengenal batas.

Bulan Ramadan mengingatkan umat Islam akan pentingnya amal jariah. Bagi Tuan Guru Haji Muhammad Khalid, amal jariah itu terwujud melalui para muridnya. Banyak santri beliau yang kemudian tumbuh menjadi ulama, pendidik, dan pemimpin, seperti H. Idham Chalid, H. Asy’ari Sulaiman, H. Mastur Jahri, H. Hanafi Nagara, dan lainnya. Mereka menjadi bukti bahwa ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan terus hidup, melintasi generasi.

Selain melalui murid, warisan Ramadan beliau juga tertulis dalam karya-karya keilmuan, seperti Lubbah al-Kalimah ath-Thayyibah, Aqaidul Iman, Risalah Tafakkur, Risalah Haji, hingga Nuru minas Sama’. Kitab-kitab tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu adalah cahaya yang tidak padam oleh waktu

Sosok Tuan Guru Haji Muhammad Chalid bin Abdurrahman juga hadir sebagai teladan. Hidupnya mengajarkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga melatih keikhlasan dalam mengabdi, kesabaran dalam menuntut ilmu, dan keteguhan dalam menebar manfaat. Jejak beliau menjadi lentera, mengingatkan bahwa cahaya ilmu dan amal akan selalu menemukan jalannya, terutama di bulan yang penuh rahmat ini.


Editor : Arief
#Ulama #Literasi #Hulu Sungai Utara