Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Bermula tutupan itu terbagi dua, pertama tertutup dari berbuat maksiat. Kedua tutupan dalam perbuatan maksiat. Orang awam mereka itu meminta kepada Allah supaya ditutupi daripada maksiat karena takut jatuhnya martabat mereka di sisi makhluk. Adapun orang-orang istimewa mereka meminta kepada Allah supaya jangan sampai berbuat maksiat karena takut jatuhnya mereka dari pandangan Allah Swt.”
Hikmah ke-130 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, orang pada umumnya meminta kepada Allah agar ditutupi kemaksiatan mereka, mereka berdoa ‘Ya Allah tutupi kami’, padahal mereka itu masih melakukan maksiat dan bersembunyi melakukannya.
Ia meminta demikian, karena khawatir jatuhnya kedudukan mereka di sisi makhluk bilamana makhluk mengetahui atas keadaan mereka. Takut maksiatnya diketahui orang dan tidak akan dimuliakan, diremehkan orang lain. Kemudian tidak akan didapat sesuatu yang dia harapkan dari manusia.
Mungkin saja yang selama ini dermawan kepada kita, begitu tahu kita bermaksiat, maka mereka menghentikan kedermawanannya. Orang yang selama ini menghormati, begitu tahu kalau kita maksiat, mereka akan meremehkan.
Orang yang seperti ini, berarti mereka berpegang pada selain Allah. Karena takut kalau maksiatnya ketahuan, orang tidak akan menghargainya lagi. Mereka inilah sebenarnya ahli syirik yang tersembunyi.
Jadi kita harus bertaubat dari perilaku seperti itu. Bertaubat kepada Allah bahwa selama ini mengharapkan penghargaan, kehormatan dan bantuan dari manusia, sehingga takut mereka mengetahui dirinya bermaksiat kepada Allah.
"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi (mengapa) tidak bersembunyi dari Allah? Padahal, Dia beserta mereka ketika mereka menetapkan di malam hari perkataan yang tidak Dia ridai. Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan." (An-Nisa': 108)
Imam Sahl bin 'Abdullah at-Tustari Rahimahullah, beliau diajari paman sekaligus guru beliau dari kecil amalan, agar merasa Allah selalu menyaksikan, yakni: Allahu ma’i, Allahu naziri, Allahu syahidi artinya Allah beserta aku, Allah memandang aku, Allah menyaksikan atasku.
Baca sebanyak sebelas kali hanya di dalam hati saja. Kata Imam Sahal tidak lama setelahnya, aku merasakan manisnya ibadah.
Kenapa sebab orang awam maksiatnya bersembunyi daripada manusia dan tidak bersembunyi daripada Allah, karena mereka tidak merasakan Allah besertanya dan Allah selalu memandang dan menyaksikannya.
Sebaliknya kalau kita merasakan Allah beserta kita, memandang dan menyaksikan, maka dimanapun kita berada akan merasakan kita selalu diawasi Allah Swt.
Rasulullah Saw. bersabda: “Pada hari kiamat sekelompok manusia diperintahkan dibawa ke surga, begitu dekat dan sudah mencium bau harum semerbak manusia dan melihat gedung-gedung mahligai surga, serta melihat perhiasan dan bidadari surga dan diumumkan lagi, kembalikan lagi sekelompok manusia tadi karena tidak ada jatah di surga ini.
Maka mereka kembali dengan rasa rugi dan menyesal, mereka berkata: Wahai Tuhan! Jikalau Engkau masukan kami ke dalam neraka sebelum Engkau lihatkan kepada kami yang Engkau lihatkan dari pahala yang Engkau sediakan untuk para wali-wali Engkau, niscaya itu lebih ringan atas kami.
Allah berfirman: Memang itu yang Aku hendaki! Kalian ini apabila ada di tempat yang sunyi di dalam dunia kalian melakukan dosa-dosa yang besar. Apabila bertemu manusia maka kalian bertemu dalam keadaan khusyuk dan tunduk di hadapan manusia, kalian itu minta penilaian kepada manusia dengan amal kalian berbeda dengan apa yang kamu berikan kepada-Ku daripada hati kalian. Kalian itu hanya takut kepada manusia (dicela, diremehkan, dsb) dan tidak takut kepada-Ku. Kalian hanya mengagungkan manusia tapi tidak mengagungkan Aku, dan kalian itu meninggalkan maksiat karena manusia bukan karna Aku. Sekarang Aku rasakan kepada kalian pedihnya siksa-Ku serta Aku cegah kalian dari besarnya pahala.”
Sedangkan orang-orang yang khusus, mereka meminta daripada Allah akan tutupan daripada maksiat itu. Mereka meminta kepada Allah agar maksiat itu dihilangkan dari padangan mereka dan tidak ada keinginan hati mereka untuk melakukan maksiat. Do’anya sama saja: “Ya Allah tutupilah aib dan kemaksiatanku.”
Orang-orang khusus ini takut jatuh martabat mereka dari padangan Allah Swt. Sedangkan pandangan manusia itu di luar pemikiran mereka. Mereka tidak menoleh kepada makhluk, baik berupa pujian atau pun celaan, manfaat maupun mudharat.
Inilah orang-orang yang sudah kuat keimanan dan keyakinan mereka, bahwa manfaat dan mudarat itu dari Allah Swt bukan dari makhluk. Selama kita masih mempercayai bahwa makhluk dapat memberikan manfaat dan mudarat, maka sulit untuk masuk ke dalam golongan khusus ini. Maka ibadah akan selalu riya, minta puji dan lain sebagainya karena dia meyakini manusia bisa menyenangkan dan memberikan manfaat kepadanya.
Jadi, mengobati riya itu tidak akan cukup hanya dengan mendengar bahwa riya itu dosa besar, akan disiksa oleh Allah, mengugurkan pahala ibadah, tidak cukup. Cara mengobati riya ini mesti dengan menambah keyakinan dan keimanan. Kalau yakin dan iman kita kuat, bahwa Allah segala-galanya, maka riya itu akan hilang. Kalau masih saja kita menganggap ada selain Allah yang memberi manfaat maka riya tidak akan hilang.
Seperti kita salat di hadapan sapi dan kambing, maka kita tidak akan peduli, sedangkan di hadapan manusia kita menganggap manusia bisa memberikan keuntungan, maka kita selalu ada riyanya. Maka tidak ada obat riya selain memperkuat iman bahwa segala-galanya hanya Allah Swt. (*)
Editor : Arief