Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ad Durun Nafis, Kitab Melayu Banua yang Dicekal Belanda

Ibnu Dwi Wahyudi • Rabu, 18 Februari 2026 | 09:22 WIB
Photo
Photo

Menyambut Ramadan 1447 H/2026, kami menghadirkan serial Jejak Literasi Ulama Banua, yang menelusuri kiprah dan warisan intelektual para ulama. Tulisan perdana mengangkat kitab karangan Syekh Muhammad Nafis bin Idirs bin Husin Al Banjari.

TANJUNG – Ad Durun Nafis atau Permata yang Indah. Itulah salah satu dari kitab karangan Syekh Muhammad Nafis bin Idirs bin Husin Al Banjari. Seorang pangeran dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan. 

Kitab itu sudah sangat masyhur di kalangan para ulama. Bahkan banyak dari mereka mencetaknya kembali untuk mempelajari apa yang dituangkan sang syekh. Konon kitab tersebut pernah dicetak oleh ulama Mesir dan Arab Saudi. 

Seorang Budayawan, Ahmad Hanafi menceritakan, kitab aslinya bertuliskan arab melayu. “Terbitnya kitab itu berdasarkan permintaan kawan-kawan beliau,” terangnya. 

Kitab itu bukanlah kitab biasa. Walaupun tipis, namun isinya padat. Isinya ilmu Tasyawuf yang mengajak pembacanya untuk bangkit melawan belanda. “Kitab Syekh Nafis pernah dicekal dan disebut aliran sesat oleh kaum penjajah Belanda. Belanda khawatir, kitab itu mengajarkan jihad fisabillah,” tegasnya. 

Apalagi selain penjajah, Belanda merupakan orang kafir yang melakukan perlawanan terhadap kesultanan. 

Hanafi mengetahui Syekh Muhammad Nafis memiliki delapan orang guru. Pertama Syekh Abu Fauzi Ibrahim bin Muhammad Al Rai’is Al Zamzami Al Makki. Seorang guru yang menguasai ilmu agama dan ilmu palak. 

Kemudian ada Syekh Muhammad Al Jauhari Al Mishri seorang anak pewaris ahli hadist terkenal di Mesir yakni Syekh Ahmad bin Al Hasan. Lalu Syekh Abu Zarrah Al Misri, Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Sammi Al Madani, Syekh Abdurahman Bin Abdul Aziz Al Magribi, Syekh Shiddiq bin Umar Khan dan Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim. 

Berkat kegigihannya, Syekh Muhammad Nafis akhirnya mendapatkan gelar syekh Al Mursyid, yang berarti memahami, mengerti, dan mengamalkan ilmu tasawuf dan tharekat. Dari gelar itulah, dia pun mengajarkan dan menuliskan kitab Ad Durun Nafis. 

Sepulangnya menuntut ilmu, Syekh Nafis mulai berdakwah di Nusantara. Hanya saja, berbeda dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang kembali ke lingkungan Kesultanan Banjar, Syekh Nafis memilih untuk berkelana berdakwah ke Tabalong.

Syekh Nafis sempat tinggal di rumah Gusti Musa, seorang kerabatnya. Beliau meninggal dunia diketahui usai bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad di Desa Binturu, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong tahun 1812 masehi. Sebagaimana isyarat Syekh Nafis saat bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad di tanah Makkah.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Tabalong #belanda #Ulama #Literasi #Jejak Literasi Ulama Banua #Sejarah