Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hilm Allah, Hajat Hamba yang Punya Riya Sebelum Ibadah

admin • Jumat, 13 Februari 2026 | 07:58 WIB

 

H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

                  Oleh: H. Muhammad Tambrin
                  Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Engkau lebih berhajat kepada hilm Allah ketika berbuat taat kepada-Nya, melebihi daripada hajat kepada hilm Allah apabila maksiat kepada-Nya.”

Hikmah Ke-129 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah

           *****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, hilm Allah adalah ketika Allah Swt menunda untuk mengambil tindakan kepada hamba, padahal Allah mampu menghukum seseorang saat itu juga, maka penundaan itu adalah hilm Allah.

Lantas bagaimana orang yang taat kepada Allah lebih perlu hilm Allah dibanding orang yang maksiat. Bahkan semakin taat seseorang, maka semakin berhajat ia akan hilm Allah.

Ternyata karena orang yang taat, terkadang datang bersama dosa-dosa besar dalam hatinya, seperti riya. Dosa riya ini bisa muncul sebelum, saat atau sesudah kita melaksanakan taat. Beribadah kepada Allah dan tujuannya agar dapat pujian makhluk, itulah riya sebelum ibadah.

Ada pula orang yang ikhlas beramal semata-mata karena Allah dan saat dia beramal riya datang. Seperti orang yang salat sendirian di tempat sunyi, begitu rakaat selanjutnya orang datang dan muncullah riya. Contoh tanda riya datang adalah saat sendiri dia membaca Al-Fatihah dengan cepat dan saat ada orang dia membaguskan bacaannya.

Ada juga riya setelah beramal, contoh orang yang beramal pada sepuluh tahun lalu, tetapi diceritakan dengan tujuan dihormati dan dimuliakan orang lain. Dan orang yang taat itu bisa saja didatangi riya kapan pun.

Justru dari itu orang yang taat itu sangat perlu hilm Allah, maka jangan dipandang orang yang ahli beribadah itu lebih baik daripada pemabuk, penzina. Belum tentu. Kalau orang yang ahli ibadah ini dihinggapi riya, maka dosanya lebih besar. Karena zina dosa zahir dan riya dosa batin, dan dosa batin lebih besar dari dosa zahir.

Ujub, sombong, takabur, menghinakan orang lain, maka dikhawatirkan berbalik taat itu menjadi maksiat dan dia tidak sadar itu, bahkan dia menganggap dirinya orang saleh.

Dia menyangka dia orang saleh karena banyak ibadahnya, seperti tahajud setiap hari, salat sunah ratusan rakaat, tanpa dia sadari bahwa banyak penyakit hati yang mencampuri ibadahnya.

Jikalau orang tersebut tidak ada hilm dan maaf Allah, Allah benci kepadanya dan Allah jauhkan dari hadrat-Nya maka jadilah dia orang yang terusir dan dimurkai Allah Swt. Jadi, semakin banyak taat yang kita lakukan maka semakin banyak berharap hilm dan maaf Allah Swt.

Rasulullah Saw. ketika selesai salat beristighfar tiga kali. Salat itu penghulu taat, setelahnya Nabi meminta ampun kalau terdapat kekurangan di dalamnya yang membuat Allah tidak suka dengannya.

Misal saat membaca doa iftitah, “Aku hadapkan hatiku kepada Allah.” Tetapi saat membaca itu hati kita lupa. Imam Al-Ghazali mengatakan dalam Ihya Ulumiddin, orang seperti ini memulai salatnya dengan berdusta kepada Allah Swt. Dia mengatakan bahwa hatinya berhadap kepada Allah, padahal dia lupa.

Makanya, kalau orang maksiat perlu istighfar kepada Allah, maka orang yang taat lebih perlu istighfar kepada Allah. Sebab orang maksiat kepada Allah terkadang maksiatnya membawa kepada perasaan takut, hina dan sangat perlu kepada ampunan Allah Swt.

Sehingga orang seperti ini bisa mendapat rahmat, hidayah dari Allah, lalu Allah berikan taufik agar bertaubat dan menjadi hamba yang dia cintai. Imam Abu Yazid Al-Bustami berkata: Kalau orang ahli maksiat itu perlu satu taubat, tetapi orang ahli ibadah itu perlu seribu taubat. Sebab dosa-dosa di hati jauh lebih besar.

Sebaik-baik hamba itu adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan dia tidak melihat yang demikian itu ada daya dan upayanya, tetapi dia melihat taat yang dilakukannya itu adalah hidayah dan taufik dari Allah dan daya upayanya Allah dan karena Allah Swt. Kalau kita beribadah dengan tiga landasan ini, maka ibadah kita selamat.

Sebaliknya juga, sepaling jahat hamba Allah adalah hamba yang maksiat dan terus-menerus maksiat dan terperdaya dengan hilm-Nya Allah, Allah tidak menghukum dengan maksiatnya. Dia mengira Allah sayang dan dia berangan-angan atas Allah dengan macam-macam angan-angan.

Seperti berangan-angan dapat ampunan Allah, masuk surga dengan syafa’at-Nya Rasulullah, tetapi maksiat terus dilaksanakannya. Maka ini adalah sepaling jahat hamba Allah.

Kita boleh berharap dapat ampunan Allah, tapi mesti mengubah akhlak kita. Allah itu Maha Pengampun, tetapi bagi yang bertaubat, beriman, beramal saleh. Maka selanjutnya boleh berharap kepada ampunan Allah Swt. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah