Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Jikalau tidak ada kebaikan tutupan dari Allah niscaya tidak ada amal yang layak diterima.”
Hikmah ke-128 dari Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah
*****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, jikalau tidak karena anugerah Allah atas orang yang beramal ibadah, tidak adalah amalnya itu bisa diterima oleh Allah Swt., karena amal ibadah yang bisa diterima itu ialah amal ibadah yang sempurna padanya syarat-syarat diterima. Sedangkan syarat-syarat diterima itu banyak, baik syarat diterima yang zahir maupun batin.
Contohnya seperti salat yang kita laksanakan itu memerlukan anugerah Allah agar diterima-Nya. Karena sulit kita bisa menyempurnakan syarat-syarat diterima amal itu, jadi yang kita harapkan hanya Allah Swt. tidak terlalu mempermasalahkan jika amal kita ini banyak kurangnya karena banyak sekali syarat-syarat untuk diterima. Jadi, sangat diperlukan anugerah, kemaafan dan kemurahan Allah agar amal kita bisa diterima oleh Allah Swt.
Syarat-syarat diterimanya sebuah ibadah, ada yang zahir dan batin yang harus kita penuhi. Zahir seperti bahwa makanan, minuman, pakaian dan tempatnya halal. Tenaga yang kita dapatkan dari suatu makanan dan minuman mesti dari yang halal. Pakaian pun mesti yang halal serta tempat yang kita tempati untuk ibadah itu mesti halal. Inilah syarat untuk diterimanya sebuah amal ibadah.
Meski kita telah mengusakan makanan minuman pakaian yang halal. Tetaplah kita berharap yang didahului kehati-hatian, agar Allah Swt bisa memaafkan kalau di luar kemampuan dan pengetahuan kita, ada makanan dan minuman yang kita makan adalah yang haram, sehingga amal kita bisa memenuhi satu syarat dari sekian syarat untuk diterima.
Ibnu Abbas Ra. berkata: “Allah tidak menerima salat seorang hamba sedangkan di dalam perutnya ada sesuatu dari yang haram.” Sehingga jika sudah nyatanya makan makanan yang haram, jangan berharap anugerah Allah untuk diterima, karena sudah tahu makan makanan yang haram. Tapi yang mesti dilakukan adalah bertaubat terlebih dahulu dari yang haram, baru berharap akan anugerah Allah.
Selanjutnya syarat diterima ibadah yang zahir adalah keridhaan orang tua kita. Maka orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya Allah tidak ridha kepadanya. “Keridhaan Allah itu terletak pada keridhaan kedua orang tua.”
Kalau ibu/bapak atau salah satunya tidak ridha kepada kita, maka ibadah kita pun tertahan tidak akan sampai ke hadirat Allah, karena ridha Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua kita. Adapun bagi seorang istri keridhaan suami termasuk diantara syarat zahir diterimanya ibadah.
Selanjutnya, orang yang bertengkar dan tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari, maka amal ibadahnya pun ditahan selama tidak islah. “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari)
Adapun syarat batin diterima amal di antaranya ikhlas beramal karena Allah. Baik karena menjunjung perintah Allah, mendekatkan diri, ingin mendapatkan keridhaan, mengharapkan kasih sayang Allah atau takut kepada Allah, semuanya termasuk ikhlas.
Sehingga bila kita beribadah dengan tujuan agar dipuji, dihormati dan dibalas perbuatan baik kita oleh manusia, itu sudah tidak ikhlas, ditolak oleh Allah Swt. Firman Allah Taala: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Al Kahfi: 110).
Jadi, kalau beribadah kepada Allah itu tidak bisa dengan niat bercabang, seperti beribadah karena Allah dan agar dipuji manusia. Ini dinamakan menyekutukan.
Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman: "Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya (berlepas diri dari amalan tersebut)". (HR. Muslim).
Syarat batin berikutnya adalah berlepas dari daya upaya dirinya. Artinya tidak merasa beramal itu karena kemampuannya, tetapi dengan daya upaya Allah. Makanya di dalam surah Al-Fatihah disebutkan, “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan.”
Menishbahkan amal kepada diri dan daya upaya sendiri itu semacam syirik tersembunyi. Kemudian tidak ada idlal dengan amalnya. Idlal adalah merasa punya hak dan jasa di sisi Allah setelah beramal.
Misal merasa aneh karena dirinya dapat musibah, masih tetap susah, sementara dia rajin salat dan beribadah, taat dan banyak berbuat baik. Sedangkan orang yang tidak salat dan beribadah, bahkan ahli maksiat hidupnya enak dan makmur, maka ini bentuk idlal.
Sifat demikian menggugurkan amal, artinya amal yang kita laksanakan dengan idlal itu tidak diterima oleh Allah Swt. Demikian juga, perasaan merasa berjasa atau berbuat baik dengan seseorang, bisa menghapuskan amal.
Misalnya, kita membiayai seseorang untuk sekolah dan berhasil sukses, lalu kita merasa berjasa, maka menyebabkan pahala ibadahnya hilang. Lebih parah lagi, ketika ada yang dibiayai sekolah sampai jadi sarjana, lalu kemudian acuh tak acuh dan merasa kesal, sampai dighibah menyesal membiayai pendidikanya itu, maka ini dinamakan ‘mann’. Maka sedekah yang berpuluh tahun itu akan hilang.
Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). (Al Baqarah: 264).
Jadi, kita sudah mengetahui syarat-syarat amal ini sangat berat, sehingga kita hanya bisa berharap agar diberi anugerah, kemaafan dan tutupan dari keaiban-keaiban kita, sehingga amal kita itu bisa diterima oleh Allah Swt. Kalau bukan karena anugerah Allah tidak akan diterima oleh Allah Swt.
Bisa beramal saja sudah sulit, perlu taufik hidayah dan untuk diterima amal lebih sulit lagi. Salat agar bisa sah sudah sulit, kita harus melaksanakan rukun-rukunnya dan menghindari pembatalnya, dst. Agar diterima salat itu lebih sulit lagi.
Walaupun kita rajin ibadah dan salat maka tambah banyak lagi harap kita kepada Allah agar amal yang penuh kekurangan ini bisa diterima oleh Allah Swt. Yahya bin Muazd salah seorang imam sufi berkata: “Manusia itu terdiri dari tubuh yang banyak aibnya. Dan manusia itu ada hati yang banyak aibnya. Apakah mungkin dari tubuh dan hati yang aib keluar perbuatan yang bersih? Tidak mungkin, kecuali dengan anugerah Allah dan kemaafan Allah.”
Jadi, semakin banyak amal maka semakin banyak juga harap kita terhadap kemaafan Allah agar bisa amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt. Karena ada syarat-syarat zahir dan batin yang harus kita penuhi, setelahnya kita berusaha semaksimal mungkin baru kita berharap kepada Allah Swt. (*)
Editor : Arief