Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Kalaulah engkau tidak bisa sampai kepada Allah, kecuali sesudah lenyapnya dosa dan kejahatan engkau, serta terhapusnya pengakuan engkau, niscaya engkau tidak akan sampai kepada-Nya selama-lamanya. Tetapi apabila Allah menghendaki menyampaikan engkau kepada-Nya, Allah tutupi sifatmu dengan sifat-Nya maka Dia sampaikan engkau kepada-Nya dengan apa yang diberikan-Nya, bukan dengan perbuatan yang engkau hadapkan kepada-Nya.”
Hikmah ke-127 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, dalam hikmah ini Imam Ahmad mengingatkan agar seorang hamba jangan mengitikadkan atau berkeyakinan, bahwa dia bisa sampai kepada makrifatullah dengan membersihkan diri dengan sifat-sifat tercela dan mengiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, karena kalau itu yang ingin dilakukan, maka tidak akan bisa sampai kepada makrifatullah selama-lamanya.
Membersihkan diri dari sifat tercela seperti kesombongan, keangkuhan, rasa diri alim, kaya dan kuat. Dan memperhiasi diri dengan sifat terpuji seperti tawaduk, ikhlas, husnudzan. Maka modal ini tidak akan cukup untuk menyampaikan kita kepada makrifatullah.
Tetapi itikadkan lah makrifatullah itu dicapai dengan ampunan, kemaafan dan rahmat Allah dengan semata-mata kemurahan, kebaikan dan anugerah Allah Swt. Bukan karena mujahadah, banyak wirid, selawat, wara dan zuhudnya. Makrifat yang dimaksud di sini adalah makrifat di sisi para sufi.
Dikatakan, bahwa cahaya yang dilontarkan Allah ke dalam hati orang yang dicintai-Nya, dengan cahaya itu dia bisa mendapati hakikat sesuatu.
Selama ini kita melihat manusia itu manusia, dia senyum kita suka, dia cemberut kita tidak suka. Datang kesehatan kita suka, sakit kita sedih. Padahal yang kita tahu sehat dan sakit itu luarnya saja, kita tidak tahu apa hakikat daripada sehat dan sakit itu.
Datang kekayaan, rejeki yang luas kita suka, begitu sempit kita sedih. Menang kita suka, kalah kita sedih. Ini semua karena kita tidak tahu hakikat dari semua itu. Sebaliknya, jikalau kita sudah tahu hakikat sesuatu, tidak ada lagi suka dan duka. Kalaupun kita duka maka duka karena Allah dan suka maka sukanya karena Allah.
Jadi, sangat penting mengetahui sesuatu itu datangnya dari Allah. Terkadang yang tampak kepada kita adalah jamal dari Allah yang membuat kita senang dan bahagia. Dan terkadang datang sifat jalal yang membuat hati kita gundah. Sehingga kita memerlukan adab untuk menghadapi sifat demikian.
Orang yang telah makrifat itu tidak ada sedihnya, karena semuanya itu mereka rasakan dan yakini datangnya dari Allah. Untung rugi dari Allah dan mereka melihat di balik rugi itu ada sesuatu yang sangat baik dari Allah Swt.
Adapun mujahadah, membersihkan diri dari sifat yang buruk dan menghiasi sifat baik, hanya sebagai tanda jujurnya kehendak hamba untuk makrifatullah dan sebagai sebab untuk mendapatkan rahmat Allah. Jadi tidak sia-sia mujahadah itu, ia sebagai tanda kesungguhan kita ingin dekat dengan Allah Swt.
Sebagaimana seorang hamba tidak masuk surga dengan amalnya, tetapi dengan ampunan Allah dan rahmat-Nya. Rasulullah Saw. bersabda: Artinya, “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim).
Karena itu dikatakan oleh para arifin dalam kitab Taqrib Al-Wusul, “Bahwasanya makrifat itu adalah surga yang disegerakan di dunia.” Surga itu tidak akan bisa masuk hanya dengan amal, tetapi kita bisa masuk ke dalam surga dengan rahmat Allah.
Contoh perbedaan amal dan rahmat. Misalnya kalau kita diperintah atasan jaga malam, selesai jaga malam dan diberi seratus ribu, ini namanya upah jaga malam. Kalau orang yang jaga malam ini diberi oleh atasan dan diberi sepuluh juta, mobil dan rumah, maka ini adalah bentuk kasih sayang atasan tadi.
Kita salat lima waktu sehari semalam, kalau diupah paling diupah seratus ribu, tetapi Allah memberi kita surga maka ini adalah bentuk kasih sayang Allah.
Jadi, kalau dengan amal tidak akan bisa masuk surga dan tidak sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Begitu pula makrifatullah itu, bagaimana pun kita mujahadah dan memperbanyak wirid itu tidak cukup untuk membayar makrifatullah, kalau Allah beri makrifat maka itu adalah bentuk kasih sayang Allah, bukan upah bentuk perjuangan kita.
Diriwayatkan, ada sebuah kisah seorang pemuda fakir miskin ingin meminang putri raja. Raja orang yang pintar, beliau menyetujui dengan mahar permata bahraman yang hanya ada di istana Kisra. Maka pemuda tadi bertanya selain ada di istana Kisra ada dimana permata itu? Raja menjawab: ada di tengah laut yang dalam.
Maka pemuda ini berangkat membawa peralatan nelayan untuk mendapatkan permata. Sedikit demi sedikit pemuda ini menimba air laut dan ikan di dalamnya resah akan kekeringan, jika terus ditimba air laut dan ikan mengadu kepada Allah akan keresahan tersebut. Kemudian, Allah memerintahkan kepada para ikan untuk mengambilkan permata tersebut.
Pelajarannya adalah, apakah si fakir ini dapat permata itu oleh karena dia menimba air laut? Tentu tidak, dia mendapatkan permata tersebut karena kasih sayang Allah. Kalau pun ia menimba air laut seumur hidup, tidak akan mampu menguras air laut, tetapi menimba itu adalah satu bentuk kalau dia serius ingin dapat permata itu.
Ini contohnya, bahwa sekecil apapun kita mendapatkan makrifatullah itu bukan daripada usaha dan amal ibadah kita, semua itu semata-mata anugerah dari Allah Swt.
Sehingga apabila benar seorang hamba ingin mendapatkan makrifat, maka dia mujahadah dan memperbanyak wirid, maka Allah sampaikan hamba tadi kepada seorang wali daripada wali-walinya yang senantiasa berjalan dengannya, hingga dia sampai kepada makrifatullah.
Jadi, kalau kita sudah punya tekad dan tujuan ingin mendapatkan makrifatullah lalu kita berusaha, maka Allah akan menujukan kita jalannya, dia akan bertemu dengan wali yang diperlihatkan Allah kesitimewaannya, wali itu lah yang akan mengantarkan dia kepada makrifatullah.
Walhasil, amalan-amalan yang kita lakukan adalah merupakan tanda dan alamat benarnya kita, serta menjadi sebab untuk mendatangkan rahmat Allah kepada kita, bukan untuk mendapatkan surga Allah, baik surga dunia (makrifat) baik surga akhirat, amal kita tidak akan bisa mencapainya. Semata-mata hanya anugerah dan rahmat dari Allah Swt. (*)
Editor : Arief