Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Tidaklah dituntut bagi engkau sesuatu seperti idtirar dan tidaklah menyegerakan dengan pemberian-pemberian kepada engkau seperti kehinaan dan keberhajatan.”
Hikmah Ke-126 Al-Hikam Al-Atha’iyyah, berkata Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, Allah Swt menuntut kita dengan berbagai macam perintah, baik perintah yang sifatnya zahir atau batin, namun dari sekian banyaknya perintah Allah itu yang paling besar dituntut Allah kepada kita adalah agar kita bersifat dengan sifat Al-Idtirar.
Al-Idtirar adalah seorang hamba tidak menyangka (meski dengan selemah-lemah sangkaan) bahwa ada daya dan kekuatan yang dimilikinya, dia juga tidak melihat ada sebab yang dia berpegang atas sebab itu, serta dia tidak melihat seseorang yang bisa menolong dia, kecuali Tuhannya dan dia tidak melihat bagi keselamatannya dari kebinasaan akan seseorang, selain Allah Swt.
Ringkasnya Al-Idtirar adalah jangan pernah merasa sedikit jua pun kita punya daya upaya, ada yang bisa kita jadikan sandaran dan ada orang yang bisa menyelamatkan kita, selain Allah Swt.
Orang yang salat, berarti dia melaksanakan tuntutan Allah yang zahir. Kalau orang yang salat ini di hatinya merasa dia yang punya daya upaya, maka salatnya sia-sia. Dan begitu juga dengan ibadah lain, seperti haji/umrah, puasa, berzakat. Ini orang yang melaksanakan tuntutan Allah, tapi kalau orang ini di dalam hatinya merasa sedikit saja dia punya daya upaya maka semua ibadah tadi menjadi sia-sia.
Maka, tuntutan Allah yang paling besar kepada kita adalah bahwa jangan sampai ada di hati kita sesuatu pengakuan, bahwa kita mempunyai kekuatan dan kemampuan, ada seseorang yang bisa menyelamatkan kita selain Allah dan bahwa ada selain Allah yang kita bisa bersandar dengannya, inilah Al-Idtirar.
Seorang hamba yang bersifat Idtirar, maka ketika berdoa kepada Allah diijabah dan ketika dia meminta maka Allah beri permintaannya.
Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya (An Naml: 62)
Jadi, kalau kita berdoa kepada Allah tetapi di hati kita masih ada rasa daya upaya, maka doa kita akan ditolak oleh Allah, karena Allah memperkanankan doa orang yang tidak punya apa-apa, yang diharap hanya Allah Swt.
Al-Idtirar ini juga sifat paling khusus diantara sifat-sifat kehambaan. Diantara sifat kehambaan seperti tawaduk, khusyuk, khuduk, tadharruk. Maka Al-Idtirar lebih khusus. Al-Idtirar adalah orang yang benar-benar menerapkan maknanya. Dia tidak peduli dan bersedih hati dikatakan orang lemah, hina, fakir, bodoh dan salah. Karena ini merupakan sifat hamba yang sebenarnya.
Misalnya, kita punya sepeda rongsok dan ada yang mengatakan sepeda kita rongsok, maka tidak pantas untuk marah karena faktanya demikian. Kita punya pakaian compang-camping dan ada yang mengatakan seperti itu apakah pantas kita sedih, kecewa dan marah? Tentu tidak, karena memang fakta. Punya kita memang seperti itu.
Seorang hamba bersifat Idtirar sudah meyakini dirinya bahwa tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan dan diandalkan. Apabila dia dikatakan engkau kuat, mulia, kaya, alim, dia serahkan itu kepada Allah karena itu semua sifat Allah Swt.
Misal kita tidak punya sepeda motor hanya meminjam, lalu dikatakan orang “sepeda motor kamu bagus”. Maka karena memang bukan punya dia, maka tidak akan senang, karena tahu diri kita hanya meminjam dengan yang punya.
Inilah seorang hamba yang bersifat Al-Idtirar, begitu nyaman dan bahagianya hidup orang yang seperti ini, orang yang benar-benar merasakan bagaimana yang punya dirinya dan yang mana punya Allah Swt.
Apabila kita mampu menjauhi sangkaan diri ini bisa, pintar, kaya. Maka akan dapat ilmu dari Allah Swt. Sebaliknya jika kita tidak bisa menjauhi sangkaan tadi, maka tidak akan dapat ilmu dari Allah yang menjadi modal utama makrifat kepada Allah Swt. karena hati kita dipenuhi hal-hal seperti itu.
Allah berfirman: Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah". (Ali Imran: 123)
Perang Badar kaum muslimin hanya 313 orang sedangkan kaum kafir Quraisy ribuan orang. Kenapa menang? Karena yang 313 ini mereka merasa tidak ada daya upaya menghadapi orang kafir yang kuat dan besar. Merasa tidak ada yang bisa menolong selain Allah dan tidak ada sandaran kecuali Allah. Maka Allah tolong mereka.
Walhasil, tidak ada sesuatu yang dituntut oleh Allah Swt yang lebih besar selain Al-Idtirar, sehingga jangan ada sedikit pun rasa alim, kaya, pintar. Kenapa? Karena itu semua milik Allah Swt.
Dan tidak ada yang paling cepat mendatangkan ilmu, rahasia, ma’rifat selain dengan bersifat kehinaan dan keberhajatan kepada Allah Swt. (*)
Editor : Arief