Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Tujuan utama itu bukanlah tercapainya permohonan, tetapi tujuan utama adalah diberikannya engkau sebuah adab yang baik.”
Hikmah Ke-125 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah Assakandari Rahimahullah.
*******
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, maksud dari hikmah ini adalah bukanlah keadaan yang lebih dicintai dan utama, ketika kita meminta urusan dunia kepada Allah Swt. Baik itu urusan ekonomi, politik, keluarga dan usaha. Tetapi yang disukai dan lebih mulia dan menjadi tujuan utama adalah kita memperbaiki etika, adab kepada Allah Swt. Bagaimana caranya, ialah dengan tidak banyak berdoa, meminta, menuntut kepada Allah, karena merasa cukup dengan tahu-Nya Allah dan menyibukan diri dengan berzikir kepada Allah Swt.
Berdoa kepada Allah adalah memang ibadah yang baik, tetapi ada lagi sesuatu yang lebih baik dari berdoa, hasilnya juga lebih memuaskan. Yaitu meninggalkan berdoa kepada Allah, karena sudah cukup karena Allah sudah tahu keadaan kita lalu menyibukan diri dengan berzikir, memuji dan mengangungkan Allah Swt.
Ini untuk perkara-perkara yang sifatnya duniawi, kalau perkara-perkara ukhrawi dituntut untuk selalu berdoa kepada Allah. seperti, ingin dimatikan di dalam iman, kuat iman, husnul khatimah.
Sebaliknya urusan duniawi yang lebih baik bagi kita adalah meninggalkan berdoa dan sudah cukup dengan tahu-Nya Allah dengan apa yang kita kehendaki dan maksud lalu menyibukan diri dengan berzikir, mengagungkan Allah Swt.
Rasulullah Saw. bersabda, firman Allah Swt. Artinya: “Barang siapa yang menyibukan dirinya berzikir kepada-Ku dan tidak sempat meminta kepada-Ku maka Aku akan beri dia lebih afdal dari pada memberi orang yang meminta kepada-Ku.”
Kalau kita sibuk selalu memuji Allah, berzikir kepada Allah sehingga tidak sempat meminta kepada Allah maka Allah akan beri kita lebih baik dari pada memberi orang yang minta kepada-Nya.
Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Barang siapa yang disibukkan membaca Alquran dan tidak sempat dia berdoa kepada-Ku maka Aku akan beri dia lebih baik daripada yang diberikan orang-orang yang minta kepada-Ku.”
Ini adalah dalil bahwa meninggalkan berdoa kepada Allah dalam hal urusan dunia tetapi menyibukan diri dengan zikir kepada Allah lebih disukai oleh Allah dan Allah akan beri lebih daripada orang yang minta kepada-Nya.
Rasulullah Saw. dan sahabat-sahabat beliau orang yang berada pada malam ini. Saat mereka sedang berkumpul dan ada utusan yang datang menyampaikan bahwa orang Quraisy menyiapkan pasukan besar untuk menyerang umat islam. Maka pesan yang disampaikan ini justru menambah keimanan Rasul dan sahabat kepada Allah Swt. Begitu mereka berangkat menuju tempat berperang, sesampainya tidak satu orang pun kaum kafir Quraisy muncul karena hatinya sudah dipenuhi ketakutan kepada pasukan Rasulullah Saw.
Di situ Rasulullah dan sahabat tidak meminta kepada Allah agar menang di dalam perang, tidak meminta kepada Allah agar orang kafir Quraisy lari ketakutan dan kalah. Jadi, di saat kita merasakan ditimpa masalah dunia yang sulit dan berat alangkah indahnya kita mencontoh Rasulullah Saw. dengan memperbanyak mengucap zikir, ini lebih baik daripada doa dan hasilnya lebih memuaskan daripada doa.
Sebelum Rasulullah Saw, ada Nabi Ibrahim As. ketika ditangkap oleh Namrud dan dilemparkan ke dalam api yang besar, apa yang diucapkan Nabi Ibrahim? Bukan Ya Allah padamkan api, bukan Ya Allah selamatkan aku dari api, tetapi yang diucapkan Nabi Ibrahim tidak lebih dari zikir.
Akhirnya, Nabi Ibrahim selamat tidak ada cedera sedikit pun. Ini adalah bukti bahwa meninggalkan doa dan menyibukan dengan zikir lebih bermanfaat dan hasilnya lebih memuaskan.
Demikian pula Nabi Yunus As. saat dimakan oleh ikan yang besar dan berada di dalam perut ikan tersebut. Nabi Yunus tidak meminta kepada Allah keluarkan dan selamatkan dari musibah ini, tetapi apa yang diucapkan Nabi Yunus? bukan doa, tetapi zikir kepada Allah dan akhirnya Nabi Yunus keluar dari perut ikan tanpa ada cedera sedikit jua pun.
Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa memperbanyak zikir kepada Allah itu lebih utama daripada selalu minta kepada Allah Swt. berdoa itu baik tetapi lebih baik memenuhi waktu dengan berzikir daripada doa.
Jika memang harus berdoa juga kepada Allah maka berdoalah kepada Allah dengan sebaik-baik adab dan aturan berdoa. Apa aturan berdoa yang baik itu antara lain adalah, “Menjunjung perintah Allah Swt. bukan berdoa itu kenafsuan.
Misalnya, dengan minta malapetaka untuk orang lain. Ini adalah doa kenafsuan. Berdoalah kepada Allah dengan doa menjunjung perintah Allah. Seperti apa doa yang menjunjung perintah Allah ini? Yaitu dengan menggunakan doa yang diajarkan Allah di dalam Alquran dan doa Rasulullah Saw.
Apabila kita menggunakan adab doa yang bagus dan dikabulkan doa kita, maka ini adalah suatu bentuk rahmat bagi kita. Tetapi kalau kita berdoa kepada Allah dengan doa kenafsuan dan dikabulkan, maka ini adalah bentuk istidraj dari Allah, yang akan berakibat kesusahan di kemudian hari.
Inilah keterangan dari hikmah yang ke-125 ini, bahwa hendaknya kita memperbanyak zikir kepada Allah, baik baca Al-Qur’an, tasbih, shalawat kepada Nabi, tahlil, dsb. itu lebih disukai Allah daripada memperbanyak doa kepada Allah Swt.
Semoga Allah Swt. memberikan kita petunjuk sehingga kita selalu berada di jalan Allah Swt. sampai akhir hayat kita. (*)
Editor : Arief