Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
"Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa, padahal engkau sendiri tidak mengubah dirimu dari kebiasaan".
- Hikmah ke-124 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
***
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, bagaimana mungkin seseorang berharap dibuka pintu kekhususan yang zahir atau pintu keramat zahir, sedangkan dia belum keluar dari kebiasaan yang zahir.
Demikian pula, bagaimana mungkin berharap dibuka pintu kekhususan batin, tanpa meninggalkan kebiasaan batinnya. Dari sini ada empat hal yang kita baca. Kebiasaan nafsu yang zahir, nafsu yang batin, khususiyat/keramat yang zahir dan khususiyat batin.
Kebiasaan nafsu yang zahir seperti banyak makan, minum, tidur, suka bergaul dengan banyak manusia, banyak bicara, berdebat, mencela sesuatu yang tidak sesuai hati dan kehendak.
Sedangkan keistimewaan yang zahir seperti melipat tempat dan waktu, diijabah doa, berjalan di air dan udara, diterima manusia. Jika kita kebanyakan membaca Alquran setengah sampai satu jam satu juz, tetapi banyak wali antara magrib dan isya sudah khatam 3 kali Alquran. Jika ingin dibuka pintu keramat zahir seperti ini, maka hendaknya dia terlebih dahulu harus keluar dari kebiasaan nafsu yang zahir.
Suka tidur diganti dengan jaga beribadah pada waktu malam kepada Allah, kebiasaan suka bergaul dengan manusia diganti dengan khalwat/uzlah, kebiasaan banyak bicara ganti dengan diam, kebiasaan nafsu banyak berdebat, caci maki ganti dengan meninggalnya.
Adapun kebiasaan nafsu batin seperti suka kedudukan, kepangkatan dan kekhususan serta cinta dunia, pujian dan popularitas, dengki, sombong, ujub, riya, tamak pada makhluk, risau dengan rizki dan berpegang dengan makhluk, serta keras hati dan dendam.
Sedangkan keramat batin adalah sesuatu yang utama daripada keramat zahir, karena keramat zahir bisa saja ditiru oleh seorang penyihir. Sedangkan keramat batin tidak, di antaranya adalah manisnya ibadah.
Misalnya, kita baca Alquran, enak dan manis sekalipun tidak paham artinya, maka kita dapat kemanisan dalam ibadah, dan ini bentuk keramat batiniyah dan lebih afdal daripada keramat mengubah kertas jadi uang. Termasuk keramat batin juga adalah lezatnya bermunajat.
Kita mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhanku aku mengadu kepada Engkau tentang lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku dan hinanya aku di tengah manusia.” Ketika itu ada rasa lezat, maka kita dapat keramat batiniyah.
Selanjutnya keramat batin adalah istiqamah. Istiqamah ini adalah orang yang terus menerus dalam jalan Allah dan dalam kondisi apapun. Saat dia kaya, miskin, sehat, sakit pun dia takwa kepada Allah. Dalam keadaan apapun dia akan tetap takwa kepada Allah. Kalau kita demikian, maka dapat keramat batiniyah dari Allah Swt.
Kita terkadang istiqamah dalam keadaan sakit atau miskin, tetapi saat kaya maka lupa ibadah, ini adalah contoh orang yang tidak istiqamah. Musyahadah, apapun yang dilihat akan selalu menyaksikan Allah Swt dengan mata hatinya. Ini adalah diantara keramat batin atau keramat maknawiyah.
Bagaimana cara mendapatkan keramat batin ini, maka harus juga keluar dari kebiasaan nafsu maknawiyah. Dari suka dihormati, diistimewakan, suka kedudukan, diganti dengan jatuhnya kedudukan di tengah manusia.
Diriwayatkan, seorang laki-laki jemaah Abu Yazid Al-Bustami, 30 tahun mengaji dengan beliau, tetapi tidak merasakan manisnya ibadah. Jemaah tadi kemudian bertanya kepada gurunya tentang rasa ini. Maka Abu Yazid seorang murabbi yang paham dengan keadaan muridnya menjawab, kalau kamu ingin dapat manisnya ibadah, maka cukur habis rambut, kumis dan jenggotmu, pergi ke pasar dengan tidak mengenakan baju. Sampai ke pasar beli karung dan isi dengan buah-buahan, kembali ke kampung. Umumkan kepada anak-anak, siapa yang menampar aku, maka akan kuberi satu buah.
Karena murid ini ingin baik dan mendapatkan manisnya ibadah, maka dia laksanakan. Besok harinya dia laksanakan dan selesai, maka malam harinya sudah mendapatkan manisnya ibadah. Alasanya apa? Karena Abu Yazid tahu penyakit murid ini adalah suka dimuliakan dan diagungkan orang lain, maka obatnya harus dijatuhkan martabat di sisi manusia.
Yang selama ini suka keduniaan, pujian dan kemasyhuran, ganti dengan zuhud dan ketersembunyian. Sembunyikan tanda-tanda ibadah yang ada pada diri, titel dan gelarnya. Ganti kesombongan dengan tawadu, riya dengan ikhlas dan dendam dengan maaf. Jika ingin mendapatkan keramat batiniyah.
Dengan demikian, jika selama ini kita baca Alquran hambar, zikir hambar, tidak ada lezatnya. Itu karena kita belum diberi Allah kekhususan yang batin. Mengapa? karena kita tidak mau keluar dari kebiasaan nafsu yang batin, seperti kesombongan, keangkuhan, kemasyhuran. Kalau kita ingin keramat batin, maka keluar dari kebiasaan tersebut. (*)
Editor : Arief