Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Merebut Sifat Tuhan, Kezaliman Paling Besar

admin • Jumat, 2 Januari 2026 | 09:10 WIB

 

H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

             Oleh: H. Muhammad Tambrin
             Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Allah melarang engkau bahwa engkau mengakui sesuatu yang bukan milikmu dari hak-hak orang lain, Bagaimana mungkin Allah membolehkan engkau mengakui sifat Allah, sedangkan Allah itu Tuhan semesta alam.”

Hikmah ke-123 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

           *****

Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH. Muhammad Bakhiet, apabila Allah SWT melarang dan mengharamkan mengakui sesuatu yang bukan milik kita, yang diberikan kepada makhluk-Nya, baik itu harta, keadaan, perbuatan, perkataan dan kedudukan. Dimana hal seperti ini dipandang sebagai sebuah kezaliman dan perbuatan melampaui batas serta dijanjikan dengan azab yang pedih.

Rasulullah Saw. bersabda:

"Barangsiapa mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dalam neraka." (HR Ibnu Majah)

Mengakui hak makhluk-makhluk saja diancam demikian, bagaimana mungkin Allah Taala membolehkan untuk mengambil sifat yang khusus dari sifat-sifat Allah SWT. Ini merupakan suatu kezaliman paling besar kezaliman, dan paling melampaui batas. Lebih berat dosanya daripada mengakui punya makhluk.

Adapun sifat yang khusus Allah SWT seperti kaya, kuasa, kuat, mulia, ilmu dan sebagainya. Semua sifat ini milik Allah dan jangan sekali-kali mengakui sifat itu.

Apabila mengakui dengan mengitikadkan di dalam hati atau diucapkan, “Aku adalah orang yang kaya, berkuasa, kuat, mulia, berilmu.” Maka yang demikian itu adalah dosa yang besar di hati dan merupakan menyekutukan Allah SWT.

Padahal menurut orang-orang arif billah, kejahatan yang paling jahat adalah menyerikatkan dalam hati seorang hamba, adanya suatu sifat ketuhanan bagi dirinya. Karena yang demikian itu merebut dan takabur atas Allah SWT.

Mengaku yang paling alim sekampung misalnya, hanya di dalam hati, lebih lagi kalau diucapkan. Maka ini lebih jahat dari pada zina, riba dan segala maksiat karena sudah merebut sifat Allah.

Demikian pula mengaku paling berkuasa, paling kuat, paling ganteng dan cantik dan semua sifat kesempurnaan Allah SWT.

Rasulullah SAW: "Allah Subhanahu berfirman: 'Kesombongan adalah pakaian-Ku, dan kebesaran adalah selendang-Ku, siapa saja yang mencabut salah satu dari keduanya dari-Ku, maka akan Aku lemparkan ia ke neraka Jahannam." (HR Ibnu Majah)

Hadits-hadits yang mencela orang yang bersifat dengan sifat khusus ketuhanan itu banyak, namun kita hanya mendengar dan tahu tapi belum merasa pernah melakukanya.

Kalau seorang pezina, penjudi dan berbuat riba sudah dianggap orang yang paling jahat, maka sesungguhnya yang sepaling jahat adalah orang yang merebut sifat Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan (walau) sebiji sawi, dan tidak akan masuk neraka seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan (walau) sebiji sawi." (HR Ibnu Majah

Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah SWT (HR Bukhari dan Muslim)

Allah sangat pencemburu, maksudnya Allah paling tidak suka kalau ada orang yang ingin merebut, memakai, mengakui sifatnya.

Sebagaimana kita punya istri, kalau ada orang yang berusaha merebut, maka kita cemburu, karena istri milik kita yang khusus. Sama halnya dengan sifat-sifat kebesaran, keagungan dan kemuliaan itu adalah sifat khusus untuk Allah dan siapa saja yang menyentuh sifat tersebut Allah marah.

Selanjutnya yang seharusnya dilakukan adalah justru bergantung dengan sifat Tuhan. Misalnya, aku ada dengan ada-Nya Dia, aku alim dengan ilmu Dia, aku kaya dengan kekayaan Dia, aku kuat dengan kekuatan Dia. Ini terpuji karena hamba yang. Tetapi kalau kita mengambil sifat Allah maka akan sangat dicela.

Seperti juga dengan atasan di kantor, ketika kita katakan “Saya tidak berdaya, saya bergantung pada atasan, terserah atasan saja mau mengapakan saya”, maka ucapan seperti ini sangat disukai atasan. Seperti itu juga hamba yang bergantung dengan Allah, sangat disukai Allah maka akan dinaikkan martabat kita.

Tetapi kalau orang mengaku-ngaku, merasa mulia, berilmu, kuat dan kaya. Maka dia berhak diusir dan dihukum oleh Allah SWT. Orang-orang yang selama ini merasa besar dan mulia dan belum dihukum oleh Allah, tinggal menunggu waktu karena pasti akan dihukum oleh Allah SWT, karena dianggap menyekutukan Allah SWT.

Jadi, kita pelajari tingkatan-tingkatan dosa. Dan dosa yang paling berat adalah dosa menyekutukan Allah SWT. Termasuk pengakuan kita adalah orang yang berilmu, alim, kaya, kuat dan itu juga bagian daripada menyekutukan Allah SWT. Jangan dianggap remeh, ini sebab banyak orang yang celaka di akhirat.

Seorang yang berbuat maksiat, tetapi kemudian merasa hina dan rendah, jauh lebih disukai Allah daripada berbuat taat, tetapi kemudian merasa mulia, besar dan angkuh. Wallahu a’lam. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah