Oleh: H. Muhammad Tambrin
(Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala)
***
“Jadilah engkau dengan sifat-sifat Ketuhanan bergantung, dan dengan sifat-sifat kehambaan engkau menampakkan.”
Hikmah ke-122 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, sifat ketuhanan itu banyak, tetapi semua sifat Tuhan itu terhimpun pada empat. Yang pertama, Al Ghaniy (Maha Kaya).
Firman Allah Swt: Dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya. (QS al-Hajj:64)
Allah Maha Kaya dalam beberapa arti. Yang pertama, tidak memerlukan siapa pun dalam menciptakan apa pun. Langit, bumi, surga, neraka, manusia tanpa bantuan siapa pun. Kedua, seandainya seluruh dunia meminta kepada Allah seisi dunia, dan Allah berikan seisi dunia itu, maka sedikit jua pun tidak akan mempengaruhi dan mengurangi perbendaharaan Allah Swt.
Sifat ketuhanan kedua adalah Al Izzu (Maha Mulia).
Firman Allah Swt: Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu seluruhnya. (Fatir: 10)
Tidak tertinggal sedikit pun, seluruh kemuliaan milik Allah. MuliaNya pun tidak bergantung pada orang yang tunduk dan patuh. Seandainya seluruh alam ini tidak taat kepada Allah, sedikit pun tidak akan mengurangi kemuliaanNya. Bahkan jika seluruh alam ini mempunyai hati seperti hati Abu Jahal, maka tidak sedikit pun mengurangi kemuliaan Allah SWT.
Sifat ketuhanan yang ketiga, Al Qudrah (Maha Kuasa).
Firman Allah Swt: Kepunyaan Allah–lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS al-Maidah: 17)
Keempat, Al Qowiy (Maha Kuat). Allah SWT punya kekuatan untuk menjalankan apa yang dikehendakinya.
Firman Allah Swt: Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hajj: 74)
Karena seluruh sifat-sifat ketuhanan terhimpun dalam empat sifat ini. Maka sifat-sifat kehambaan yang banyak juga terhimpun pada empat perkara, yakni kefakiran, kehinaan, ketidak berdayaan dan kelemahan.
Pada hikmah ini, Imam Ahmad bin Atha’illah mengatakan bahwa, hendaknya kita bergantung kepada sifat Ketuhanan namun berpakaian dengan sifat kehambaan. Hati bergantung dengan sifat Ketuhanan tetapi zahir kita berpakaian dengan sifat kehambaan.
Bergantung dengan kekayaan Allah dan jangan berhajat pada sesuatu selain Allah, niscaya kita menjadi orang yang kaya dengan Allah Swt. Inilah kaya sejati yang tidak akan miskin dan bangkrut. Kalau kaya karena banyak harta, maka harta akan binasa.
Bergantung dengan kemuliaan Allah dan jangan mencari kemuliaan dengan selain Allah seperti karena harta dan kedudukan, maka jadilah orang yang mulia dengan Allah Swt.
Orang yang mulia dengan harta, ketika hartanya habis mulianya juga habis. Orang yang mulia dengan sebab manusia, ketika manusianya tidak ada maka akan habis juga kemuliaanya. Tetapi jika kita menggantungkan kemuliaan dengan Allah, kita akan mulia selama-lamanya karena kemuliaan Allah selama-lamanya.
Bergantunglah dengan kekuasaan Allah dan jangan bersandar kecuali kepada kekuasaanNya, maka jadilah orang yang kuasa dengan Allah Swt.
Ada orang yang kuasa dengan sebab pangkat atau keberanian. Maka kekuasaan dengan itu akan habis, tetapi kalau kita menggantungkan diri dengan kekuasaan Allah, maka kekuasaan Allah itu abadi.
Dan bergantunglah dengan kekuatan Allah dan tidak melihat kecuali kekuatan Allah, niscaya kita akan kuat dengan Allah Swt.
Selanjutnya, bagaimana menyatakan atau menampakkan sifat-sifat kehambaan. Seperti diketahui, sifat kehambaan terkumpul pada empat perkara, kefakiran, kehinaan, ketidakberdayaan dan kelemahan.
Maka nyatakan bahwa secara zahir kita itu berpakaian dengan sifat-sifat kehambaan, berupa kefakiran dengan bahwa berdoa kepada Allah dan meminta dengan sungguh-sungguh, menampakkan kefakiran dan keberhajatan kita.
Orang yang berpakaian dengan sifat ubudiyah, pasti dia sering berdoa, perkara diperkenankan atau ditolak itu urusan Allah, yang terpenting dia berdoa untuk menunjukkan ia perlu dengan Allah. Inilah orang yang berpakaian dengan sifat kehambaan.
Sebagaimana Nabi-nabi dahulu, saat sakit gigi pun beliau minta tunjukan apa obatnya dengan berdoa, karena itu adalah bentuk menampakkan kefakiran kita. Semakin banyak kita berdoa maka makin banyak harap kita dan Allah suka.
Kemudian berpakaian dengan sifat kehambaan berupa kehinaan, dengan tawaduk kepada Allah dan makhluk-Nya.
Salah satu tanda tawaduk adalah tidak mendekati dan memilih selain Allah Swt. Dia tidak akan minta kepada Allah sesuatu yang sifatnya memilih. Semestinya berdoa itu adalah doa-doa yang diajarkan Rasulullah Saw. Karena doa yang diajarkan Rasulullah itu contoh doa orang yang tawaduk kepada Allah Swt.
Berpakaian dengan sifat kehambaan berupa ketidakberdayaan berupa tidak meminta kepemimpinan, kekuasaan dan keimaman.
Orang yang merasa bahwa dirinya tidak mampu, pasti dia tidak akan menuntut untuk diangkat jadi pemimpin. Kalaupun mereka memegang kekuasaan, bukan kehendak mereka.
Seperti, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik Ra. beliau dipukul, disiksa bahkan dipenjara, gara-gara beliau menolak ingin dijadikan seorang Qadi (hakim). Beliau tidak menginginkan kekuasaan karena menampakkan ketidakmampuan sebagai sifat kehambaan mereka.
Adapun berpakaian dengan sifat kehambaan lemah, dengan tidak mengatakan sesuatu yang akan diperbuat besok kecuali dengan insya Allah (jika Allah berkehendak).
Kalau orang yang mengatakan besok pasti datang, besok pasti bayar, besok pasti selesai. Ini contoh orang yang tidak punya sifat kehambaan karena hanya Allah yang pasti itu.
Mengatakan tanpa insya Allah, maka hamba tersebut sudah merebut bagian dari sifat Ketuhanan. Segala sesuatu yang akan kita kerjakan di kemudian hari maka katakan dengan insya Allah. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Arief