Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Nafsu Sumber Kehinaan, Orang Kikir Jauh dari Allah

admin • Jumat, 19 Desember 2025 | 08:56 WIB
H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

             Oleh: H. Muhammad Tambrin
             Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Tiada kesudahan bagimu celaan-celaan jika Allah Swt. mengembalikanmu pada kekuatan daya upayamu sendiri dan tidak habis kebaikanmu, jika Allah menampakkan kemurahanNya kepadamu.”

Hikmah Ke-121 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

        *****
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet. Apabila Allah Swt. menghendaki menghinakan seorang hamba, maka Allah kembalikan hamba itu kepada nafsunya dan Allah serahkan ia kepada nafsunya, maka berkuasalah nafsu itu atas hamba. Apabila nafsu itu sudah menguasai seorang hamba maka nafsu itu menjatuhkan ia pada lembah kehinaan.

Apabila Allah menghendaki kehinaan kepada kita maka Allah serahkan kita ini kepada nafsu kita, sehingga kita ini selalu diatur oleh nafsu kita. Dan apabila kita sudah di bawah kendali nafsu maka pasti nafsu itu menjatuhkan kita kepada jurang kehinaan.

Maka tidak ada kesudahan bagi engkau wahai hamba segala macam celaan apabila Allah kembalikan engkau itu kepada nafsu engkau.

Apabila Allah telah mengembalikan kita kepada nafsu kita, maka diri kita ini penuh dengan segala macam celaan-celaan yang tidak ada kesudahan.

Segala macam sifat buruk dan celaan ada pada diri kita, apabila Allah sudah menyerahkan kita kepada nafsu ini. Karena nafsu itu sumber kejahatan dan kehinaan.

Apabila Allah sudah menyerahkan kita dengan nafsu, maka kita akan jatuh kepada kehinaan.

Kenapa sebabnya nafsu itu menjadi sumber kejahatan, kebinasaan dan kehinaan? Karena pada nafsu itu terkumpul sifat tercela, tidak sedikit pun nafsu punya sifat terpuji, walaupun secara zahir terpuji tapi hakikatnya adalah apabila dari nafsu maka sifatnya tercela.

Di antara sifat nafsu adalah  kesombongan. Kalau kita dipimpin oleh nafsu yang sombong maka kita akan sombong.

Saat Allah menciptakan nafsu, Allah berfirman: siapa Aku? Nafsu menjawab: Engkau engkau, aku aku.”

Artinya, nafsu tidak mengakui bahwa dia adalah hamba dan ciptaan Allah dan tidak mengakui Allah sebagai Tuhan. Ini adalah bukti sifat sombong nafsu begitu diciptakan dia sudah sombong.

Kalau kita menjadi orang yang sombong maka akan sulit untuk diharapkan kebaikan, bimbingan, nasehat masuk pada diri kita kalau dalam hati kita ini ada sifat sombong itu, ini akbiat kita sudah diserahkan Allah kepada nafsu sehingga nafsu yang membimbing kita.

Allah Swt. sudah menyatakan di dalam Alquran, Allah berfirman: “Allah tidak suka orang yang bersifat sombong.”

Kalau Allah tidak suka dengan kita yang bersifat sombong ini, maka Allah tidak akan memberikan suatu yang berharga pada orang yang tidak Dia cintai itu.

Apa yang berharga itu? Diantaranya Hikmah, ilmu-ilmu rahasia (makrifat). Pasti Allah tidak akan memberikannya kepada orang yang sombong yang tidak disukai Allah.

Di dalam hati kita ada sombong, maka nasihat-nasihat agama tidak akan bisa masuk ke dalam hati kita. Baik nasihat Alquran dan Nabi (Hadits) tidak akan masuk ke dalam hati yang ada sifat sombong.

Allah berfirman: “Aku palingkan ayat-ayat-Ku terhadap orang-orang yang sombong di muka bumi.” Ini salah satu di antara tercelanya seorang yang dipimpin oleh nafsu.

“Sifat nafsu yang tercela adalah menyukai harta, kehormatan di sisi manusia dan kedudukan (pangkat).” Karena semua itu adalah satu jalan nafsu ingin meloloskan kehendaknya.

Misalnya, nafsu ingin suatu kemaksiatan, tetapi jika tidak ada uang menuju kemaksiatan itu maka tidak dapat terlaksana. Oleh karenanya nafsu suka dengan uang tersebut yang dapat meloloskan/menuju kepada kemaksiatan. Seperti itu juga pangkat dan kedudukan, akan mudah meloloskan kehendaknya.

Kalau kita dibimbing oleh nafsu maka kita pun demikian akan cinta dengan harta, kehormatan dan kedudukan di sisi manusia.

Rasulullah Saw. bersabda: “Cinta kepada harta dan kemuliaan itu menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati sebagaimana menumbuhkannya air akan sayuran.”

Ini sifat yang tercela juga pada diri orang yang dibimbing oleh nafsu. Oleh karena itu, pengarang menyebutkan: “Tidak ada kesudahan bagi engkau celaan-celaan jika Allah Swt. mengembalikan engkau kepada bimbingan nafsu engkau.”

Sombong dicela, orang yang sombong itu siapapun pasti tercela. Jadi, cinta kepada harta, dihormati dihargai dan kedudukan itu adalah sifat nafsu. Kalau orang yang dikuasai nafsu maka hidupnya demikian. “Orang yang cinta kepada harta itu menimbulkan kikir.”

Orang yang cinta kepada harta jauh dari sifat pemurah, karena secara otomatis orang yang cinta kepada harta dia kikir. Rasulullah Saw. sudah menyatakan: “Orang yang kikir itu jauh dari Allah, manusia, surga dan dekat dengan neraka.”

Kenapa sebabnya dengan neraka? Karena orang kikir ini misalnya bayar zakat, zakatnya bisa kurang karena kikir, dst.

Segala sifat tercela ini ada pada diri orang yang di bawah bimbingan nafsu. Orang yang cinta kehormatan dan kedudukan akan menimbulkan riya.

Salat, salatnya dinilai orang lain agar disebut ahli salat. Bersedekah bukan mencari kerdihaan Allah, tetapi mencari simpati dari orang lain, ini akibat cinta kedudukan dan kehormatan. Jadi, segala macam celaan itu ada pada diri orang yang dipimpin nafsunya.

Dan apabila Allah Swt. menghendaki memuliakan seorang hamba, Allah tampakkan atas hamba itu kemurahannya maka si hamba ini Allah pimpin, pelihara dan tidak Allah serahkan kepada nafsunya.

Kalau Allah ingin memuliakan seseorang maka seseorang ini akan langsung dipimpin oleh Allah dan dijaga-Nya serta tidak diserahkan kepada nafsunya. Dalam doa qunut dipanjatkan, “Pimpinlah hamba ya Allah pada orang-orang yang engkau pimpin.”

Maka tidak habis pujian kepada engkau wahai hamba jika Allah itu menampakkan kemurahan atas engkau dan Allah memimpin engkau dan menjaga engkau. Jika sudah Allah memimpin dan menjaga manusia ini maka pujian-pujian ditujukan kepada manusia itu tidak akan habis-habisnya, karena orang seperti ini kumpulan sifat terpuji. Contohnya, para Nabi terkhusus Rasulullah Saw. ini adalah seorang yang dipimpin oleh Allah Swt.

Sabda Rasulullah: “Aku langsung dididik oleh Allah maka Allah membaguskan pendidikan-Ku.” Oleh karena itu semua sifat kemuliaan ada pada diri Rasulullah Saw. bagaimanapun kita puji Rasulullah tidak akan habis pujian tersebut, segala macam pujian ditujukan kepada Nabi.

Kemudian, sesudah kita mengetahui bahwa kalau Allah ingin menghinakan seseorang maka Allah serahkan seseorang itu kepada nafsunya, dan kalau Allah ingin memuliakan seseorang maka Allah pimpin, jaga dan didik langsung orang ini sehingga mulia-lah seseorang ini.

Lalu, pertanyaannya adalah, bagaimana kita agar jadi orang yang dibimbing oleh Allah dan jangan menjadi orang yang dibimbing nafsu.

Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita doa. Dan doa ini adalah salah satu cara agar kita menjadi orang yang dibimbing oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw. dalam doa beliau memanjatkan, “Ya Allah janganlah Engkau serahkan aku kepada nafsuku sekejap mata jua pun.” Artinya, jika kita ini diserahkan Tuhan kepada nafsu sedetik pun maka kita menjadi orang yang hina. Lebih-lebih sehari, seminggu bahkan berbulan dan bertahun-tahun membimbing diri ini maka hinalah diri kita.

Seorang Nabi saja sekejap mata pun minta perlindungan dari nafsu. Ini termasuk doa yang menjadi amaliyah dan wirid kita agar kita ini selalu dibimbing oleh Allah, jangan diserahkan kepada nafsu.

Itu adalah antara lain cara agar kita ingin menjadi orang yang selalu dibimbing oleh Allah dan tidak menjadi orang yang dibimbing oleh nafsu.

Orang yang dibimbing Allah ini kalau dia ingin berbuat satu maksiat maka dia dihalangi oleh Allah sehingga gagal memperbuat maksiat itu.

Seperti Imam Harits Al-Muhasibi, beliau mempunyai satu keramat di mana saat beliau dihidangkan makanan yang sumbernya syubhat, apalagi yang haram, maka tangan beliau akan bergetar sebagai tanda jangan memakan makanan itu. Ini adalah contoh orang yang dibimbing oleh Allah, mereka selalu kesulitan dan gagal untuk melakukan kejahatan dan kemaksiatan. Ini adalah tanda orang yang dijaga oleh Allah Swt.

Sebaliknya, jika kita merencanakan satu kemaksiatan berhasil dan terlaksana, sementara merencanakan kebaikan sulit dan gagal. Maka ini adalah satu tanda orang yang berada dibimbingan hawa nafsunya bukan bimbingan Allah Swt.

Maka jika demikian, hendaklah perbanyak memohon kepada Allah dengan doa, Allahumma la takilni ila nafsi tarfata ayn. "Ya Allah janganlah Engkau serahkan aku kepada nafsuku sekejap mata jua pun.”

Perbanyak doa ini setiap sesudah salat fardu, jika ingin dibimbing oleh Allah Swt. *

Editor : Arief
#Tarbiyah