Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Apabila Allah menghendaki menzahirkan anugerahnya atas engkau, maka Allah ciptakan amal pada engkau dan Allah nisbahkan amal itu kepada engkau.”
Hikmah ke-120 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, sebagian dari kesempurnaan anugerah Allah atas hamba adalah Allah menjadikan kepada hamba-Nya itu suatu amal ibadah dan ketaatan, lalu Allah menisbahkan amal itu kepada diri hamba dengan menyebut kita sebagai hamba yang taat, bertakwa dan beramal salih.
Sebagaimana firman Allah: "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (An Nahl: 32)
Kita meyakini dari keterangan Alquran bahwa amal yang kita perbuat adalah ciptaan Allah. “Padahal Allah lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Saffat: 96)
Jadi perbuatan taat itu ciptaan Allah. Apabila kita diberi taat maka itu anugerah dan kesempurnaan dari anugerah itu adalah disebutNya kita sebagai orang yang berbuat taat.
Takwa yang ada pada diri kita, ciptaan Allah, lalu kita jadi orang yang takwa, ini anugerah Allah. Dan anugerah tersebut disempurnakan dengan sebutan bahwa ‘Engkaulah yang takwa itu.’
Demikian pula, apabila kita musyahadah, penyaksian sepenuh hati kepada Allah, sebuah anugerah yang besar di mana kita menyadari diciptakan taat pada diri kita, kemudian disebut pula kita yang taat itu.
Maka semestinya kita malu kepada Allah dan bertuturlah lisan kita dengan doa, “Wahai Tuhan sebagaimana Engkau berikan anugerah atasku dengan diciptakan taat bagiku, padahal aku tidak ada sebenarnya, dan Engkau janjikan atas demikian itu pahala yang besar dan selamat dari siksa, maka terimalah daripadaku dan luluskanlah bagiku janji yang Engkau janjikan kepadaku.” Inilah sikap seorang hamba yang benar.
Untuk lebih mendekatkan pemahaman kita atas hal ini, diibaratkan kita mengajar seseorang menulis dengan baik, sehingga orang ini bisa menulis, padahal asalnya tidak bisa menulis. Setelah dididik, dilatih dia bagus dalam menulis. Sesudah itu, kita minta menulis basmalah dan kalau berhasil diberi hadiah. Lalu dituliskannya, kemudian kita berterima kasih dan memberi hadiah kepadanya.
Orang ini semestinya malu kepada kita, karena dia bisa menulis dididik diajar oleh kita.
Demikianlah, Allah yang memberikan taat sehingga kita melaksanakan taat, lalu kita disebut orang yang taat dan diberikan lagi balasan yang besar di akhirat kelak. Jika kita sadar yang demikian itu, seharusnya kita sangat malu kepada Allah SWT.
Demikianlah hendaknya setiap kali melakukan kebaikan dan suatu kenikmatan, maka hendaklah kita memandang bahwa ini semua adalah anugerah, taufik hidayah dan pertolongan Allah kepada kita, walaupun Allah menyebut kita sebagai orang yang taat, takwa dan beramal tapi hendaknya kita mengakui dan mengucapkan bahwa itu semua dari Allah SWT.
Adapun sifat-sifat yang tercela dan amal-amal yang jahat. Melakukan maksiat dan kesalahan serta sesuatu yang dilarang oleh Allah. Maka adab seorang hamba menisbahkan yang demikian kepada dirinya dan mengakui bahwa itu adalah dari kebodohan dan kezalimannya.
Kita melakukan suatu kemaksiatan, adab menyuruh bahwa kita menonjolkan kepada kita itu semua adalah kebodohan dan kezaliman kita walaupun sebenarnya semua dari Allah SWT.
Tetapi tidak boleh ketika seorang hamba berbuat dosa ia berkata: “Aku berbuat dosa karena takdir, keputusan Engkau ya Allah”. Maka Allah marah kepada hamba itu dan berkata: “Wahai hamba-Ku, engkau yang jahat, bodoh dan maksiat itu.”
Seharusnya yang dikata seorang hamba berbuat dosa adalah: ‘Ya Allah, hamba telah menzalim diri sendiri, hamba orang yang jahat, bodoh, banyak menentang Engkau dan banyak dosa kepada Engkau. Maka Allah menghadap dan berkata: “Wahai hamba-Ku, bukan engkau, itu adalah takdirmu dan engkau Kuberikan maaf dan tidak Kusiksa dan Kututupi segala dosa engkau itu.”
Walhasil, ada tiga kesimpulan dari apa yang kita baca dari hikmah yang 120 ini.
Pertama, anugerah Allah atas hamba adalah diciptakanNya taat pada diri hamba dan dinisbahkan taat itu kepada hamba. Sehingga sikap hamba adalah meyakini dan mengakui bahwa itu adalah anugerah Allah.
Kedua, hakikat dan adab harus ditampakkan pada kebaikan, maka dalam hal kebaikan, hamba mengakui hakikat bahwa semua kebaikan tersebut adalah anugerah dari Allah SWT.
Ketika dikatakan, untungnya orang yang naik haji dan bersedekah, maka dijawab itu semua adalah anugerah Allah. Inilah yang tepat sesuai dengan hakikat dan adabnya.
Ketiga, tuntutan hakikat ini tersembunyi pada kejahatan, maka apabila seorang berbuat dosa, maka adab yang kita tonjolkan, yakni maksiat itu merupakan kejahilan, kebodohan dan kezaliman kita sebagai hamba. Jangan sekali-kali bahwa itu adalah takdir Allah.
Pengertian tersembunyi itu bukan berarti ditiadakan, tetap ada hakikat tapi jangan dimunculkan. Yang dimunculkan adalah bahwa itu adalah kebodohan, kezaliman dan kesalahan diri kita bila kita berbuat satu dosa atau maksiat kepada Allah SWT.
Demikian juga dengan hal-hal yang bersangkutan dengan nikmat dan bencana.
Di dalam Alquran disebutkan, "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." (An Nisa: 79)
Kita berdagang dan banyak untung, maka tampakkan adab dan hakikat dimunculkan bahwa itu dari Allah. Sedangkan bila berdagang hari ini rugi, maka ini kesalahanku, kejahilanku. Jangan sekali-kali memunculkan takdir Allah SWT.
Sehingga sekali lagi, dalam hal nikmat dan ketaatan, hakikat dan adab dimunculkan bersamaan. Tapi dalam waktu tertentu ada hakikat yang disembunyikan dan yang dimunculkan hanya adab, yaitu dalam hal maksiat, kejahatan dan bala bencana. Jangan mengatakan bahwa bala bencana adalah takdir Allah, ini bertentangan dengan adab.
Kenapa banjir terjadi, munculkan bahwa ini karena kesalahan manusia dalam mengelola alam ini. Sedangkan jika terjadi kemakmuran dan baiknya ekonomi serta suburnya alam baru kita munculkan itu semua anugerah dari Allah SWT. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Arief