MARTAPURA - Kabar duka menyelimuti Banua. Ulama kharismatik, Abuya Tuan Guru KH M Syukeri Unus, wafat pada Minggu (7/12) sekitar pukul 22.00 Wita di RSI Sultan Agung Banjarbaru. Beliau berpulang pada usia 77 tahun setelah beberapa waktu berjuang melawan sakit yang dideritanya.
Kepergian sang ulama segera menyebar ke berbagai penjuru Banua, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, serta jamaah yang selama puluhan tahun mendapat bimbingan ilmu dan akhlak darinya.
Di Desa Antasan Senor, Kecamatan Martapura Timur, suasana haru terasa sejak malam. Rumah duka dipenuhi pelayat yang datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir. Bagi masyarakat, almarhum bukan sekadar guru agama. Beliau dikenal sebagai pribadi yang teduh, penyayang, dan menjadi rujukan banyak umat dalam urusan ilmu syariat maupun pembinaan akhlak. Ceramahnya lembut namun mengena, terutama dalam kajian tasawuf, fiqih, dan nasihat kehidupan sehari-hari.
Hampir setiap hari, almarhum mengajar, berdakwah, atau menghadiri kegiatan sosial tanpa mengenal lelah. Keistiqamahan itulah yang membuat namanya begitu melekat di hati umat. Banyak jamaah mengenang beliau sebagai ulama yang rendah hati, mudah ditemui, dan selalu menyambut siapa pun dengan senyum menenangkan.
“Abuya adalah guru yang lembut dan selalu menuntun kami menuju kebaikan. Banua kehilangan ulama besar,” tutur Firdaus, salah satu santri Darussalam.
Bupati Banjar, Saidi Mansyur turut hadir di rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa. Ia bergabung bersama para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, dan ratusan pelayat lainnya dalam salat jenazah yang dipimpin Guru Nasih bin KH Badruddin.
Dalam kesempatan itu, Saidi menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas wafatnya salah satu ulama panutan Banua. “Abuya KH M Sukri bukan hanya guru bagi para santri, tetapi juga figur penyejuk bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa almarhum memimpin sejumlah majelis taklim yang menjadi pelabuhan ilmu bagi ribuan jamaah, di antaranya Majelis Taklim Sabilal Anwar Al Mubarak dan Majelis Raudhatul Majalis Darussyakirin Martapura.
Selama hidupnya, Abuya Tuan Guru KH M Syukeri Unus menyalakan keteduhan dan menanamkan akhlak kepada umat. Warisan ilmu yang beliau tinggalkan diyakini akan terus hidup melalui para murid, jamaah, dan majelis yang beliau bina.
Almarhum dimakamkan bertepatan dengan azan salat Ashar di kompleks Majelis Darussyakirin, tempat beliau mengabdikan hidupnya mengajar selama puluhan tahun. Lokasi tersebut dipilih agar para murid dan jemaah dapat selalu mengenang perjuangan dan keteladanan beliau.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Majlis Taklim Sabilal Anwar Al-Mubarak Martapura, para santri, serta masyarakat luas yang selama ini mendapat bimbingan ilmunya. Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Banjar, Muhammad Fahrie, menjadi salah satu yang paling merasakan kehilangan.
Alumni Pondok Pesantren Darussalam Martapura angkatan 107 itu menyebut, Abuya adalah sosok guru yang bersahaja, ramah, dan sangat produktif dalam melahirkan karya ilmiah. “Bagi kami para alumni Darussalam, beliau adalah ulama sepuh yang sangat produktif menulis. Di angkatan saya, beliau dikenal sebagai guru yang sederhana dan selalu memberi teladan,” ujar Fahrie.
Editor : Arief