Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tak Pantas Kita Meminta Pahala

admin • Jumat, 5 Desember 2025 | 08:48 WIB

H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Janganlah kamu menuntut ganjaran atas suatu amal yang tidak kamu perbuat. Cukup besar balasan bagimu, bahwa Allah menerima amal tersebut.”

Hikmah ke-119 dari Al Hikam Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari Rahimahullah

   ****

Masih terkait dengan hikmah sebelumnya, disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, apabila seorang murid beramal, seperti melaksanakan salat atau yang lainnya, sesungguhnya perbuatan tersebut adalah kehendak dari Allah, hidayah, taufik dan daya upaya dari Allah SWT.

"Dan kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam" (At Takwir: 29).

Artinya tidak akan bisa berkehendak kita untuk salat, kecuali dikehendaki oleh Allah. Kita tidak akan bisa berkehendak untuk bersedekah, kecuali dikehendaki oleh Allah. Demikian pula, tidak akan bisa kita berkehendak menuntut ilmu, kecuali dikehendaki oleh Allah.

"Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu." (As-Saffat: 96)

“Wahai Rasulullah! Tidaklah engkau yang melemparkan itu ketika engkau melempar itu tetapi Allah yang melempar itu.” (Al Anfal:17)

Ini adalah dalil-dalil yang sangat jelas bahwa kita tidak punya daya upaya untuk beramal, kalau tidak ada daya upaya Allah, kita tidak bisa berkehendak untuk beramal kecuali dikehendaki oleh Allah.

Apabila sudah jelas yang demikian, maka bagaimana patut kita menuntut ganjaran atas amalan yang pada hakikatnya kita tidak memiliki daya upaya apapun untuk melakukan amalan itu. 

Dicontohkan, kita diberi seseorang sebuah rumah dengan isinya, lalu yang memberi menyuruh kita ini dan itu, maka kita laksanakan. Apakah dalam hal suruhan ini kita pantas masih meminta upah kepada beliau, sedangkan beliau sudah menjamin tempat tinggal beserta isinya.

Sehingga mengerjakan suatu amalan dan minta ganjaran kepada Allah, berarti kita belum mengenal Allah, kehendak-Nya, taufik hidayah dan daya upaya Allah.

Berarti kita tidak tahu, bahwa yang menggerakan hati kita untuk beramal itu Allah. Tidak tahu bahwa Dia lah yang memberikan daya upaya kepada kita, sehingga bisa beramal.

Cuma terkadang sering kita mengira, bahwa batang tubuh, daya upaya, taufik hidayah serta kehendak untuk beramal, adalah milik kita, sehingga meminta ganjaran kepada Allah dan merasa amal yang kita kerjakan ini memberi manfaat untuk Allah, itu adalah sebuah kejahilan.

Dan orang yang jahil dengan Allah itu berhak disiksa oleh Allah. Namun ternyata Allah tidak menyiksa kita, padahal selama ini kita beramal meminta surga, bahkan Dia menerima amal kita beserta kejahilan kita, maka ketahuilah, itu merupakan anugerah dan kebaiakan yang besar dari Allah.

Sebagaimana disampaikan di atas, hikmah ini masih merupakan kelanjutan daripada hikmah sebelumnya, di mana Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari Rahimahullah menyampaikan, orang yang beramal dan menuntut ganti, upah atau pahala itu adalah orang yang ragu-ragu atas janji Allah.

Karena orang yang yakin dengan janji Allah, dia tidak akan menuntut upah. Contoh, seperti kita memberikan hutang kepada orang yang amanah bayar pada waktunya, tentu kita tidak akan menuntut dikembalikan, karena keyakinan kita.

Demikian pula dengan Allah yang memberikan janji berbagai macam kebaikan bagi orang-orang yang mengerjakan suatu amal. Maka orang yang beramal menuntut ganti atau itu jahil dengan Allah dan dirinya sendiri. Tidak tahu malu kepada Allah. Karena faidah amal itu pasti kembali dengan orang yang beramal itu sendiri sesuai janji-Nya.

Tidak ada sedikit pun faidah ibadah kita untuk Allah. Seandainya seluruh alam semesta ini, dari awal zaman sampai akhir zaman, tidak ada seorang pun yang sujud kepada Allah, sedikit pun tidak akan mengurangi keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan-Nya. 

Maka kita beramal itu bukan untuk Allah tetapi untuk diri kita, kalau kita beramal faidahnya untuk diri kita, apakah kita tidak malu masih minta balasan kepada Allah?

Di dalam hadits disebutkan:

Artinya: “Puasalah kamu niscaya kamu sehat.” Faidah puasa kembali kepada yang puasa.

“Bersedekah lah agar kamu terpelihara dari bala dan bencana.” 

“Shalatlah kamu agar terhapus dosa-dosa kamu.”

Maka amalan itu akan kembali kepada kita, kalau akan kembali kepada kita maka pantas kah kita meminta balasan kepada Allah?

Contoh lagi, seorang dokter berujar kepada pasien untuk berolahraga setiap pagi, maka pasien ini melaksanakan anjuran tersebut dan ia pun mendapatkan kesehatan. Apakah pantas si pasien ini minta upah dengan dokter? Inilah contoh orang yang jahil, karena meminta upah dengan dokter, padahal faidah berolahraga itu untuk dirinya sendiri, bukan untuk dokter.

Jika seluruh amalan faidahnya kembali kepada kita, maka demikian pula, semua maksiat yang dilarang oleh Allah SWT, apapun bentuknya pasti mudarat kepada kita, baik zahir atau batin.

Jadi jelaslah, beramal mengharap sesuatu kepada Allah dengan amal itu adalah suatu kesalahan. Maka kita harus berubah, agar tidak tergolong orang yang jahil, tidak tahu malu kepada Allah dan ragu dengan janji Allah.

Mulai sekarang, kita salat, puasa, bersedekah semata-mata melaksanakan perintah Allah, tidak ada harapan lain dengan salat itu selain keridhaan Allah SWT.

Adapun masalah kita berdoa, meminta surga dan minta perlindungan api neraka, maka sesungguhnya itu juga dalam rangka melaksanakan perintah Allah, mengharap rahmat-Nya, bukan meminta sebagai balasan amal ibadah kita. *

Editor : Arief
#Tarbiyah