Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jujur dalam Amal, Hikmah Al Hikam Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari Rahimahullah

admin • Jumat, 28 November 2025 | 10:28 WIB

 

H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

Oleh: H Muhammad Tambrin

Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

Apabila engkau menuntut upah/pahala untuk suatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut kejujuranmu dalam amal itu. Dan bagi orang-orang yang merasa masih ragu, harus merasa cukup bahwa ia telah mendapat keselamatan.

 

Hikmah ke-118 dari Al Hikam Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari Rahimahullah.

 

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, apabila kita beramal —baik salat maupun ibadah lainnya— lalu hati kita berharap balasan yang akan datang seperti surga dan segala kenikmatannya, atau berharap balasan yang segera di dunia seperti ilmu laduni, kelancaran urusan, kemakmuran, dan keberhasilan hidup; maka ketahuilah, di sanalah letak ujian kejujuran kita dalam beramal.

Seakan-akan Allah menegur kita: “Engkau tidak jujur dalam amalmu itu karena Aku. Engkau beramal demi kepentingan dirimu sendiri, bukan demi menunaikan hak-kehamba­anmu kepada-Ku. Dan engkau telah berdusta dalam ucapmu ‘Lillahi Ta’ala’.”

Karena jika benar karena Allah, kita tidak perlu memandang balasan. Salatlah untuk menunaikan hak Tuhan, sebab Dia memang harus disembah. Puasalah sebagai pemenuhan hak-Nya, dan berzakatlah karena itu kewajiban dari-Nya, bukan agar manfaatnya kembali kepada diri kita.

Orang yang beramal untuk kepentingan dirinya seperti surga, dapat karamat di dunia, maka orang yang demikian itu adalah orang yang ragu-ragu dengan janji Allah, bahwa Allah pasti membalas baginya dengan pahala, ganjaran dunia dan akhirat. Sebab jika Allah sudah berjanji, maka hendaknya kita hanya fokus dengan motivasi menjunjung perintah dan mencari keridhaan Allah. Masalah surga dan keselamatan sudah janji-Nya.

Allah SWT berfirman: Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. (At Thalaq: 2-3). Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (Ali Imran: 120).

Di sini Allah berjanji, bagi orang yang sabar dan takwa, tidak akan memudaratkan, menganggu dan menganiaya manusia lain kepadanya. Tetapi jika kita takwa dan sabar karena terdorong agar selamat, berarti kita ragu-ragu. Maka hendaknya kita takwa semata-mata karena Allah.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. (Al Ahzab: 70-71). “(Surga itu) Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran 133).

Itulah janji Allah, kalau masih mengharap-harap kita, dinamakan ragu-ragu dengan janji Allah itu, dan itu adalah maksiat kepada Allah.

Banyak amalan yang kita terdorong mengamalkan untuk mendapatkan ganjaran di dunia ataupun akhirat, dan itu bertentangan dengan perkataan kita ‘Lillahi Ta’ala’.

Contohnya, salat dhuha pada umumnya mempunyai keutamaan sebagai pembuka rezeki, kemudian kita salat dhuha termotivasi agar luas rezeki. Maka salat dhuha ini tidak ikhlas karena Allah SWT, ragu-ragu akan janji Allah. Sebab Allah sudah berjanji melalui sabda Nabi SAW. “Salat dhuha itu mendatangkan rezeki dan menjauhkan kefakiran.”

Ini bentuk janji Allah. Maka kalau kita salat dhuha jangan lagi termotivasi akan hal itu, fokus saja akan salat dhuha semata-mata menjunjung perintah Allah dan mencari keridhaan Allah.

Demikian juga seperti membaca surah Al-Waqi’ah yang secara umum mempunyai keutamaan orang yang membaca akan diluaskan rezeki. Maka hendaknya kita tidak termotivasi dengan keutamaan yang sudah pasti dijanjikan oleh Allah itu, kita fokus saja dengan semata-mata menjunjung perintah dan mencari keridhaan Allah SWT.

Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam akan dijauhkan kefakiran selama-lamanya.”

Jika kita ragu-ragu dengan janji Allah, beribadah termotivasi surga, maka sesungguhnya kita berhak untuk disiksa oleh Allah dan ketika kita diselamatkan dari siksa, maka itu adalah anugerah dan keuntungan bagi kita.

Sehingga orang yang ikhlas pada amalnya karena Allah, hilang dari hatinya memikirkan balasan dan mencari balasan dari Allah. Karena dia tidak mengharap melainkan semata-mata keridhaan Allah.

Walaupun menurut para ulama, bagi orang awam ketika beribadah ingin surga dan takut neraka, sudah termasuk ikhlas, dan kita tentu tidak ingin hanya menjadi orang yang umum saja, kita mesti ingin jadi orang yang khusus, seorang murid orang yang ingin dicintai, dekat dan dimuliakan oleh Allah. Kita ingin menjadi seperti itu dan syaratnya adalah ibadah kita mesti benar-benar ikhlas kepada Allah.

Selanjutnya, orang yang beramal kerena Allah mengharapkan kebahagiaan dunia akhirat (surga) dengan anugerah dan kebaikan Allah, bukan karena amalnya. Maka orang seperti ini tidak akan merusak keikhlasannya kepada Allah Swt.

Sebab kita diperintahkan meminta surga dan berlindung dari neraka, tapi meminta itu dengan anugerah dan kebaikan Allah bukan karena amal ibadah kita.

Kalau kita minta surga kepada Allah karena amal ibadah kita, maka kita tergolong orang yang ragu-ragu, jelas tidak ikhlas ibadahnya. Semakin banyak kita berharap kepada Allah dengan anugerahnya, itulah perkara yang disukai dan tidak merusak keikhlasan. Sebaliknya yang dicela jika kita meminta dan berharap kepada Allah dengan ibadah dan amal kita.

Editor : Muhammad Rizky
#Tarbiyah