Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Allah Taala telah mengetahui kelemahanmu wahai hamba, maka Dia sedikitkan bilangan salat. Dan Dia mengetahui berhajatnya engkau wahai hamba kepada anugerah-Nya, maka Allah perbanyak pahala-pahala salat itu.”
Hikmah ke-117 Al Hikam Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah
*****
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, Allah mengetahui adanya kelemahan dalam diri hamba, baik karena malas, banyaknya kesibukan untuk penghidupan dan lainnya, maka Allah sedikitkan bilangan-bilangan salat wajib, hanya lima waktu dalam sehari semalaman.
Lima waktu itu sedikit, rakaatnya pun sedikit, subuh hanya 2 rakaat, zuhur dan asar 4 rakaat, maghrib 3 rakaat dan isya 4 rakaat. Allah jadikan susunan ini dengan perbedaan, sedemikian rupa agar hamba selalu dekat dengan Allah, jangan lupa dengan Allah.
Juga agar kita bisa menunaikan salat tanpa mendapati kesusahan dalam ibadah dan tidak luput akan urusan penghidupan. Susunan ibadah seperti ini tidak akan merusak pekerjaan kita, seperti pegawai negeri meninggalkan kerjaan untuk salat tidak akan susah, karena hanya 4 rakaat zuhur dan asar.
Jadi, jumlah rakaat dan waktu yang ditentukan Allah, semua itu mengandung rahasia dan kebaikan yang banyak kepada kita, dan itu semua diketahui oleh orang yang mempunyai mata hati dan penglihatan batin.
Di dalam kitab Iqazul Himam disebutkan: Allah sedikitkan bilangan salat itu serta luasnya masa.”
Kalau kita rata-rata waktu salat hanya 5 menit-an saja lima kali, maka dapat 25 menit. Sedangkan waktu yang diberikan Allah sehari semalam 24 jam. Maka yang tidak meluangkan waktu salat 25 menit saja, sangat durhaka dengan Allah karena kesibukan dan kemalasan.
Dan di antara kemurahan Allah bagi hambanya, salat yang empat rakaat, bisa dipendekkan menjadi 2 rakaat saat musafir. Bayangkan rahmat Allah agar hamba ini jangan jauh dan berpaling dari-Nya. Karena itu berarti berpaling dan menjauh dari sumber kebaikan, kemuliaan, kebehagiaan dan ketenangan.
Allah menjadikan salat di awal siang (subuh) agar kita bersyukur kepada-Nya atas datangnya siang (untuk penghidupan). Hari dimulai dengan ibadah. Waktu subuh juga untuk menambal dari lalainya kita kepada Allah selama tidur.
Dalam kitab Hikmatu Tasyrik disebutkan, saat bangun tidur itu kita masih malas, karena itu Allah hanya mewajibkan 2 rakaat, dan subuh itu sebagai pembuka hari, karena pembuka itu sedikit seperti makanan pembuka, tentunya sedikit. Itulah penjelasan sebagian ahli hikmah.
Allah menjadikan salat atas engkau di tengah siang (zuhur) yang berfungsi memadamkan api neraka yang dinyalakan untuk engkau.
Panasnya zuhur itu merupakan bersangatan panasnya hembusan jahanam, padamkan jahanam itu dengan salat 4 rakaat. Jadi, orang yang meninggalkan salat zuhur itu adalah orang yang membiarkan api neraka tetap berkobar untuk dirinya.
Salat zuhur mestinya juga salat yang dirindukan, karena Allah mewajibkan zuhur setelah 6 jam lamanya dari salat subuh. Maka orang-orang yang cinta kepada Allah dan hubungannya sangat bagus dengan Allah merindukan datangnya zuhur karena lamanya menunggu.
Oleh karena itu, Allah mensyariatkan melalui Rasulullah SAW diadakan salat sunah dhuha, diperuntukan untuk orang-orang yang tidak tahan menahan kerinduan kepada Allah, maka dhuha ini adalah penyangga dan mengurangi kerinduan, sehingga hubungan dengan Allah selalu terjalin.
Allah mewajibkan salat mendekati pulangnya siang. Kalau datangnya disambut dengan salat subuh maka pulangnya diantar dengan salat asar. Salat asar adalah salat yang disaksikan oleh malaikat khusus, karena pada waktu asar itulah malaikat naik kehadirat Allah SWT membawa amal ibadah hamba yang dilakukan pada siang hari.
Begitu malaikat naik, maka Allah Yang Maha Tahu bertanya kepada malaikat: Wahai malaikat-Ku bagaimana kau tinggalkan hamba-hamba-Ku? Malaikat menjawab: kami tinggalkan mereka dalam keadaan salat asar.
Maka salat asar ini menurut sebagian besar para ulama salat paling afdal di antara salat 5 waktu. Sampai-sampai terdapat hadis Nabi yang menyebutkan, “Orang yang tertinggal salat asar ini adalah orang yang dihabiskan segala-galanya.”
Diceritakan, ada seorang yang membunuh anaknya kemudian mayat anaknya disimpan di dalam cuka dan cuka tersebut menjadi cuka najis, kemudian dijualnya cuka itu, banyak dosa yang diperbuatnya. Maka diceritakanlah perbuatan orang tersebut kepada Nabi, beliau berkata: orang tersebut tidak salat asar.
Artinya, orang yang tidak salat asar dapat berbuat apa saja dalam hal kejahatan.
Jadi, salat asar ini diibaratkan dalam hidup kita adalah laksana penutup. Maka orang yang selalu menjaga salat asar pada waktunya itu adalah pertanda alamat orang tersebut akan husnul khatimah. Sebaliknya orang yang melalaikan salat asar itu pertanda suul khatimah.
Karena asar ini penutup siang hari kalau penutup bagus maka penutup umur kita pun bagus.
Kemudian, Allah wajibkan salat di awal masa malam (maghrib) sebagai pembuka malam, oleh karena itu salat maghrib itu fungsinya adalah sebagai penjagaan yang terjadi pada malam hari.
Lalu manakala hendak tidur dan meninggalkan Tuhan bersenang-senang dengan hamparan, Allah wajibkan salat isya 4 rakaat sebagai perpisahan dengan Tuhan.
Salat isya sebagai penutup saat akan tidur dan lupa kepada Allah, maka sebelum lupa ucapkan salam perpisahan dengan salat isya.
Itulah antara lain hikmah Allah menetapkan waktu-waktu salat tadi, yang pada intinya adalah agar kita selalu dekat dengan Allah SWT.
Selanjutnya, Allah mengetahui betapa berhajatnya kita akan anugerah-Nya, maka pahala salat pun dilipatgandakan. Allah gandakan setiap salat itu sepuluh pahalanya, maka lima waktu dilaksanakan menjadi 50 pahalanya. Apabila salatnya berjamaah, maka salat itu dilipatganda lagi menjadi 27 kali.
Tambah lagi ketika salat di tempat khusus, seperti di masjidil Haram 100 ribu kali lipat dan di masjid Nabawi 1000 kali lipat. Apalagi imamnya orang yang mulia, maka kemuliaan imam juga menentukan banyaknya pahala.
Sebagaimana hadits Rasulullah Saw:
“Salat di belakang orang yang diampuni oleh Allah maka Allah mengampuninya juga.”
Maka itulah, imam harus dipilih, karena imam yang menentukan pahala yang di belakang. Kalau imam orang mulia, di belakang juga mulia.
Semakin banyak kebaikan tentu akan membawa keselamatan dan harapan selamat itu ada pada kita dengan menjaga salat lima waktu. Wallahu a’lam *
Editor : Arief