Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sosok Guru Tuha: Hadirkan NU ke Tanah Kalimantan, Wariskan Adab untuk Para Pembelajar

M Fadlan Zakiri • Senin, 17 November 2025 | 10:50 WIB
Syekh Abdul Qadir Hasan atau Guru Tuha
Syekh Abdul Qadir Hasan atau Guru Tuha

Mengulas kembali sosok Guru Tuha, ulama pembawa NU pertama di Kalimantan melalui latar belakang hidup dan karya pentingnya, Mir’atthulab fi Ilmil Adab. Sebuah kitab adab santri yang berasal dari catatan pribadinya dan tetap relevan hingga kini.

                 ******

MARTAPURA - Sosok Guru Tuha, atau Syekh Abdul Qadir Hasan, kembali mendapat perhatian setelah kitab karyanya, Mir’atthulab fi Ilmil Adab, kembali dikaji dan diterbitkan ulang oleh kalangan Nahdlatul Ulama di Kalimantan Selatan.

Kitab adab ini menjadi salah satu peninggalan intelektual penting dari ulama yang berperan besar dalam perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di tanah Banjar. Lahir pada 1881 di Desa Tunggul Irang, Martapura, Syekh Abdul Qadir Hasan, merupakan putra dari KH Hasan.

Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) PCNU Kabupaten Banjar menerbitkan kembali kitab Mir’atthulab fi Ilmil Adab, karya ulama besar Banjar, KH Abdul Qodir bin KH Hasan, atau yang dikenal sebagai Guru Tuha.

Karya ini menjadi sorotan karena bersumber dari kumpulan catatan pribadi sang ulama yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya. Guru Tuha merupakan tokoh penting dalam sejarah keislaman Kalimantan Selatan. Ia dikenal sebagai pembawa ajaran Nahdlatul Ulama pertama di luar Jawa sekaligus Pimpinan keempat Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Salah satu Mustasyar PCNU Banjar, M Zaini, menyampaikan bahwa kitab tersebut dibacakan dalam kegiatan Lailatul Ijtima, agenda rutin PCNU Banjar. Pembacaan dilakukan oleh salah satu buyut Guru Tuha, KH Muhammad Zaki, di Aula Guru Tuha, Gedung NU Martapura.

Ia menilai penerbitan ulang kitab ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi NU. “Kitab ini cerminan seorang santri dalam berperilaku. Disusun dari catatan-catatan Guru Tuha yang diwariskan kepada ahli warisnya,” ujar Zaini, Jumat (14/11) sore.

Menurut Zaini, keberadaan kitab ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan di Banua, tetapi juga menjadi bukti bahwa ulama Banjar sejak dahulu sangat menekankan adab sebagai fondasi ilmu. Karena adab itu lebih tinggi dari ilmu. Ini yang ditekankan Guru Tuha, dan patut diteladani dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Penerbitan ulang kitab Mir’atthulab fi Ilmil Adab kini menjadi tonggak baru upaya pelestarian warisan keilmuan ulama Banjar. “Sekaligus mengingatkan kita, bahwa ajaran adab selalu relevan dari masa ke masa,” ujarnya.

Kiai Zaki mengungkap sejarah ditemukannya kembali tulisan tersebut. Beberapa tahun lalu, ia mendapat kabar dari ustaz Jayadi, seorang ulama yang juga keturunan Guru Tuha, bahwa masih terdapat catatan karya sang ulama yang tersimpan rapi.

Catatan itu berupa buku saku berhuruf Arab Melayu, berisi nasihat adab dan sopan santun. “Saya pinjam untuk dicopy dan ditata ulang agar lebih baik. Dari sanalah kitab Mir’atthulab fi Ilmil Adab diterbitkan ulang,” ujarnya.

Selain Mir’atthulab, terdapat pula karya lain seperti Adaiyah Masrurah wa Masail Maksusah, kumpulan doa dan bahtsul masail beserta jawabannya. Ada juga catatan Muhadasah bahasa Arab berisi sekitar 47 dialog yang diperkirakan ditulis Guru Tuha saat berada di Makkah.

Tulisan-tulisan itu awalnya disimpan oleh putra beliau, ustaz Abdul Hakim bin KH Abdul Qadir Hasan, kemudian diwariskan ke cucunya, ustaz Muhammad Mursyidi, dan akhirnya dijaga oleh buyutnya, ustaz Muhammad Jayadi.

Sosok Guru Tuha

Ia tumbuh di lingkungan yang kuat dengan tradisi keilmuan pesantren, yang kala itu masih menggunakan sistem halaqah, sebelum berkembang menjadi model pendidikan yang lebih terstruktur pada masa penerusnya, KH Kasyful Anwar.

Jejak pendidikan Guru Tuha dimulai dari para ulama lokal seperti Tuan Guru Kasyful Anwar dan Guru Adu. Namun, titik balik penting terjadi ketika Pondok Pesantren Darussalam mendengar kabar berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang oleh Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

KH Kasyful Anwar kemudian mengirim salah satu murid terbaiknya, Abdul Qadir Hasan, untuk menyambung sanad keilmuan langsung kepada pendiri NU tersebut. Di Tebuireng, Guru Tuha tercatat sebagai salah seorang murid kesayangan KH Hasyim Asy’ari.

Ia juga melanjutkan pendalaman ilmu ke berbagai pusat keilmuan lain seperti Madura, berguru kepada Syaikhona Kholil, dan kemudian ke Madrasah Salathiyah di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya ke Martapura, Guru Tuha mengabdikan diri sepenuhnya di Pondok Pesantren Darussalam, menjadi tangan kanan kiai pimpinan pesantren hingga akhirnya memimpin Darussalam pada periode 1940–1959, setelah sang gurunya, Syekh Kasyful Anwar wafat.

Di masa kepemimpinannya, beliau mengirim banyak guru ke berbagai wilayah hingga luar Kalimantan Selatan untuk mendirikan madrasah dan pesantren. Langkah itu menjadi cikal bakal jaringan luas Darussalam hari ini.

Pada masa pendudukan Jepang, ketika pendidikan banyak dihentikan, Guru Tuha tetap mempertahankan proses belajar mengajar dengan membagi kelas di rumah-rumah para guru. Upaya itu terus berjalan hingga Jepang meninggalkan Martapura pada 1945.

Selain berdakwah dan mengajar, Guru Tuha juga tercatat terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.  Salah satu buyut beliau, Guru Zayadi, menyebutkan bahwa KH Abdul Qadir Hasan merupakan bagian dari pasukan gerilya di Tanah Banjar pada masa sebelum Indonesia merdeka. “Ini dibuktikan oleh para khadamnya di Darussalam. Sebelum kemerdekaan, beliau termasuk pasukan perang gerilya,” ungkapnya.

Peran Guru Tuha sebagai pejuang dan tokoh Nahdlatul Ulama di Kalimantan diakui banyak pihak. Almarhum KH Khalilurrahman, Bupati Banjar periode 2016–2021, pernah menegaskan bahwa Guru Tuha termasuk figur sentral yang menghadirkan NU di tanah Banua. “Beliau ini adalah pembawa NU ke Kalimantan. Seorang pejuang, pemimpin, dan murid langsung dari KH Hasyim Asy’ari,” ujar Guru Khalil saat haul ke-43 Guru Tuha pada Maret 2020.

Ketua LTN PCNU Kabupaten Banjar, Muhammad Fahrie (26), yang terlibat langsung dalam proses penerbitan ulang, menceritakan bagaimana kitab tersebut mulanya hanya dipelajari di lingkup keluarga. “Kitab ini adalah kumpulan catatan Guru Tuha selama menuntut ilmu yang disimpan oleh salah satu buyut beliau,” ujarnya saat ditemui Jumat (14/11) malam.

Awalnya, kitab ini hanya pegangan internal untuk diajarkan dinkalangan para zuriat Guru Tuha. Hingga akhirnya muncul inisiatif mencetak ulang muncul dari salah satu ahli waris, Guru Zaki.

Manuskrip-manuskrip yang sebelumnya hanya menjadi warisan keluarga diubah menjadi bentuk buku agar dapat dipelajari lebih luas. “Sepengetahuan saya, keputusan menerbitkan kembali kitab ini lahir dari kesepakatan pengurus NU Banjar. Dalam Lailatul Ijtima, kami ingin memakai kitab karya ulama NU, khususnya tokoh Martapura yang menjadi penggerak NU di Tanah Banjar,” jelas Fahrie.

Kini, sebanyak 150 eksemplar Mir’atthulab fi Ilmil Adab telah dicetak dan digunakan sebagai pegangan resmi dalam kegiatan Lailatul Ijtima yang digelar PCNU Banjar setiap bulan. “Penentuan kitab yang dibahas dalam forum itu diputuskan melalui musyawarah Dewan Syuriah dan Tanfidziyah,” ujarnya.

Isi kitab tersebut sebagian besar memuat pelajaran akhlak, mulai adab seorang santri kepada gurunya, adab anak kepada orang tua, tata krama generasi muda kepada yang lebih tua, hingga pedoman etika bagi mereka yang memegang pangkat atau jabatan. “Dari situlah nama kitab itu diambil. Mir’atthulab fi Ilmil Adab, cermin bagi para pembelajar,” katanya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Tokoh #Nahdlatul Ulama #Pesantren #Banjar #nu #santri